triggernetmedia.com – Pemerintah Kota Pontianak memperkuat tata kelola risiko banjir melalui pendekatan berbasis data, perencanaan jangka panjang, serta pelibatan masyarakat. Langkah ini ditempuh untuk menghadapi risiko banjir yang meningkat akibat perubahan iklim dan karakteristik geografis kota pesisir.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan wilayahnya rentan terhadap banjir rob karena berada di dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut laut dan curah hujan tinggi. Pada Desember 2025, sejumlah kawasan tercatat mengalami banjir rob hingga dua kali dengan ketinggian air hampir dua meter.
“Air laut kerap masuk ke rumah warga di bantaran Sungai Kapuas dan banjir bisa berlangsung beberapa hari berturut-turut,” kata Edi dalam peluncuran kajian kerugian banjir secara aktuaria di Pontianak, 15 Januari 2026.
Untuk memperkuat perencanaan berbasis bukti, Pemkot Pontianak bekerja sama dengan mitra akademik melalui Proyek FINCAPES yang didukung Global Affairs Canada. Pada 2024–2025, proyek ini menghasilkan peta bahaya banjir dan skenario perubahan iklim yang disusun oleh TDMRC Universitas Syiah Kuala.
Studi lanjutan kini dilakukan untuk menghitung potensi kerugian finansial akibat banjir dengan metode pemodelan bencana. Kajian aktuaria tersebut dikerjakan oleh Departemen Aktuaria Universitas Gadjah Mada dengan melibatkan Universitas Tanjungpura dalam pengumpulan data.
Principal Investigator FINCAPES dari Universitas Waterloo, Prof. Stefan Steiner, mengatakan analisis aktuaria diperlukan untuk mengukur dampak nyata banjir terhadap keuangan kota, bukan hanya tingkat paparan wilayah.
Selain kajian teknis, pemerintah kota juga mendukung peningkatan kesadaran publik melalui pendekatan komunitas. Yayasan Kolase menggelar program Photovoice yang melibatkan warga kawasan rawan banjir untuk mendokumentasikan dampak banjir melalui foto dan cerita.
Hasilnya dipresentasikan dalam kegiatan Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak pada 15–16 Januari 2026 di Pontianak Tenggara sebagai ruang dialog antara warga, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil.
Pendekatan berbasis data dan partisipasi warga ini diharapkan dapat memperkuat perencanaan ketahanan Kota Pontianak dalam menghadapi risiko banjir di masa depan.




