triggernetmedia.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kebijakan mandatori biodiesel B40 berhasil menghemat devisa negara hingga Rp130,21 triliun sepanjang 2025. Program campuran 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar ini dinilai memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan impor bahan bakar minyak.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, implementasi B40 berdampak signifikan terhadap penurunan impor solar. Pada 2024, impor solar masih berada di kisaran 8,3 juta ton, sementara pada 2025 turun menjadi sekitar 5 juta ton.
“Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton,” ujar Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM 2025 di Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan data ESDM, konsumsi biodiesel domestik sepanjang 2025 mencapai 14,2 juta kiloliter (kL). Angka ini melampaui target Indikator Kinerja Utama (IKU) sebesar 13,5 juta kL atau setara 105,2 persen.
Selain menghemat devisa, program B40 juga dinilai memberikan dampak positif terhadap pengembangan industri sawit dan pengurangan emisi. Pemerintah menargetkan peningkatan mandatori biodiesel menjadi B50 pada semester II 2026.
Bahlil optimistis impor solar dapat dihentikan sepenuhnya pada 2026, seiring peningkatan bauran biodiesel dan beroperasinya proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur.
“Kalau B50 kita pakai dan RDMP di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026,” kata Bahlil.




