triggernetmedia.com – Gubernur Kalimantan Barat H. Sutarmidji, menjadi narasumber pada Kegiatan Focus Group Discussion dengan tema “Ketahanan Energi Nasional Dalam Mendukung Industrialisasi Pulau Kalimantan”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua DPD Republik Indonesia, H. AA La Nyalla M. Mattalitti. di Aula IAIN Pontianak, Senin (14/6/2021).
Dalam Forum ini, Gubernur Kalbar mengungkapkan dalam kurun satu tahun telah mengekspor 26 juta ton bauksit. Bauksit merupakan bahan baku untuk alumina ataupun alumunium, tetapi di dalam bauksit tersebut ada yang dinamakan tanah jarang.
“Tanah jarang ini digunakan untuk bahan baku komponen utama dari baterai, mobil listrik, dan lainnya. Untuk mengolah bauksit menjadi alumina dibutuhkan energi dengan harga kurang lebih tujuh sen dollar. kalau sampai dibeli harganya 15 sen dollar, itu tidak akan ekonomis dan tidak akan bisa bersaing,” ungkapnya.
Tidak hanya bauksit, sambungnya, Kalbar juga memiliki uranium termasuk yang terbaik setelah Provinsi NTT. Provinsi Kalbar memiliki sumber energi yang besar dan murah untuk mengolah sumber daya alam yang ada.
“Kalbar tidak hanya bauksit, tetapi kita (Kalbar)memiliki uranium yang cadangannya cukup besar. Tanpa itu, saya rasa masyarakat melalui industri apapun sulit untuk bersaing karena hampir tidak ada industri tidak menggunakan energi termasuk industri rumah tangga,” ujarnya.
Sutarmidji berharap, energi seperti nuklir dan panel surya bisa menjadi pilihan dan digunakan sebagai bentuk pertumbuhan energi di Kalbar.
“Mudah-mudahan nuklir dan panel surya menjadi pilihan dan segera direalisasikan sebagai sumber energi untuk pertumbuhan Kalbar,” harapnya.
Sutarmidji menambahkan, Kalbar dapat mengolah sumber daya alam menjadi bahan setengah jadi dan tidak hanya mengekspor bahan mentah saja. Maka Kalbar dapat menyumbangkan PDRB terbesar di Pulau Kalimantan.
“Kalau kita mempunyai energi yang baik dan mengolah sumber daya alam kita menjadi bahan setengah jadi dan tidak diekspor bahan mentah semua, maka Kalbar bisa menyumbang PDRB terbesar di Pulau Kalimantan,” tandasnya.
Ketua DPD RI, AA La Nyalla M. Mattalitti mengatakan, energi memegang peranan yang sangat penting bagi kemajuan perekonomian. Berbagai hasil pembangunan menjadi tidak optimal tanpa ketersediaan energi yang mencukupi.
“Saat ini cadangan bahan bakar minyak Indonesia rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 20 hari. Tentunya ini sangat rawan bagi sebuah ketahanan energi,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, struktur Indonesia masih lemah karena mengandalkan komoditas sumber daya alam, padahal kekayaan yang sesungguhnya bagi sebuah bangsa adalah terletak pada kualitas sumber daya manusia.
“Dengan demikian, jika Kalbar ingin maju, maka mari kita desain kemajuan itu dengan mengandalkan kualitas sumber daya manusia,” ujar La Nyalla.
Saat ini di Indonesia beroperasi beberapa kontraktor minyak asing. Para kontraktor asing tersebut menguasai sekitar 65 persen, atau 329 blok migas. Sementara perusahaan nasional hanya menguasai 24,27 persen, dan selebihnya adalah patungan antara perusahaan asing dan nasional.
“Para kontraktor asing hanya wajib menyetor 25 persen dari hasil produksi mereka untuk kebutuhan domestik. Kondisi ini jelas merugikan Indonesia sebagai pemilik cadangan migas. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ketahanan energi Indonesia sangat rentan,” jelasnya.
La Nyalla menginginkan adanya terobosan bagi Kalbar yang dikenal sebagai provinsi yang merupakan pusat industri nasional, lumbung pangan, pusat riset dan pendidikan, serta memiliki kekayaan sumber daya alam yang tinggi.
“Saya ingin ada terobosan Provinsi Kalbar untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan secara berkelanjutan. Saya mendukung penggunaan sumber daya energi dalam skala besar termasuk energi nuklir,” sebutnya. (*)



