triggernetmedia.com – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membantah anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto hanya bersifat seremonial atau sekadar pencitraan.
Pernyataan itu disampaikan Teddy menanggapi kritik dan masukan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait frekuensi lawatan Presiden ke berbagai negara.
“Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,” kata Teddy dalam video yang diunggah akun Instagram Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).
Menurut Teddy, sejumlah capaian strategis berhasil diraih melalui diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo. Salah satunya adalah bergabungnya Indonesia ke dalam kelompok BRICS.
Selain itu, Teddy menyinggung keberhasilan penyelesaian kesepakatan perdagangan yang memungkinkan tarif nol persen untuk sejumlah produk Indonesia di pasar Uni Eropa.
Ia juga menyebut realisasi investasi yang masuk ke Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp575 triliun disebut berasal dari komitmen investasi setelah kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea Selatan.
Di bidang pertahanan, Teddy mengatakan Indonesia terus memperkuat alat utama sistem persenjataan melalui kerja sama dengan berbagai negara.
Sementara di sektor haji, pemerintah mengklaim penyelenggaraan ibadah haji berjalan lancar dan Indonesia memperoleh dukungan Arab Saudi terkait pembangunan kawasan khusus bagi jemaah Indonesia.
Teddy juga menyoroti peran aktif Indonesia dalam isu Palestina, mulai dari pengiriman bantuan kemanusiaan, kapal rumah sakit, hingga pemberian akses pendidikan bagi warga Palestina di Indonesia.
Menurut dia, sejumlah hasil diplomasi tidak selalu dipublikasikan kepada publik, tetapi memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional.
“Yang terpenting bagi kami adalah hasil konkretnya. Itu yang kita utamakan,” ujarnya.
Teddy menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan. Namun, ia meminta capaian yang telah diraih melalui diplomasi internasional tetap dilihat secara objektif.




