triggernetmedia.com – Hasil studi opinion leaders yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan Mahfud MD memperoleh skor rata-rata kualitas kepemimpinan tertinggi di antara 31 tokoh yang dinilai, yakni 7,6 pada skala 0 hingga 10.
Sementara itu, Dedi Mulyadi memperoleh skor 7,0. Presiden Prabowo Subianto meraih skor 5,1, sedangkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendapat skor 4,4.
Hasil studi yang dilakukan pada September 2026 tersebut disampaikan pendiri SMRC, Saiful Mujani, dalam pemaparan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Penilaian melibatkan 200 opinion leader, yang terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang dan 34 jurnalis. Para responden diminta menilai 31 tokoh berdasarkan sejumlah aspek kualitas kepemimpinan.
Daftar Skor Kualitas Kepemimpinan 31 Tokoh
Berdasarkan hasil studi SMRC, berikut skor rata-rata kualitas kepemimpinan para tokoh:
- Mahfud MD: 7,6
- Basuki Tjahaja Purnama: 7,0
- Anies Baswedan: 7,0
- Dedi Mulyadi: 7,0
- Zainal Arifin Mochtar: 7,0
- Pramono Anung Wibowo: 7,0
- Sri Mulyani Indrawati: 6,9
- Ganjar Pranowo: 6,8
- Retno Marsudi: 6,8
- Usman Hamid: 6,7
- Sherly Tjoanda Laos: 6,7
- Bivitri Susanti: 6,7
- Saldi Isra: 6,7
- Feri Amsari: 6,7
- Agus Harimurti Yudhoyono: 6,5
- Megawati Soekarnoputri: 6,4
- Sudirman Said: 6,3
- Sukidi: 6,3
- Yusril Ihza Mahendra: 6,0
- Ubedilah Badrun: 5,9
- Andika Perkasa: 5,9
- Surya Paloh: 5,7
- Gatot Nurmantyo: 5,4
- A. Muhaimin Iskandar: 5,4
- Puan Maharani: 5,3
- Almuzzammil Yusuf: 5,3
- Prabowo Subianto: 5,1
- Zulkifli Hasan: 4,9
- Bahlil Lahadalia: 4,9
- Gibran Rakabuming Raka: 4,4
- Kaesang Pangarep: 4,0
Aspek Kepemimpinan Prabowo dan Gibran
Saiful menjelaskan, salah satu aspek dengan skor terendah Prabowo adalah komitmen terhadap profesionalisme TNI dan Polri, yakni 4,2. Nilai tersebut sama dengan skor Kaesang Pangarep dan menjadi yang terendah di antara seluruh tokoh pada aspek itu.
Padahal, sebanyak 84 persen opinion leader menilai komitmen untuk membatasi TNI pada fungsi pertahanan serta Polri pada fungsi keamanan dan ketertiban masyarakat sebagai kriteria yang sangat penting bagi calon presiden.
Pada aspek lainnya, Prabowo memperoleh skor 4,9 untuk empati, 5,1 untuk kapabilitas, 5,3 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, 5,5 untuk kemampuan memimpin, serta 5,8 untuk sikap pluralis-inklusif.
Adapun Gibran memperoleh skor 3,7 untuk kapabilitas atau kompetensi. Nilai tersebut menjadi skor terendah kedua setelah Kaesang yang mendapat 3,3.
Pada aspek lain, skor Gibran berkisar dari 4,0 untuk integritas hingga 5,1 untuk sikap pluralis-inklusif. Ia juga mendapat skor 4,2 untuk empati, 4,3 untuk kemampuan memimpin, 4,5 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri, dan 4,7 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif.
Mahfud MD Unggul di Sejumlah Aspek
Dalam studi tersebut, Mahfud MD dinilai sebagai tokoh dengan kualitas kepemimpinan demokratik-transformatif tertinggi. Ia memperoleh skor tertinggi pada sejumlah aspek, termasuk kapabilitas sebesar 7,6, empati 7,3, sikap pluralis-inklusif 7,7, kemampuan memimpin 7,6, serta komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri 7,8.
Untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, Mahfud meraih skor 7,7 dan menempati posisi kedua, sedikit di bawah Retno Marsudi yang memperoleh 7,8.
Sementara itu, Dedi Mulyadi menonjol pada aspek empati, sikap pluralis-inklusif, dan kemampuan memimpin.
Dedi meraih skor 7,1 untuk empati, menempati posisi kedua setelah Mahfud yang mendapat 7,3. Pada aspek pluralis-inklusif, Dedi memperoleh skor 7,2 dan berada di posisi kedua bersama Zainal Arifin Mochtar.
Dalam aspek kemampuan memimpin, yang mencakup kemampuan bekerja, bersikap tegas, dan mengambil keputusan, Dedi mendapat skor 7,3. Nilai tersebut menempatkannya di posisi ketiga setelah Mahfud MD dengan skor 7,6 dan Basuki Tjahaja Purnama dengan skor 7,4.
Pada aspek lainnya, Dedi memperoleh skor 6,7 untuk kapabilitas atau kompetensi, 6,8 untuk komitmen terhadap politik luar negeri bebas aktif, dan 6,5 untuk komitmen terhadap profesionalisme TNI-Polri.
“Pemilih pada umumnya tidak cukup punya informasi untuk menilai calon presiden secara mendalam. Karena itu kami bertanya kepada kelompok yang relatif lebih tahu tentang tokoh-tokoh ini. Penilaian mereka diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemilih agar memilih pemimpin yang bervisi demokratik-transformatif,” jelas Saiful.
Metode dan Keterbatasan Studi
Studi ini melibatkan 200 opinion leader, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang, seperti politik dan pemerintahan, filsafat, sejarah, agama, budaya, sosiologi, antropologi, ekonomi, pembangunan, sains, teknik, komunikasi, hukum, dan psikologi. Sebanyak 34 responden lainnya merupakan jurnalis.
Karena tidak tersedia daftar populasi opinion leader secara nasional, responden tidak dipilih secara acak. SMRC menggunakan teknik snowballing, terutama melalui media massa nasional dan daerah.
Dengan metode tersebut, temuan studi bersifat deskriptif dan mencerminkan penilaian responden yang berpartisipasi, bukan gambaran seluruh populasi opinion leader di Indonesia.
Sebanyak 149 responden bersedia namanya dipublikasikan. Para responden memberikan penilaian terhadap 31 tokoh menggunakan skala 0 hingga 10.







