triggernetmedia.com – Gejolak geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas mendorong Pemerintah Indonesia mengambil langkah cepat untuk menjaga ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah saat ini berada dalam kondisi “siaga satu” untuk mengamankan pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Langkah tersebut diambil menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz—jalur perdagangan strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
“Dalam kondisi seperti ini, kita membuka opsi dari negara mana saja. Yang terpenting adalah menjamin ketersediaan BBM, jadi tidak bisa memilih-milih,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (6/4/2026).
Ia mengungkapkan, Indonesia kini harus bersaing ketat dengan berbagai negara dalam mengamankan pasokan minyak mentah. Situasi pasar global disebut telah memasuki fase “perang harga” yang sangat dinamis.
Bahlil juga menyoroti tingginya risiko dalam mekanisme perdagangan saat ini. Bahkan, kontrak atau hasil tender tidak lagi menjamin pasokan akan diterima pembeli.
“Sekarang, meski sudah menang tender, jika ada pihak lain yang berani membayar lebih tinggi, penjual bisa saja mengalihkan barangnya,” kata dia.
Terkait peluang impor dari Rusia sebagai alternatif sumber pasokan, Bahlil belum memberikan kepastian. “Kalau sudah final, nanti saya sampaikan,” ujarnya singkat.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia dilaporkan telah melonjak hingga menembus di atas USD 100 per barel. Penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama terganggunya rantai pasok global.
Pemerintah pun terus memantau perkembangan harga dan kondisi stok dalam negeri guna memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi di tengah krisis global.



