triggernetmedia.com – Ada cerita tentang ketangguhan dan kebersamaan di balik logo Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak. Identitas visual yang resmi diluncurkan Pemerintah Kota Pontianak, Senin (5/10/2026), itu mengusung tema “Tangguh Bersahabat” dengan manusia sebagai elemen utama.
Pemilihan manusia bukan tanpa alasan. Logo tersebut ingin menggambarkan Pontianak bukan hanya melalui bangunan, tugu, atau simbol fisik kota, tetapi melalui masyarakat yang menjadi bagian penting dari perjalanan dan perkembangan kota.
Gagasan itu lahir dari tim Gusti Fakhri Aliansyah dan Tomy Anggara yang berhasil menjadi pemenang sayembara logo Hari Jadi ke-255. Tahun ini, sayembara digelar dengan format berbeda. Peserta diwajibkan mendaftar dalam tim dan mengikuti rangkaian proses mulai dari pelatihan, mentoring hingga presentasi karya.
Sebanyak 16 tim ambil bagian dalam proses tersebut. Dari seluruh karya yang masuk, konsep yang ditawarkan Gusti dan Tomy dinilai mampu menerjemahkan karakter Pontianak melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Gusti Fakhri Aliansyah mengatakan, selama ini identitas Pontianak dalam berbagai logo Hari Jadi lebih sering direpresentasikan melalui ikon fisik kota. Karena itu, ia bersama tim mencoba melihat Pontianak dari sisi lain, yakni manusia dan kekuatan masyarakatnya.
Gagasan tersebut semakin kuat setelah mereka merefleksikan berbagai kondisi yang dihadapi warga dalam beberapa waktu terakhir. Beragam tantangan membuat mereka melihat bahwa kemampuan beradaptasi dan saling menguatkan merupakan karakter yang melekat pada masyarakat Pontianak.
Dari sanalah muncul semangat “Kite Jage Kite” yang menjadi salah satu gagasan dalam konsep logo.
“Dari awal sampai sekarang, kita terbentuk karena adaptif dan saling menguatkan satu sama lain,” ujarnya usai peluncuran logo di Pontive Center, Senin (5/10/2026).
Menurut Gusti, kemampuan beradaptasi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pontianak. Kondisi lingkungan turut membentuk cara warga dalam membangun dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan rumah panggung dan gertak sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Ketika menghadapi kabut asap maupun persoalan lainnya, masyarakat juga menunjukkan kekuatan yang sama melalui kepedulian dan kebersamaan.
Karena itu, ketangguhan yang ingin ditampilkan dalam logo bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi masalah. Lebih dari itu, ketangguhan dimaknai sebagai kemampuan untuk beradaptasi sekaligus bangkit bersama.
“Yang ingin saya angkat lewat logo ini adalah semangat kolektif. Kita tangguh karena kita bersama,” ujarnya.
Makna tersebut sejalan dengan tema yang diangkat Pemerintah Kota Pontianak tahun ini. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, kata “tangguh” menggambarkan kondisi dan tantangan yang dihadapi kota.
Pontianak, menurutnya, memiliki sejumlah kerentanan terhadap kondisi alam. Kemarau panjang, kabut asap, genangan, cuaca ekstrem hingga persoalan air baku menjadi tantangan yang membutuhkan kesiapan dan daya tahan masyarakat.
“Tangguh ini karena kita sedang menghadapi berbagai kondisi alam. Kemarau panjang kemarin menyebabkan kabut asap, kemudian air baku kita juga terintrusi air laut sehingga kadar garamnya meningkat. Karakter tangguh ini yang kita perlukan sebagai semangat warga Kota Pontianak,” ujarnya.
Sementara itu, kata “bersahabat” menggambarkan wajah Pontianak sebagai kota yang tumbuh dari keberagaman. Masyarakat dengan latar belakang suku, budaya dan agama yang berbeda hidup berdampingan dalam satu ruang kota.
“Pontianak ini heterogen. Karena itu kita ingin membangun kota yang harmonis, toleran, damai, sejuk dan nyaman,” kata Edi.
Selain membawa pesan tentang karakter kota, proses pembuatan logo tahun ini juga menjadi ruang bagi talenta lokal. Pemkot Pontianak secara khusus membatasi peserta sayembara hanya bagi warga Pontianak.
Kebijakan tersebut berbeda dari penyelenggaraan pada tahun-tahun sebelumnya yang dibuka secara nasional. Menurut Edi, pembatasan tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan lebih luas kepada anak muda Pontianak menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka.
Ia berharap pengalaman mengikuti sayembara dapat menjadi pijakan bagi para peserta untuk mengembangkan karya di bidang kreatif secara lebih luas. Tidak hanya menghasilkan logo, tetapi juga mampu menciptakan berbagai karya branding yang memiliki daya saing hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Mudah-mudahan yang masuk finalis maupun yang terpilih bisa semakin semangat berkreativitas, bukan hanya membuat logo, tetapi juga branding-branding lainnya, bahkan sampai tingkat nasional dan internasional,” katanya.
Edi juga mengingatkan agar kreativitas dan modernisasi tetap berjalan beriringan dengan sejarah serta kearifan lokal. Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak harus membuat identitas masa lalunya hilang.
Memasuki usia 255 tahun, Pontianak dinilai telah memiliki perjalanan panjang sekaligus tantangan yang semakin kompleks. Karena itu, semangat yang tercermin dalam logo tahun ini diharapkan tidak berhenti sebagai identitas visual, tetapi menjadi pesan bersama bagi seluruh warga.
“Usia 255 tahun ini cukup matang untuk sebuah kota. Tantangannya juga tidak ringan. Karena itu dibutuhkan ketangguhan, kebersamaan, kreativitas dan partisipasi seluruh masyarakat untuk membawa Pontianak terus maju,” pungkasnya.











