banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600

Dewas: TVRI Diprotes karena Tayangkan Discovery Channel Ketimbang Banjir

Ketua Dewan Pengawas (Dewas) TVRI Arief Hidayat Thamrin saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum, di Ruang Rapat Komisi I DPR RI, Kompleks Parlemen RI Senayan, Jakarta, Selasa (21/1/2020). (Antara).
banner 468x60

triggernetmedia.com – Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI ternyata pernah diprotes oleh masyarakat karena lebih memprioritaskan penayangan konten asing ketimbang menyiarkan bencana banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya pada awal tahun ini.

Adanya protes tersebut diketahui dari pengakuan Ketua Dewan Pengawas LPP TVRI Arief Hidayat Thamrin saat rapat dengan Komisi I DPR membahas pemecatan Helmy Yahya dari kursi Direktur Utama TVRI.

Saat itu, kata Arief, TVRI dikritik karena lebih mengedepankan tayangan hasil pembelian hak siar milik Discovery Channel.

“Sempat ketika ada banjir, kami sedang menayangkan Discovery Channel, ini kami dapat protes dari publik, ‘Kok banjir-banjir, Dicovery Channel-nya tayang terus, enggak peduli banjir’. Ini sangat miris, kami sudah tegur, ternyata direksi melanjutkan,” ujar Arief, Selasa (21/1), dinukil dari laman suara.com.

Baca juga  Debat Pemahaman dan Pencegahan Korupsi di Warkop Kejari Ketapang 

Sebelumnya, Arief sempat membeberkan tayangan Liga Inggris menjadi salah satu penyebat Helmy Yahya dipecat sebagai Dirut TVRI.

Selain Liga Inggris, tayangan asing yang juga disoroti olehnya karena disiarkan di TVRI, yakni Discovery Channel. Alasannya adalah, TVRI memprioritaskan program-program pendidikan.

“Tupoksi TVRI sesuai visi misi adalah televisi publik. Kami bukan swasta, jadi yang paling utama adalah edukasi, jati diri, media pemersatu bangsa, prioritas programnya juga seperti itu. Realisasinya sekarang kita nonton Liga Inggris. Mungkin banyak yang suka,” ujar Arief dalam rapat dengan Komisi I DPR RI, Selasa.

Arief mengatakan, Dewas TVRI juga mengkritik kerja sama dengan Discovery Channel. Sama seperti Liga Inggris, tayangan dari saluran media asing itu tak cocok dengan visi misi TVRI.

Baca juga  Soal Kisruh Pencopotan Helmy Yahya dari Dirut TVRI, Ini Kata DPR

“Kita menonton buaya di Afrika, padahal buaya di Indonesia barang kali akan lebih baik.”

Ketidakselarasan TVRI dengan produk asing tersebut juga tak sebatas konten yang tidak nasionalis.

Arief juga menyinggung soal larinya uang negara ke luar negeri lantaran harus membayar hak penayangan kepada pihak terkait.

“Kemudian siaran film asing cukup banyak, ada yang bayar, ada gratis. Seolah-olah direksi mengejar rating dan share seperti TV swasta. Kami kan pakai APBN, membayar keluar negeri seperti ke BWF, Discovery Channel, Liga Inggris. Artinya APBN dibelanjakan keluar.”

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.