triggernetmedia.com – Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengingatkan bahwa dunia tengah menghadapi bentuk baru kolonialisme: bukan lagi dengan senjata dan kekuatan militer, tetapi melalui teknologi, algoritma, dan data.
Dalam pidato kuncinya pada seminar internasional 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Blitar, Sabtu (1/11/2025), Megawati menyebut kolonialisme modern kini berwujud penguasaan informasi dan sistem digital oleh negara-negara maju.
“Jika dulu penjajahan hadir dengan meriam dan kapal perang, maka kini ia datang melalui algoritma dan data,” kata Megawati.
Menurutnya, kecerdasan buatan (AI), big data, dan sistem keuangan digital lintas batas telah menciptakan imperialisme digital, di mana negara-negara berkembang hanya menjadi pengguna algoritma tanpa kendali atas datanya sendiri.
“Manusia direduksi menjadi angka, data menjadi komoditas. Negara maju menjadi pemilik data, sementara negara berkembang sekadar konsumen algoritma,” tegasnya.
Kedaulatan Digital Jadi Kunci
Megawati menilai tantangan digital tidak sekadar isu ekonomi, melainkan soal kemanusiaan dan kedaulatan bangsa.
Ia menyoroti data Kementerian Kominfo yang menyebut 90 persen lalu lintas data nasional masih melewati server asing, serta riset Universitas Indonesia (2025) yang menemukan 72 persen lembaga publik belum memiliki tata kelola data yang memadai.
“Tanpa pengendalian terhadap teknologi dan data, kemerdekaan sejati sulit tercapai,” ujarnya.
Seruan Etika Global Baru
Dalam pidatonya, Megawati menyerukan pembentukan “a new global ethics” — tatanan moral baru yang menata kembali kekuasaan global di bidang teknologi, ekonomi, dan informasi.
Ia menilai dunia membutuhkan keberanian moral seperti semangat Bung Karno untuk menolak dominasi baru yang bersumber dari kekuatan digital.
“Dunia kini memerlukan regulasi baru agar teknologi tidak menjadi alat penindasan bentuk baru,” kata Megawati.
Pancasila Sebagai Kompas Dunia Digital
Megawati mengajak dunia menjadikan Pancasila sebagai pedoman etik global.
Nilai-nilainya, kata dia, mampu menyeimbangkan antara material dan spiritual, hak individu dan tanggung jawab sosial, serta kedaulatan nasional dan solidaritas antarbangsa.
“Dunia yang tidak diatur oleh algoritma tanpa hati nurani, tetapi oleh nilai-nilai Pancasila yang memuliakan kehidupan,” ujarnya.
Dari Blitar untuk Dunia
Pidato Megawati di Blitar, kota tempat dimakamkannya Presiden Soekarno, menjadi refleksi terhadap semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 — semangat perlawanan terhadap kolonialisme dan dominasi global.
“Dari Blitar ini, dari pusara Bung Karno, saya menyerukan kepada dunia: mari kita bangun dunia baru. Dunia yang menempatkan manusia sebagai pusat peradaban, bukan mesin dan modal,” pungkasnya.




