triggernetmedia.com – Keluarga pasien stroke diminta untuk memberikan perhatian lebih terhadap kebersihan mulut selama masa perawatan. Kondisi stroke yang dapat menyebabkan gangguan menelan dan keterbatasan gerak wajah membuat pasien lebih rentan mengalami penumpukan sisa makanan dan bakteri di dalam rongga mulut.
Hal tersebut disampaikan Ns. Fadli Huda, S.Kep., saat memberikan penyuluhan kesehatan kepada keluarga pasien rawat inap di RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak, Kamis (8/10/2026).
Ns. Fadli menjelaskan, rongga mulut menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme. Jika kebersihannya tidak terjaga, jumlah bakteri dapat meningkat dan memicu berbagai gangguan kesehatan gigi serta mulut.
“Jika kebersihan mulut tidak dijaga, berbagai masalah dapat muncul, mulai dari bau mulut hingga penyakit gigi dan gusi,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian khusus pada pasien stroke. Gangguan menelan dan keterbatasan gerak pada wajah dapat membuat sisa makanan lebih mudah tertinggal di rongga mulut.
Selain menyebabkan masalah pada gigi dan gusi, kebersihan mulut yang buruk juga dapat meningkatkan risiko komplikasi lainnya. Salah satunya ketika air liur yang mengandung kuman masuk ke saluran pernapasan dan berpotensi meningkatkan risiko infeksi paru.
Beberapa gangguan yang dapat muncul akibat kebersihan mulut yang kurang baik antara lain halitosis atau bau tidak sedap dari rongga mulut, karies yang menyebabkan kerusakan jaringan keras gigi hingga gigi berlubang, serta gingivitis berupa peradangan atau pembengkakan pada gusi.
Karena itu, Ns. Fadli mengingatkan keluarga untuk tidak mengabaikan perawatan mulut pasien stroke. Pembersihan mulut dapat dilakukan setelah pasien makan dengan menyesuaikan kondisi dan kemampuan pasien.
“Pada pasien stroke yang menggunakan NGT atau selang makan, kebersihan mulut perlu lebih diperhatikan dan dilakukan sesuai jadwal pemberian makan serta kondisi pasien,” ujarnya.
Sementara bagi pasien yang tidak menggunakan selang makan, kebersihan mulut dapat dilakukan secara rutin, terutama setelah makan.
Untuk membersihkan rongga mulut, keluarga dapat menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi pasien, seperti air hangat dan garam, cairan pembersih mulut berdasarkan anjuran tenaga kesehatan, maupun sikat gigi dan pasta gigi apabila pasien memungkinkan untuk menggunakannya.
Pasien yang masih sadar penuh dan mampu menyikat gigi dapat melakukan perawatan secara mandiri. Namun, bagi pasien yang mengalami keterbatasan gerak atau membutuhkan bantuan, keluarga dapat membantu membersihkan gigi dan gusi dengan tetap memperhatikan tingkat kesadaran serta kemampuan menelan pasien.
Menurut Ns. Fadli, peran keluarga sangat penting dalam memastikan kebersihan mulut pasien tetap terjaga. Terlebih pada pasien stroke yang mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Melalui penyuluhan tersebut, keluarga diharapkan dapat memahami bahwa perawatan mulut bukan sekadar menjaga kebersihan gigi, tetapi juga menjadi bagian dari perawatan pasien stroke secara keseluruhan.
“Menjaga kebersihan mulut bukan sekadar mencegah bau mulut atau gigi berlubang. Pada pasien stroke, perawatan mulut yang baik merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan dan membantu mencegah komplikasi selama masa perawatan,” pungkasnya.










