triggernetmedia.com – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus, meski nilainya menyusut tajam dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan impor yang didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi dan produksi domestik menjadi faktor utama penyebab penyempitan surplus tersebut.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 mencatat surplus sebesar 0,09 miliar dolar AS. Angka itu lebih rendah dibandingkan surplus Maret 2026 yang mencapai 3,32 miliar dolar AS.
“Surplus nonmigas sebesar 3,53 miliar dolar AS masih mampu menutup defisit migas sebesar 3,44 miliar dolar AS,” kata Budi dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).
Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatat surplus 5,64 miliar dolar AS. Namun, capaian tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 11,07 miliar dolar AS.
Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai 25,30 miliar dolar AS atau naik 12,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 21,98 persen secara tahunan. Kenaikan terutama ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 13,66 persen.
Beberapa komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi antara lain kopi, teh, dan rempah-rempah, tembakau dan rokok, kayu dan barang dari kayu, serta lemak dan minyak hewani maupun nabati.
Menurut Budi, peningkatan ekspor juga didorong oleh membaiknya permintaan dari sejumlah negara tujuan utama. Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, dan Belgia menjadi negara dengan pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi pada April 2026.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia mencapai 25,21 miliar dolar AS atau naik 31,28 persen dibandingkan Maret 2026 dan meningkat 22,49 persen dibandingkan April tahun lalu.
Kenaikan impor terjadi pada seluruh kelompok barang, baik barang konsumsi, bahan baku dan penolong, maupun barang modal.
Budi menjelaskan peningkatan impor barang modal didorong oleh masuknya berbagai komoditas strategis seperti komputer, pesawat udara, mesin industri, peralatan pengolahan suhu, hingga mobil listrik.
Meski surplus perdagangan menyusut, Indonesia masih mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.



