triggernetmedia.com – Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Fithra Faisal Hastiadi, menyebut perekonomian Indonesia saat ini menghadapi empat tekanan sekaligus atau quadruple whammy. Kondisi tersebut, menurut dia, tercermin dari sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan perlambatan.
“Kita melihat data-data terakhir menghadirkan kekhawatiran. Ini bukan hanya triple, tetapi quadruple whammy,” kata Fithra dalam Bisnis Indonesia Forum di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Fithra menjelaskan, tekanan pertama berasal dari neraca perdagangan yang kembali mencatat defisit sebesar 1,6 miliar dollar AS setelah menikmati surplus sejak pertengahan 2020. Defisit dipicu pelebaran defisit migas hingga 3,8 miliar dollar AS dan penurunan ekspor nonmigas sebesar 4,5 persen.
Tekanan kedua datang dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang turun ke level 46,9 atau berada di bawah ambang ekspansi 50. Menurut Fithra, kondisi itu menunjukkan pelaku industri mulai menahan ekspansi akibat meningkatnya biaya produksi, terutama dari sektor energi.
Indikator ketiga adalah inflasi yang naik dari 3,08 persen menjadi 3,34 persen. Kenaikan ini, kata dia, menandakan tekanan di tingkat produsen mulai diteruskan kepada konsumen.
Sementara itu, tekanan keempat berasal dari turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menjadi 117,8 dari sebelumnya 120,9. Penurunan tersebut mencerminkan melemahnya optimisme masyarakat terhadap prospek ekonomi.
Untuk meredam dampak perlambatan, pemerintah menyiapkan sejumlah intervensi dari sisi penawaran (supply-side intervention). Pada semester II, pemerintah mengalokasikan paket stimulus senilai Rp26,34 triliun, termasuk Rp2 triliun untuk sektor transportasi dan produksi hulu.
Pemerintah juga memangkas harga gas industri menjadi maksimal 13 MMBTU dari sebelumnya sempat mencapai 23 MMBTU. Selain itu, tarif impor untuk sejumlah bahan baku dan komponen produksi strategis, seperti plastik, dibebaskan.
“Melalui langkah-langkah fiskal ini, pemerintah berupaya meringankan beban biaya produsen agar kontraksi industri dapat ditekan dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah ketidakpastian global,” ujar Fithra.










