triggernetmedia.com – Persepsi masyarakat yang menilai Indonesia sedang bergerak ke arah yang benar mengalami penurunan tajam. Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, penilaian positif tersebut kini berada di angka 48 persen, turun 35 poin persentase dibandingkan Oktober 2024 yang mencapai 83 persen.
Pendiri SMRC, Saiful Mujani, menilai hasil survei tersebut menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera melakukan perbaikan. Meski belum menunjukkan ancaman nyata, penurunan persepsi publik dapat mencerminkan meningkatnya pesimisme, kekecewaan, dan berkurangnya harapan masyarakat terhadap kondisi negara.
“Iya. Jadi ini peringatan yang sangat keras,” kata Saiful Mujani, Selasa (13/10/2026).
Menurut Saiful, kekecewaan masyarakat saat ini masih berada pada tingkat kognitif dan psikologis. Artinya, kondisi tersebut tercermin melalui penilaian negatif, pesimisme, dan ketidakpuasan terhadap pemerintah, tetapi belum tentu berkembang menjadi ancaman nyata.
“Kecewa gitu ya, itu bisa. Tapi belum ancaman secara riil,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ancaman nyata dapat muncul apabila kemarahan dan kekecewaan masyarakat berkembang menjadi gerakan massa atau gejolak sosial yang meluas. Karena itu, pemerintah perlu membaca penurunan persepsi publik sebagai sinyal yang harus ditindaklanjuti sebelum ketidakpuasan semakin membesar.
Saiful menekankan pentingnya langkah konkret untuk memperbaiki keadaan sekaligus memulihkan optimisme masyarakat. Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kebijakan dan kinerja yang dijalankan mampu membangun kembali keyakinan publik bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
“Ya, artinya ya pemerintah atau kita semuanya adalah harus berupaya memperbaiki keadaan. Supaya opini di masyarakat lebih optimis, lebih baik gitu loh. Dari 47 (persen) harus naik, beberapa bulan ke depan menjadi di atas 50 (persen),” kata Saiful.
Persepsi Positif Turun 35 Poin Persentase
Dalam survei terbarunya, SMRC mencatat hanya 48 persen responden yang menilai Indonesia sedang menuju ke arah yang benar. Angka ini merosot 35 poin persentase dibandingkan hasil survei Oktober 2024, ketika persepsi positif masih mencapai 83 persen.
Temuan tersebut dipaparkan Saiful Mujani dalam program Bedah Politik bertajuk “Dua Tahun Prabowo: Publik Nilai Indonesia ke Arah yang Salah” yang disiarkan melalui kanal YouTube SMRC TV pada Selasa (13/10/2026).
“Penurunan persepsi positif arah negara ini terbesar sepanjang 25 tahun terakhir,” kata Saiful dalam pemaparannya.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu mengaitkan penurunan persepsi positif dengan merosotnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja presiden. Selain itu, kondisi sosial-ekonomi, politik, dan penegakan hukum juga dinilai mengalami penurunan tajam.
Temuan ini menunjukkan pentingnya perhatian terhadap persepsi publik sebagai salah satu indikator untuk memahami penilaian masyarakat terhadap arah dan kondisi negara. Namun, persepsi mengenai arah negara perlu dibedakan dari ukuran lain, seperti tingkat kepuasan terhadap presiden maupun penilaian atas kondisi ekonomi dan penegakan hukum.
Survei Libatkan 1.213 Responden
Survei SMRC dilaksanakan pada 1–10 Oktober 2026 dengan populasi seluruh warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum, yakni berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Pengambilan sampel dilakukan melalui dua kelompok berdasarkan kepemilikan telepon seluler. Pada kelompok pemilik telepon seluler, sebanyak 1.013 responden dipilih secara acak menggunakan metode double sampling dan diwawancarai melalui telepon.
Sementara itu, kelompok warga yang tidak memiliki telepon seluler diwakili 200 responden yang dipilih menggunakan metode stratified multistage random sampling. Wawancara terhadap kelompok ini dilakukan secara tatap muka.
Dengan demikian, total responden yang diwawancarai mencapai 1.213 orang. SMRC memperkirakan margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, dengan asumsi simple random sampling.
Hasil survei tersebut menjadi catatan bagi pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan dan kinerja yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Upaya memperbaiki kondisi sosial-ekonomi, politik, dan penegakan hukum dinilai penting untuk menjawab kekecewaan publik serta membangun kembali optimisme terhadap arah Indonesia ke depan.










