triggernetmedia.com – Hasil riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengenai dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencatat adanya kecenderungan perubahan pilihan politik di kalangan responden yang sebelumnya memilih Prabowo.
Dalam survei tersebut, sebanyak 55 persen responden yang merupakan pemilih Prabowo pada pemilihan sebelumnya menyatakan tidak akan kembali memilihnya pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Sementara itu, 27 persen mengaku masih akan memilih Prabowo, sedangkan 19 persen lainnya belum menentukan pilihan.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memaparkan temuan itu dalam peluncuran laporan Rapor 2 Tahun Prabowo-Gibran yang berlangsung secara virtual, Minggu (11/10/2026).
“Jadi jika ada pilpres mendatang, 55 persen itu bilang bahwa tidak akan memilih kembali Prabowo, dan 27 persen yang menjawab akan memilih kembali. Sisanya 19 persen tidak tahu,” ujar Bhima.
Selain mengukur kecenderungan pilihan politik, CELIOS mengevaluasi kinerja pemerintahan berdasarkan penilaian masyarakat umum dan kalangan ahli. Dalam hasil riset tersebut, kinerja Presiden Prabowo memperoleh skor 2,8 dari skala 10 berdasarkan penilaian para ahli. Sementara itu, masyarakat umum memberikan skor 4,6 dari skala yang sama.
Survei yang melibatkan 1.122 responden itu juga menggali respons masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Hasilnya, 75 persen responden mengaku merasa stres akibat kebijakan pemerintah, sedangkan 67 persen menyatakan stres terkait perilaku dan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo.
Temuan tersebut menjadi bagian dari evaluasi CELIOS terhadap persepsi publik atas kebijakan dan kepemimpinan nasional selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Kriteria Pemimpin yang Diharapkan pada 2029
CELIOS turut memetakan karakteristik pemimpin nasional yang diharapkan masyarakat dan kalangan ahli menjelang Pilpres 2029. Dalam penilaian kelompok ahli, komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil, dan penegakan hak asasi manusia menjadi sejumlah kriteria penting.
Para ahli juga menyoroti integritas dalam pemberantasan korupsi, serta kemampuan teknokratik dan penguasaan substansi kebijakan publik sebagai bekal untuk memimpin pemerintahan.
Adapun masyarakat umum lebih menekankan pentingnya sosok pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi rakyat. Komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi dan pemberantasan korupsi juga menjadi pertimbangan dalam menentukan figur pemimpin yang diharapkan.
Dari sisi latar belakang calon, sebanyak 38 persen responden menginginkan presiden yang bukan berasal dari kader partai politik. Selain itu, karakteristik seperti religiusitas dan usia muda turut menjadi pilihan responden.
Sebaliknya, latar belakang sebagai pengusaha dan penampilan fisik yang menarik tercatat sebagai kriteria yang paling sedikit dipilih.
Hasil riset ini memberikan gambaran mengenai penilaian responden terhadap kinerja pemerintahan sekaligus harapan mereka terhadap calon pemimpin nasional pada 2029. Angka-angka tersebut perlu dipahami dalam konteks kelompok responden dan metode survei yang digunakan CELIOS, bukan sebagai gambaran otomatis dari seluruh pemilih di Indonesia.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai hasil studi, analisis kebijakan, dan dinamika opini publik nasional. Seluruh rincian persentase, angka penilaian, dan kutipan pernyataan disadur secara presisi dari rilis laporan resmi riset Center of Economic and Law Studies (CELIOS).











