triggernetmedia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi pada perdagangan Senin (16/3/2026), tertekan oleh sentimen global dan kekhawatiran kondisi fiskal domestik. Berdasarkan data Phintraco Sekuritas, IHSG ditutup di level 7.022, turun 1,61 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Analis Phintraco Sekuritas menyebutkan, pelemahan pasar saham dipengaruhi beberapa faktor negatif, antara lain kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memicu inflasi, serta kekhawatiran pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Menjelang libur panjang, investor cenderung bersikap lebih hati-hati,” tulis riset tersebut.
Secara sektoral, sektor teknologi mengalami koreksi terdalam, sementara sektor keuangan justru mencatat penguatan terbesar pada hari ini. Nilai tukar rupiah turut melemah, ditutup di Rp16.997 per dolar AS di pasar spot.
Dari pasar global, sebagian besar indeks saham Asia bergerak di zona merah, seiring kenaikan harga minyak mentah dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$100 per barel setelah Presiden AS Donald Trump mengancam serangan militer terhadap Pulau Kharg di Iran, pusat distribusi minyak utama negara tersebut.
Di sisi lain, data ekonomi Tiongkok menunjukkan perbaikan. Produksi industri tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada Januari–Februari 2026, naik dari 5,2 persen pada Desember 2025. Penjualan ritel juga meningkat menjadi 2,8 persen, dari sebelumnya 0,9 persen.
Volume perdagangan hari ini mencapai 17,62 miliar saham dengan nilai transaksi Rp8,22 triliun dan frekuensi 1,01 juta kali. Sebanyak 176 saham naik, 564 saham turun, dan 218 saham tidak bergerak. Saham top gainers antara lain PDSN, ROCK, INTD, FISH, dan TRIN, sementara top losers meliputi SMLE, POLA, RONY, DPUM, dan NZIA.




