triggernetmedia.com – Realisasi subsidi dan kompensasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp118,7 triliun. Angka ini meningkat signifikan sebesar 266,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kementerian Keuangan menyebut lonjakan tersebut dipengaruhi fluktuasi Indonesian Crude Price (ICP), pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya konsumsi energi dalam negeri, meliputi bahan bakar minyak (BBM), LPG, dan listrik.
Dari total realisasi tersebut, subsidi tercatat sebesar Rp52,2 triliun, sedangkan kompensasi mencapai Rp66,5 triliun.
Kenaikan juga terlihat pada konsumsi energi. Realisasi subsidi BBM mencapai 3,17 juta kiloliter atau meningkat 9,2 persen dibandingkan Maret 2025. Penyaluran LPG 3 kilogram tercatat 1,419 juta ton, naik 3,8 persen, sementara jumlah pelanggan listrik bersubsidi bertambah 2,4 persen menjadi 42,9 juta pelanggan.
Pada sektor non-energi, subsidi pupuk terealisasi sebesar 1,9 juta ton atau tumbuh 13,6 persen. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga meningkat dengan jumlah debitur mencapai 1,1 juta orang.
Kementerian Keuangan menilai tekanan terhadap subsidi dan kompensasi tidak terlepas dari dinamika harga energi global yang dipengaruhi kondisi geopolitik. Meski demikian, pemerintah menyatakan tetap mewaspadai risiko fiskal dan berupaya menjaga stabilitas APBN.



