triggernetmedia.com – Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pengasuhan di Sekolah Rakyat menyusul kejadian yang melibatkan siswa di Pati, Jawa Tengah, dan Mamuju, Sulawesi Barat. Kedua peristiwa tersebut telah mendapatkan penanganan dan menjadi perhatian untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusdiklatbangprov Kemensos, Afrizon Tandjung, mengatakan penanganan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan serta kepentingan anak. Siswa yang mengalami luka telah mendapatkan perawatan medis, sementara pihak sekolah berkoordinasi dengan orang tua untuk mencari penyelesaian yang tepat.
Afrizon menjelaskan, siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang berbeda-beda. Ketika mulai tinggal bersama di asrama, mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan memahami perbedaan di antara sesama siswa.
Dalam proses tersebut, interaksi yang tidak berjalan baik dapat memicu kesalahpahaman. Meski demikian, setiap persoalan harus ditangani secara serius, terutama jika sampai mengakibatkan siswa mengalami luka.
“Ada kesalahpahaman di antara siswa yang memiliki kebiasaan dan latar belakang berbeda. Dalam interaksi antarsiswa terjadi kontak yang mengakibatkan adanya luka. Anak yang mengalami luka sudah mendapatkan penanganan dari tim medis,” kata Afrizon, Sabtu (10/10/2026).
Ia menyebutkan, komunikasi antara sekolah dan orang tua terus dilakukan untuk menemukan solusi terbaik bagi anak-anak yang terlibat. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memastikan persoalan diselesaikan secara tepat tanpa mengabaikan hak dan masa depan siswa.
“Sekolah dan orang tua sedang berkomunikasi untuk mencari solusi terbaik. Kami ingin semua persoalan ditangani dengan baik, dengan tetap mengutamakan perlindungan dan kepentingan anak,” ujarnya.
Afrizon menekankan bahwa perbedaan latar belakang maupun kebiasaan tidak dapat menjadi alasan untuk membenarkan tindakan yang menyebabkan siswa terluka. Karena itu, sistem pendampingan dan pengawasan di lingkungan sekolah berasrama perlu terus diperkuat.
“Kejadian ini tentu menjadi bahan evaluasi sekaligus penguatan langkah-langkah pencegahan. Kami akan terus mencari jalan keluar, memperbaiki sistem pengawasan, dan meningkatkan kualitas pengasuhan agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Sekolah Rakyat tidak hanya ditujukan untuk memberikan akses pendidikan, tetapi juga membentuk karakter dan mengembangkan kemampuan sosial anak. Siswa perlu dibimbing agar mampu membangun hubungan yang sehat, menghargai perbedaan, dan hidup berdampingan secara harmonis.
Dalam hal ini, tenaga pendidik, wali asuh, dan wali asrama memiliki peran penting untuk mendampingi siswa selama menjalani proses adaptasi. Pengawasan yang memadai diperlukan agar setiap persoalan dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
“Anak-anak ini sedang belajar hidup bersama, belajar memahami perbedaan, dan membangun kebiasaan baru. Tugas kita adalah membimbing mereka dengan sabar, sekaligus memastikan lingkungan sekolah tetap aman dan nyaman bagi semuanya,” kata dia.
Selain itu, Afrizon meminta semua pihak menghormati privasi anak-anak yang terlibat dan tidak membiarkan peristiwa tersebut menghambat masa depan mereka. Setiap siswa harus tetap memperoleh perlindungan, pendampingan, dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dengan baik.
“Sekolah Rakyat hadir untuk menjaga harapan dan masa depan anak-anak. Karena itu, setiap persoalan harus kita selesaikan dengan baik, setiap kekurangan harus kita perbaiki, dan setiap anak harus tetap kita lindungi,” pungkas Afrizon.
Melalui evaluasi ini, Kemensos mendorong terciptanya lingkungan Sekolah Rakyat yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang siswa. Penguatan pengawasan dan pengasuhan diharapkan menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh anak dapat belajar serta berkembang tanpa rasa takut.











