triggernetmedia.com – Dokter muda, Saffana Fadhilla Ramadhina, memberikan edukasi tentang Tuberculosis (TBC) pada anak-anak di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Senin, (4/12).
Dalam penyuluhan tersebut, ia menyoroti fakta bahwa Indonesia kini berada di peringkat kedua dengan jumlah penderita TBC terbanyak di dunia.
“TBC adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini dapat menginfeksi sebagian besar paru-paru dan organ lain di luar paru, seperti pleura, kelenjar limfa, tulang, dan organ lainnya,” paparnya.
Menurutnya, kasus TBC di Indonesia telah naik sebesar 17 persen dari tahun 2020. Namun, ia juga menyampaikan bahwa 86 persen kasus TBC dapat diatasi dengan pengobatan yang tepat.
Saffana memberikan imbauan kepada masyarakat agar waspada terhadap gejala TBC pada anak-anak, seperti batuk dan demam yang berlangsung lebih dari 2 minggu, penurunan berat badan yang tidak normal selama 2 bulan berturut-turut, serta gejala yang persisten meskipun sudah mendapat terapi.
“Pemeriksaan TBC dapat dilakukan melalui tes mantoux dan rontgen dada. Pengobatan TBC pada anak berlangsung selama enam bulan, terbagi menjadi tahap awal selama dua bulan dan tahap lanjutan selama empat bulan,” jelasnya.
Untuk mencegah penularan TBC, Saffana menyarankan agar menghindari kontak langsung dengan penderita TBC.
Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan membuka jendela rumah untuk mendapatkan sinar matahari dan udara segar, berolahraga secara teratur, melakukan imunisasi BCG, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, dan menjaga kondisi tempat tidur agar tidak lembab.
“Kuman TBC dapat menular melalui droplet di udara ketika penderita TBC batuk, bersin, bicara, tertawa, atau bernyanyi,” tambahnya.



