Terkuak! Eks Pejabat MA Nurhadi Terima Fee Urus Perkara Cerai di Tingkat PK

Trigger Netmedia - 11 Februari 2021
Terkuak! Eks Pejabat MA Nurhadi Terima Fee Urus Perkara Cerai di Tingkat PK
Tersangka kasus dugaan suap gratifikasi senilai Rp46 miliar, eks Sekretaris MA, Nurhadi - (Suara.com/Alfian Winanto)

triggernetmedia.com – Saksi Direktur PT Benang Warna Indonusa Freddy Setiawan mengungkap bahwa eks Sekretaris Mahkamah Agung/MA Nurhadi diduga kecipratan fee dalam urus perkara perceraian ditingkat Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung.

Hal itu diungkap Freddy dalam kesaksianya untuk terdakwa Nurhadi dan menantunya dalam kasus suap dan gratifikasi sejumlah perkara di Mahkamah Agung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Rabu (10/2/2021).

Berawal Jaksa Penuntut Umum atau JPU dari KPK, menanyakan saksi apakah pernah mengurus perkara perceraiannya dengan mantan istrinya Cendrawati Gunawan.

Saksi Freddy pun menjawab bahwa ia memang meminta bantuan kepada Rahmat Santoso adik ipar Nurhadi untuk membantu mengurus perkaranya itu. Apalagi, perkara perceraian Freddy sampai upaya hukum PK terkait mengurus harta ‘gono gini’ dengan mantan istrinya.

Jaksa KPK pun kembali menanyakan apakah pernah saksi juga ditawarkan Rahmat adanya pejabat di MA dapat membantu perkara PK-nya itu.

“Apakah juga ada kenalan Rahmat di MA?” tanya Jaksa dalam persidangan.

“Saya sudah lupa siapa,” jawab Freddy.

Kemudian, Jaksa KPK pun mengingatkan saksi Freddy dengan membaca BAP miliknya ketika proses penyidikan di KPK.

“Saya ingatkan di BAP saudara saksi poin 2. Rahmat Santoso juga mengatakan kenalannya di MA punya jabatan tinggi dapat membantu saya gugatan PK saya. Karena Rahmat Santoso juga menyampaikan kepada saya, Rahmat Santoso bisa memenangkan perkara dengan meminta kepada pejabat di MA tersebut,” isi BAP saksi Freddy.

“Benar ada penyampaian dari Pak Rahmat ini,” tanya Jaksa.

Mendengar BAP milik-nya itu, Freddy pun tak membantah adanya pejabat MA yang ingin membantu perkaranya itu.

“Ya pernah,” jawab Freddy.

Jaksa KPK pun sempat menegaskan saksi Freddy. Apakah kenalan Rahmat Santoso di MA apakah terdakwa Nurhadi.

“Apa menyebutkan nama Pak Nurhadi?” tanya Jaksa lagi.

Jawaban, Freddy pun mengaku lupa siapa yang akan dikenalkan Rahmat seorang pejabat MA itu. Jaksa pun kembali membeberkan BAP milik saksi Freddy. Bahwa adanya pertemuan dengan Rahmat dirumah saksi Freddy.

“Poin 3 ya BAP saudara, pertemuan ketiga sampai kelima sekitar 2014 di rumah saya beralamat di Jl Maulana Yusuf Nomor 14 Rt4/Rw4 Kelurahan Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung. H Rahmat Santoso kembali meyakinkan saya bahwa Rahmat Santoso bisa membantu saya memenangkan perkara peninjauan kembali (PK) terkait harta gono gini dengan mantan istri saya Cendrawati Gunawan, Rahmat Santoso mengatakan kepada saya bahwa mempunyai keluarga di MA yang bernama Nurhadi yang dapat membantu saya memenangkan perkara tersebut. Saat itu Rahmat Santoso menyebut bahwa Nurhadi Sekretaris MA RI yg mempunyai pengaruh dapat memenangkan perkara di MA,” isi BAP saksi Freddy.

Diingatkan BAP-nya kembali, Freddy pun membenarkan.

“Betul,” jawab Freddy.

Freddy pun menjelaskan bahwa telah memberi uang kepada Rahmat untuk dapat membantu perkaranya itu dalam beberapa tahap.

Jaksa KPK pun terus mengingatkan BAP milik saksi Freddy. Bahwa adanya uang yang juga diberikan kepada Nurhadi.

“Saya bantu ingatkan kembali, bagian akhir poin ketiga bahwa nantinya ada uang Rp 21 miliar tersebut ada bagian nantinya akan diberikan kepada Nurhadi sebagai fee pemenangan perkara saya di MA?” tanya Jaksa.

Freddy pun tak mengetahui berapa fee pasti yang diterima Nurhadi dalam membantu perkaranya itu. Lantaran Freddy mengetahui uangnya hanya diserahkan kepada Rahmat.

“Iya ada ngomong, tapi tidak ngomong angkanya (fee diterima ke Nurhadi),” jawab Freddy.

Jaksa pun kembali meyakinkan saksi Freddy berapa total keseluruhan uang yang diberikan kepada Rahmat. Apakah total mencapai Rp23 miliar.

“Iya (total keseluruhan Rp 23 miliar),” tutur Freddy.

Perkara perceraian dalam mengurus harta gono gini hingga sampai ke Peninjauan Kembali terjadi pada 2015. Dimana saksi Freddy mengaku menang dalam perkara itu.

Dalam dakwaan Jaksa KPK, Nurhadi dan Rezky didakwa menerima suap sebesar Rp45,7 miliar dari Dirut PT MIT, Hiendra Soenjoto.
Uang suap diterima Nurhadi itu untuk membantu perusahaan Hiendra melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN).

Selain suap, Nurhadi juga didakwa menerima uang gratifikasi mencapai Rp 37,2 miliar. Uang gratifikasi itu, diterima Nurhadi melalui menantunya Rezky dari sejumlah pihak.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Nurhadi dan Riezky didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

 

Sumber : Suara.com

 

 

Tinggalkan Komentar

Terkini

Info Terbaru Kartu Prakerja Gelombang 18: Kuota, Syarat dan Tata Cara Registrasi

Info Terbaru Kartu Prakerja Gelombang 18: Kuota, Syarat dan Tata Cara Registrasi

Headline   Kesra   Nasional   News   Pelayanan Puplik
Hari Ini Eks Mensos Juliari akan Digugat Warga Korban Korupsi Bansos Corona

Hari Ini Eks Mensos Juliari akan Digugat Warga Korban Korupsi Bansos Corona

Headline   Kesra   Nasional   News   Sorotan   Sospolhukam
Hasil Copa America 2021: Venezuela Tahan Imbang Ekuador 2-2

Hasil Copa America 2021: Venezuela Tahan Imbang Ekuador 2-2

Headline   Internasional   News   Sepak Bola   Sport
Kasus Aktif Naik, Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Indonesia Juga Menurun

Kasus Aktif Naik, Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Indonesia Juga Menurun

Headline   Kesehatan   Nasional   News   Sorotan
Timnas Basket Indonesia Hantam Thailand di Kualifikasi FIBA Asia Cup 2021

Timnas Basket Indonesia Hantam Thailand di Kualifikasi FIBA Asia Cup 2021

Headline   Internasional   Kabar Arena   News   Sport
Penjelasan Jokpro Soal Gagasan Presiden Tiga Periode

Penjelasan Jokpro Soal Gagasan Presiden Tiga Periode

Headline   Nasional   News   Politik   Sorotan
Alasan Pemerintah Tak Terapkan Lockdown, Satgas Covid-19: Substansi Sama Dengan PPKM Mikro

Alasan Pemerintah Tak Terapkan Lockdown, Satgas Covid-19: Substansi Sama Dengan PPKM Mikro

Headline   Kesehatan   Nasional   News   Sorotan   Sospolhukam
MPR Desak Pemerintah Tunda Gelaran Pembelajaran Tatap Muka

MPR Desak Pemerintah Tunda Gelaran Pembelajaran Tatap Muka

Headline   Kesehatan   Nasional   News   Pendidikan   Sorotan   Sospolhukam
Pabrik Amunisi di Serbia Meledak, Tiga Karyawan Luka-luka

Pabrik Amunisi di Serbia Meledak, Tiga Karyawan Luka-luka

Headline   Internasional   News   Sorotan   Sospolhukam
Mantan Presiden Iran Sebut Pemilihan Presiden Kesalahan dan Tak Dukung Kandidat

Mantan Presiden Iran Sebut Pemilihan Presiden Kesalahan dan Tak Dukung Kandidat

Headline   Internasional   News   Sorotan   Sospolhukam

SITE LOCATION REKLAME

Streaming triggernetmedia.com