triggernetmedia.com – Bupati Landak, dr. Karolin Margret Natasa menyatakan sangat mendukung dan menyambut baik rencana dihapuskannya Ujian Nasional (UN) yang akan diganti dengan sistem lain oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim. Wacana penghapusan UN tersebut akan dilakukan mulai tahun 2021 mendatang.
“Harus diakui, Ujian Nasional selama ini masih menuai polemik, kontroversi dan biaya yang lumayan besar, sehingga langkah Menteri Pendidikan Nadiem membuat terobosan dengan mengganti sistem UN kami apresiasi dan yang terpenting hal tersebut menunjang kualitas pendidikan indonesia semakin baik,” kata Karolin di Ngabang, Senin (16/12).
Menurut Karolin, bahwa penghapusan UN akan mengurangi motivasi belajar para siswa. Namun, pihaknya mendukung kebijakan Mendikbud Nadiem Makarim, karena sistem UN belum dirasakan pas untuk mengukur hasil belajar siswa.
Bupati Karolin berharap agar sistem baru itu nantinya harus dipersiapkan dengan baik dan disosialisasikan terlebih dahulu. Sehingga kebijakan bidang pendidikan tidak boleh terkesan hanya coba-coba, melainkan harus dipikirkan dengan melibatkan seluruh pihak dalam upaya kita untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul.
“Selain kebijakan tentang UN kami juga berharap pak Nadiem untuk melakukan berbagai pembenahan sistem pendidikan, agar pendidikan di negeri ini bisa semakin baik dan generasi penerus kita bisa mampu bersaing dengan negara maju lainnya menjadikan SDM yang unggul,” ujarnya.
Seperti diketahui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nadiem Makarim mengumumkan Ujian Nasional (UN) akan dihapus pada 2021 mendatang. Dia menyebut Ujian Nasional yang selama ini menjadi salah satu standar kelulusan siswa akan dilaksanakan terakhir kali pada 2020.
Nadiem menyampaikan itu dalam rapat koordinasi bersama Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Rabu (11/12).
Menurut Nadiem, Ujian Nasional dianggap kurang ideal untuk mengukur prestasi belajar. Materi UN juga terlalu padat, sehingga cenderung berfokus pada hafalan, bukan kompetensi. Nadiem juga menyebut ujian nasional yang digelar di akhir jenjang sekolah banyak membuat siswa cenderung stress.
“Ini sudah menjadi beban stress antara guru dan orangtua. Karena sebenarnya ini berubah menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu,” kata Nadiem.
Nadiem mengungkapkan beberapa pertimbangan untuk mengganti UN dengan sistem Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Hal yang paling utama karena ujian nasional selama ini dinilai banyak bermasalah.
“Penyelenggaraan UN tahun 2021, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter,” sebut Nadiem.
Adanya keputusan tersebut tentu menimbulkan pro dan kontra publik. Banyak publik menganggap penghapusan Ujian Nasional adalah hal yang benar, karena UN tidak memberikan dampak yang positif bagi perkembangan siswa.
Ariz




