Relawan organisasi kemanusiaan MER-C, Fikri Rofiul Haq mengatakan, banyak korban jiwa kemudian korban luka-luka yang digunakan dilarikan ke RS Indonesia oleh sebab itu rumah sakit hal tersebut merupakan satu-satunya rumah sakit dengan prasarana yang cukup memadai di dalam Gaza utara.
“RS Indonesia merupakan rumah sakit terbesar dalam Gaza utara, sehingga banyak korban luka-luka maupun meninggal dilarikan ke sini,” kata Fikri saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (4/11/2023).
Namun, RS Indonesia di area Jalur Gaza saat ini sedang mengalami krisis energi akibat tak adanya aliran listrik. RS itu sekarang ini cuma mengandalkan dua generator untuk menjalankan kegiatannya.
Sayangnya, satu dari dua generator hal tersebut rusak, sedangkan satu generator yang dimaksud masih berfungsi terkendala pasokan unsur bakar yang mana terbatas.
Terbatasnya komponen bakar disebabkan oleh blokade Israel yang dimaksud menghasilkan pasokannya tidaklah dapat masuk ke Jalur Gaza.
“RS Indonesia sebenarnya mempunyai panel surya, tetapi itu belaka bisa jadi menyala siang hari dan juga kekuatan listriknya tak sanggup menghidupkan semua (peralatan rumah sakit), sehingga satu generator itu selalu menyala 24 jam,” tutur Fikri.
Dia mengatakan, saat ini ada lebih besar dari 2.000 orang yang mana mengungsi di dalam RS Indonesia.
Setidaknya 1.300 tambahan korban jiwa, 60-80 persen di area antaranya adalah anak-anak dan juga perempuan, sudah dibawa ke RS itu kemudian lebih banyak dari 4.000 korban luka-luka saat ini dirawat pada sana.
Fikri mengatakan jumlah total korban luka-luka yang mana sangat banyak menimbulkan merek harus dirawat di area lorong-lorong rumah sakit.
Kementerian Kesehatan dalam Gaza mengatakan konflik Palestina-Israel telah lama menewaskan lebih besar dari 10.800 orang, termasuk 9.227 warga Palestina.
Pengepungan Jalur Gaza oleh Israel juga sudah menciptakan pasokan kebutuhan pokok seperti makanan, air, juga obat-obatan semakin menipis. (Sumber: Antara)





