triggernetmedia.com – Teknologi nyamuk Wolbachia menjadi salah satu strategi yang terus diperluas Indonesia dan negara-negara ASEAN untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Meski Indonesia belum mencapai nol kasus, inovasi ini dinilai berperan menurunkan angka dengue pada 2025 di sejumlah wilayah intervensi.
Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Prof. Asnawi Abdullah menyebut penurunan kasus dengue hingga 57 per 100.000 penduduk pada 2025 sebagai hasil dari pendekatan pengendalian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
“Nyamuk tidak membutuhkan paspor untuk berpindah negara. Karena itu, negara-negara ASEAN harus kompak melawan dengue melalui pendekatan yang lebih cerdas, termasuk teknologi Wolbachia dan vaksinasi,” kata Asnawi dalam forum regional pencegahan dengue di Jakarta.
Menurut Asnawi, mobilitas manusia dan dampak perubahan iklim membuat penularan dengue semakin sulit dikendalikan jika dilakukan secara parsial. Ia menilai kerja sama lintas negara menjadi keharusan, mengingat kawasan ASEAN masih menjadi episentrum global dengue.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine mengatakan Wolbachia bekerja dengan cara mengendalikan vektor nyamuk. Teknologi ini disebut menyerupai “vaksin” bagi nyamuk Aedes aegypti agar tidak lagi membawa virus dengue.
“Kita tidak bisa hanya fokus pada vaksin manusia, tetapi mengabaikan lingkungan. Pengendalian vektor, lingkungan, dan manusia harus dilakukan secara bersamaan,” ujarnya.
Wolbachia adalah bakteri yang secara alami terdapat pada berbagai serangga dan mampu menghambat perkembangan virus dengue, chikungunya, serta Zika di dalam tubuh nyamuk. Program ini telah berjalan di lima kota di Indonesia dan akan diperluas ke puluhan kota lainnya berdasarkan hasil evaluasi.
Secara global, data World Health Organization menunjukkan lebih dari 3,9 miliar orang berisiko terinfeksi dengue setiap tahun. Kawasan Asia Pasifik, termasuk negara-negara ASEAN, masih menjadi kontributor terbesar kasus dengue di dunia.




