triggernetmedia.com – Penjabat Gubernur Kalimantan Barat, Harisson, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi, Ignasius, serta Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi, Harry Ronaldi Mahaputrawan, mengikuti Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Muhammad Tito Karnavian, secara daring di Data Analytic Room Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Senin (9/10).
Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia menjelaskan bahwa inflasi di Indonesia saat ini relatif terkendali di angka 2,28% year-on-year (y-o-y), tetapi peringatkan agar tidak terlena karena angka Mount to Mount dan angka dari bulan Desember masih mengalami kenaikan.
Produk-produk yang mengalami kenaikan harga termasuk beras, bawang putih, dan gula pasir, meskipun harga beras dan gula pasir masih dalam kendali pemerintah.
“Sebanyak 286 dari 512 Kabupaten/Kota di Indonesia mengalami rata-rata harga komoditas di atas harga jual pemerintah,” ungkap Tito.
Mendagri RI juga menyampaikan bahwa puncak El Nino terjadi di bulan Oktober, yang dapat menyebabkan kekeringan di daerah selatan meskipun telah terjadi hujan.
Upaya intervensi telah dilakukan, termasuk bantuan pangan dari pemerintah pusat kepada lebih dari 21 juta keluarga penerima manfaat, serta bantuan keluarga berupa telur dan daging ayam ras untuk memerangi stunting dan kekurangan gizi pada anak.
Pemerintah pusat juga mendukung distribusi dan pemenuhan stok komoditas seperti beras dan jagung.
Mendagri RI meminta kepada daerah untuk menggenjot aktivitas belanja tidak terduga pada bulan Oktober dan November untuk melakukan gerakan pasar murah dan bantuan pangan kepada masyarakat tidak mampu secara masif, guna menekan kenaikan harga.
Modifikasi cuaca, termasuk hujan buatan, juga direncanakan untuk mengatasi kekeringan dan Karhutla.
“Selain itu, akan dilakukan Rakor khusus untuk rekonsiliasi data antara stakeholder seperti Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional, BPS, Kementerian Perdagangan RI, dan Bulog untuk memastikan ketepatan data produksi beras,” tambah Tito.
Pada kesempatan tersebut, Penjabat Gubernur Kalimantan Barat, Harisson, menyatakan bahwa inflasi di Kalimantan Barat telah turun dari peringkat 8 tertinggi di Indonesia menjadi peringkat ke-19.
Namun, ada peningkatan harga beras di beberapa daerah, terutama di Putussibau, yang akan dikoordinasikan untuk mencegah kenaikan harga tersebut.
“Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi tanggung jawab Bulog, yang telah membagikan SPHP kepada keluarga prioritas sasaran untuk menekan inflasi dan memastikan ketersediaan beras di pasaran,” jelas Harrison.
Stok beras di Kalimantan Barat dinyatakan cukup aman hingga bulan Desember dengan kisaran harga Rp. 11.500 hingga Rp. 18.000.
“Selain beras, daging ayam ras dan cabe rawit juga mengalami kenaikan harga karena permasalahan ketersediaan pakan ternak,” tutupnya.



