triggernetmedia.com – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji meminta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) ditinjau kembali agar tidak menjadi kendala bagi industri dalam negeri, khususnya sektor manufaktur yang berorientasi ekspor.
Menurut Sarmuji, standardisasi diperlukan untuk menjaga kualitas produk sekaligus melindungi konsumen. Namun, penerapannya juga perlu mempertimbangkan kebutuhan industri yang menggunakan bahan baku atau komponen tertentu untuk menghasilkan produk ekspor.
“SNI memang penting untuk supaya industri kita makin berkualitas, makin sesuai dengan harapan masyarakat, konsumen juga dilindungi. Itu pentingnya SNI. Tapi SNI juga bisa menjadi technical barrier untuk produk-produk dari luar,” kata Sarmuji di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Ia menjelaskan, satu jenis produk dapat memiliki fungsi berbeda dalam rantai industri. Produk yang dijual langsung kepada konsumen belum tentu memiliki fungsi yang sama ketika digunakan sebagai komponen dalam proses produksi manufaktur.
Sarmuji mencontohkan produk ban yang dipasarkan untuk kebutuhan penggantian ban kendaraan, tetapi juga digunakan sebagai komponen dalam pembuatan mobil yang ditujukan untuk pasar ekspor.
“Misalkan ban, ban itu satu sisi itu untuk konsumen, orang mau ganti ban dan lain sebagainya. Tapi di satu sisi dia adalah bahan produksi untuk menciptakan mobil, yang mobil itu orientasinya ekspor,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan fungsi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam penerapan aturan standardisasi. Pemerintah perlu memilah kebutuhan standardisasi produk yang dipasarkan langsung kepada konsumen dengan komponen yang digunakan untuk mendukung proses produksi industri.
Sarmuji menegaskan, kebijakan SNI harus tetap mendukung peningkatan kualitas produk dan perlindungan konsumen tanpa mengurangi kemampuan industri nasional untuk bersaing di pasar internasional.
Karena itu, ia meminta penerapan SNI dievaluasi secara cermat agar tidak justru menjadi hambatan teknis bagi industri dalam negeri.
“Itu harus kita lihat lagi supaya jangan sampai SNI justru menjadi technical barrier bagi industri kita sendiri. Nah, itu ada yang harus kita pilah-pilah benar,” pungkasnya.











