triggernetmedia.com – Anggapan bahwa gigi susu tidak perlu dirawat karena akan tanggal dan digantikan gigi permanen masih kerap dijumpai di kalangan orang tua. Padahal, kesehatan gigi susu memiliki pengaruh penting terhadap tumbuh kembang anak, mulai dari kemampuan mengunyah dan berbicara hingga pertumbuhan gigi permanen.
Dokter gigi Beatrice Faustina Andry menjelaskan, gigi susu berfungsi membantu anak mengunyah makanan, mendukung perkembangan kemampuan berbicara, menjaga bentuk wajah, serta mempertahankan ruang bagi gigi permanen agar dapat tumbuh pada posisi yang tepat.
Karena itu, kerusakan pada gigi susu tidak boleh dianggap sebagai masalah sepele. Salah satu gangguan yang sering terjadi adalah karies atau gigi berlubang. Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa sakit dan mengganggu aktivitas anak, termasuk saat makan, tidur, maupun berkonsentrasi dalam belajar.
“Mengabaikan kesehatan gigi susu dapat menimbulkan berbagai masalah, salah satunya karies atau gigi berlubang. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan rasa sakit, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas anak, seperti makan, tidur, hingga berkonsentrasi saat belajar,” jelasnya ketika memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Selasa (3/11/2026).
Beatrice menambahkan, kerusakan gigi yang tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi infeksi dan memengaruhi jaringan di sekitar gigi. Bahkan, gigi susu yang tanggal terlalu dini akibat kerusakan dapat menyebabkan ruang bagi pertumbuhan gigi permanen berkurang.
Untuk mencegah hal tersebut, perawatan gigi perlu dimulai sejak gigi pertama anak tumbuh. Orang tua dianjurkan membiasakan anak menyikat gigi minimal dua kali sehari, yakni setelah sarapan dan sebelum tidur malam.
Pemilihan pasta gigi juga perlu disesuaikan dengan usia anak. Pasta gigi berfluorida dapat membantu memperkuat lapisan email dan mencegah gigi berlubang. Untuk anak berusia di bawah tiga tahun, jumlah pasta gigi yang digunakan cukup sebesar sebutir beras. Sementara anak usia tiga hingga enam tahun dianjurkan menggunakan pasta gigi sebesar biji kacang polong.
Selain kebiasaan menyikat gigi, pola konsumsi anak juga perlu mendapat perhatian. Konsumsi makanan manis, seperti permen dan cokelat, serta minuman tinggi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko kerusakan gigi.
“Selain menjaga kebersihan gigi, orang tua juga perlu memperhatikan pola konsumsi makanan dan minuman anak. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis, permen, cokelat, serta minuman tinggi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya kerusakan gigi. Membatasi konsumsi gula dan membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan gigi,” imbuhnya.
Beatrice juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan gigi secara berkala. Anak sebaiknya mulai diperkenalkan ke dokter gigi sejak gigi pertama tumbuh atau paling lambat ketika berusia satu tahun. Dengan pemeriksaan rutin, gangguan kesehatan gigi dapat diketahui lebih awal dan segera mendapatkan penanganan.
Dalam membangun kebiasaan merawat gigi, keterlibatan orang tua menjadi faktor utama. Pendampingan saat anak menyikat gigi, pemberian contoh perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengalaman positif ketika mengunjungi dokter gigi dapat membantu anak lebih terbiasa menjaga kesehatan gigi dan mulut.
“Dengan demikian, gigi susu bukan sekadar gigi sementara yang dapat diabaikan. Keberadaannya merupakan bagian penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Menjaga kesehatan gigi susu berarti turut mempersiapkan kesehatan gigi permanen di masa mendatang,” pungkasnya.










