triggernetmedia.com – Kisah Pilu yang diceritakan oleh Fitri Yani tentang pengalaman adiknya yang gagal diterima oleh tiga SMA Negeri tahun ini di Pontianak, Kalimantan Barat, karena sistem zonasi cukup menggambarkan tantangan yang dihadapi beberapa calon siswa dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Meskipun rumah mereka hanya berjarak 1,1 kilometer dari sekolah terdekat, yakni SMAN 2 Pontianak, Fitri menyatakan bahwa adiknya tidak diterima karena kuota sekolah tersebut telah penuh.
Fitri juga menjelaskan bahwa mereka tidak dapat memilih untuk mendaftarkan adiknya ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Pontianak, yang juga cukup dekat, karena aturan PPDB terbaru tidak memperbolehkan siswa mendaftar pada jenjang yang berbeda.
Hal ini menyebabkan kebingungan bagi mereka karena kurangnya informasi yang diterima terkait PPDB Kalbar.
Selain itu, Fitri juga menyebutkan bahwa sang adik sebenarnya memiliki peluang masuk sekolah melalui jalur prestasi karena meraih peringkat kedua di sekolahnya.
Namun, mereka tidak mengetahui bahwa jalur prestasi ditutup lebih awal karena kurangnya sosialisasi mengenai PPDB.
Karena tidak diterima melalui jalur zonasi, adik Fitri belum diterima di sekolah negeri manapun, padahal pembelajaran akan segera dimulai.
Keluarga tidak berani mendaftarkan adiknya ke sekolah swasta karena terkendala masalah biaya, akibatnya, adiknya menjadi sangat sedih bahkan kesulitan makan karena sulit menerima kenyataan bahwa dia mungkin tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
“Dari kemarin makan aja harus dibujuk, adik itu rajin belajar, sekolah dapat ranking, tapi pas mau masuk SMA dia ditolak sana sini,” tambah Fitri.
Ia berharap bahwa penambahan kuota zonasi yang dikabarkan akan dilakukan dapat segera diumumkan untuk memberikan harapan kepada adiknya.
Fitri juga menyatakan bahwa dia lebih setuju jika calon siswa diterima di sekolah berdasarkan jalur nilai daripada zonasi, karena menurutnya zonasi memberatkan calon siswa.
Dia berpendapat bahwa siswa seharusnya bersaing berdasarkan prestasi mereka, dan jika mereka tidak lulus karena nilai, itu akan lebih dapat diterima daripada situasi saat ini.
“Biarkan mereka siswa yang berlomba-lomba dengan nilai mereka, kalau pun mereka gugur (tidak lolos) karena nilai, itu setidaknya tidak sekecewa saat ini,” pungkasnya.
sumber berita: berbagai sumber





