triggernetmedia.com – Masih banyak penyandang diabetes yang merasa cemas, takut, bahkan menolak saat dokter menyarankan terapi insulin. Padahal, kekhawatiran tersebut umumnya dipicu oleh kurangnya informasi yang benar serta berbagai mitos yang masih berkembang di masyarakat.
Akibatnya, tidak sedikit pasien yang menunda penggunaan insulin meski kondisi kesehatannya sudah memerlukan terapi tersebut. Penundaan ini dapat menyebabkan kadar gula darah tetap tinggi dan meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti kerusakan ginjal, gangguan penglihatan, penyakit jantung, hingga kerusakan saraf.
Perawat Mardiana, S.Tr.Kep mengatakan terdapat sejumlah anggapan keliru yang kerap membuat pasien enggan menggunakan insulin. Salah satunya adalah anggapan bahwa insulin dapat menyebabkan ketergantungan.
“Ini merupakan mitos. Insulin bukan obat yang menimbulkan kecanduan. Insulin adalah hormon alami yang diproduksi tubuh. Ketika tubuh tidak lagi mampu menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup atau insulin tidak bekerja secara optimal, maka insulin dari luar diperlukan untuk membantu mengendalikan kadar gula darah,” jelasnya saat memberikan edukasi kepada komunitas diabetes di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Jumat (24/7/2026).
Mardiana juga meluruskan anggapan bahwa penggunaan insulin menandakan diabetes sudah berada pada tahap yang sangat parah. Menurutnya, persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Dokter, kata dia, memberikan terapi insulin berdasarkan kondisi medis masing-masing pasien, bukan semata-mata karena penyakit sudah berat. Pada beberapa kasus, insulin justru diberikan sejak awal pengobatan agar kadar gula darah lebih cepat terkendali sehingga dapat mencegah kerusakan organ tubuh.
Selain itu, banyak pasien merasa takut karena harus menyuntikkan insulin setiap hari. Padahal, teknologi saat ini telah menghadirkan jarum insulin yang sangat kecil dan tipis sehingga rasa nyeri saat penyuntikan umumnya sangat minimal.
“Dengan teknik penyuntikan yang benar, penggunaan insulin dapat dilakukan dengan aman, nyaman, dan tidak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya.
Mitos lain yang masih sering ditemui adalah anggapan bahwa insulin dapat merusak ginjal. Menurut Mardiana, hal tersebut juga tidak benar.
Sebaliknya, kadar gula darah yang tidak terkontrol dalam jangka panjang justru menjadi penyebab utama kerusakan ginjal, mata, jantung, dan saraf. Terapi insulin berfungsi membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sehingga risiko terjadinya komplikasi dapat ditekan.
Ia mengingatkan bahwa menolak atau menunda penggunaan insulin tanpa alasan medis dapat berdampak serius. Gula darah yang terus tinggi akan merusak pembuluh darah dan berbagai organ tubuh secara perlahan hingga akhirnya menurunkan kualitas hidup, bahkan dapat mengancam keselamatan pasien.
“Karena itu, apabila dokter menyarankan penggunaan insulin, sebaiknya pasien berdiskusi secara terbuka mengenai kekhawatiran yang dimiliki. Tenaga kesehatan akan memberikan penjelasan mengenai manfaat, cara penggunaan, serta langkah-langkah agar terapi insulin dapat dijalani dengan aman,” pungkasnya.











