triggernetmedia.com – Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran mengancam akan memblokir Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia.
Ancaman ini muncul pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pejabat militer Teheran menyatakan tidak akan membiarkan minyak meninggalkan kawasan tersebut.
Selat selebar 33 kilometer di titik tersempitnya itu menjadi urat nadi perdagangan energi global. Berdasarkan data International Energy Agency (IEA) dan EIA, sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Harga minyak Brent melonjak hingga 82 dolar AS per barel, sementara biaya sewa kapal tanker raksasa dari Timur Tengah ke China melonjak hampir dua kali lipat menjadi lebih dari 400 ribu dolar AS per hari.
China, India, dan Jepang diperkirakan menjadi pihak paling terdampak. Sebagian besar ekspor minyak Iran mengalir ke China yang menggunakannya untuk produksi barang ekspor.
Meski negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki pipa alternatif, kapasitasnya terbatas. Penutupan total Selat Hormuz berpotensi memangkas pasokan global hingga 8–10 juta barel per hari.
Ancaman tersebut tidak hanya menguji stabilitas kawasan, tetapi juga mengguncang ekonomi global yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi.




