banner 468x60 banner 468x60 banner 468x60

Lama terbengkalai, Pasar Desa Paal menanti sentuhan Panji

Trigger Netmedia - 19 Juli 2019
Lama terbengkalai, Pasar Desa Paal menanti sentuhan Panji
 - ()

triggernetmedia.com – Warga Desa Paal di Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi mengaku prihatin atas keberadaan pasar tradisional yang dibangun pemerintah. Alih-alih dapat difungsikan, pasar itu kini justru dimanfaatkan segelintir oknum yang dinilai memberi kesan yang tidak baik.

“Saya dan warga desa pernah memergoki oknum warga yang tengah berbuat mesum di lokasi pasar. Tidak hanya sekali, tapi kejadian itu sudah seringkali berulang,” ungkap warga desa, Taufik Maulana.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Melawi, Ramdha Suhaimi mengungkapkan pasar tradisional di Desa Paal sudah lama terlantar.

“Hal itu mungkin dikarenakan kondisi pasarnya yang jauh dari pusat perekonomian masyarakat sehingga minat pedagang tidak ada,” ujar Ramdha.

Ramdha mengatakan pasar adalah tempat pertemuan antara penjual dan pembeli.
Namun, apa jadinya jikalau ada penjual, tapi tidak ada pembeli.

“Kasihan si penjualnya kan. Bisa tekorlah mereka,” timpalnya.

Meski demikian, lanjutnya, bukan berarti Pemkab Melawi tidak serius dalam memikirkan nasib bangunan tersebut agar dapat segera difungsikan.

Salah satu rencana kita adalah dengan memindahkan steigher ke Desa Paal dekat dengan Pasar tradisional.

“Sehingga aktivitas menjadi ramai. Dan secara perlahan geliat pasar pun akan hidup,” ujarnya.

Ramdha menyebut perlu sinergis antar intansi terkait untuk bersama-sama memikirkan dan mencari solusinya. Baik itu masalah sarana dan prasarana pendukung pasar. Seperti air dan listrik.

“Pak Bupati kita beberapa bulan lalu telah serius menyikapi hal tersebut, dan yang jelas, pasar tetap kita fungsikan, hanya saja kita juga perlu sinergis dengan instansi terkait mencarikan solusi bersama. Jadi butuh waktu,” tegasnya.

Sukiman Zeen, warga Desa Paal meminta Pemerintah Kabupaten Melawi serius memperhatikan persoalan pasar tradisional yang sudah lama dibiarkan terlantar begitu saja, hingga tak terkesan mubazir dalam pembangunannya.

“Bayangkan saja hampir 9 tahun dibiarkan, jadinya ya begiru kondisinya. Kios dan lapak pedagang tidak terurus,” kritiknya.

“Selain banyak dek bangunan yang hancur, di bagian lantai atas, kios dan lapak juga banyak yang rusak,” timpal Sukiman.

Pasar tradisional di Desa Paal, Nanga Pinoh dibangun pemerintah sejak tahun 2010 menggunakan dana APBN senilai Rp4,9 milyar. Pasar tersebut dibangun terdiri dari dua lantai, dan pada lantai satu terdapat 50 lapak, yang dulunya direncanakan untuk pedagang basah seperi pedagang daging.

Sedangkan pada lantai kedua terdapat sebanyak 20 kios untuk pedagang pakaian, elektronik, dan jenis dagangan kering lainnya.

Pewarta : Dea
Editor : Ariz

Tinggalkan Komentar

SITE LOCATION REKLAME

Streaming triggernetmedia.com