triggernetmedia.com – Perkembangan motorik kasar menjadi indikator awal yang penting dalam memantau tumbuh kembang anak, terutama pada usia 0–2 tahun.
Melalui kemampuan dasar seperti berguling, duduk, merangkak, hingga berjalan, potensi gangguan perkembangan dapat dikenali sejak dini.
Fisioterapis RSUD SSMA Kota Pontianak, Erwinda Cintia Pinantri, mengatakan setiap tahapan perkembangan memiliki rentang usia yang perlu dipahami orang tua.
“Keterlambatan yang signifikan bisa menjadi sinyal adanya gangguan tumbuh kembang,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Secara umum, bayi mulai mengangkat kepala pada usia 3 bulan, duduk di usia 6 bulan, merangkak pada 8–10 bulan, dan berjalan pada usia 12–15 bulan.
Tanda lain yang patut diwaspadai antara lain tubuh anak yang terlalu kaku atau lemas, sulit menjaga keseimbangan, serta gerakan yang tampak tidak terkoordinasi.
Menurut Erwinda, deteksi dini menjadi kunci utama penanganan gangguan perkembangan. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang dilakukan intervensi seperti fisioterapi atau stimulasi tumbuh kembang.
Ia menambahkan, keterlambatan motorik dapat dipengaruhi kurangnya stimulasi, gangguan saraf dan otot, kondisi prematur, serta faktor gizi dan lingkungan.
Aktivitas sederhana seperti tummy time dan bermain aktif dinilai efektif membantu memperkuat otot dan koordinasi anak.
“Motorik kasar bukan sekadar kemampuan bergerak, tetapi jendela awal untuk memastikan anak tumbuh sehat dan berkembang optimal,” katanya.

