triggernetmedia.com – Suasana mencekam menyelimuti ibu kota Venezuela, Caracas, menyusul operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Operasi itu, menurut laporan Washington Post, menyebabkan sekitar 75 orang tewas termasuk personel militer dan warga sipil di kompleks kepresidenan dan sekitarnya.
Operasi militer skala besar itu dilancarkan oleh pasukan khusus AS bersama serangan terhadap sejumlah target militer di Caracas. Meskipun terjadi kontak senjata sengit, tidak dilaporkan korban tewas dari pihak AS.
Pemerintah AS membenarkan operasi tersebut dan menyatakan Maduro serta Flores akan diadili di pengadilan federal di New York atas tuduhan “narco-terorisme” dan kejahatan lintas negara lainnya. Kedua tokoh itu terlihat di hadapan pengadilan AS beberapa hari setelah penangkapan.
Reaksi terhadap operasi ini muncul dari berbagai penjuru dunia. Sebagian negara mengecam penggunaan kekuatan militer untuk menangkap kepala negara lain tanpa mandat internasional. Beberapa negara dan pakar hukum internasional menilai tindakan itu melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Di tengah kekosongan kekuasaan, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez diambil sumpah sebagai presiden interim oleh Mahkamah Agung Venezuela. Pemerintah Venezuela menyatakan keadaan darurat nasional dan menyerukan dukungan internasional untuk menentang apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran kedaulatan.




