banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600 banner 120x600
PolitikSorotan

Mungkinkah Jakarta Dipimpin Perempuan di 2024?

×

Mungkinkah Jakarta Dipimpin Perempuan di 2024?

Sebarkan artikel ini
Tri Rismaharini. (Dok: Kemensos)

triggernetmedia.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi satu-satunya partai politik (parpol) yang bisa mengusung politisi perempuan untuk ikut eksis di Pilkada Jakarta 2024.

Meski beberapa nama politisi perempuan telah beberapa kali disebut, seperti Khofifah Indar Parawansa dan Airin Rachmi Diany, namun eksistensinya masih kalah dibandingkan oleh kader parpol laki-laki.

Pengamat politik Adi Prayitno mengatakan, PDIP memiliki satu kader perempuan potensial untuk maju saat Pilkada Jakarta 2024, yakni Tri Rismaharini yang kini masih menjabat sebagai Menteri Sosial.

“Harapan besar ada di PDIP, apakah nama besar Risma yang belakangan sering disebut akan diusung di Pilkada Jakarta. Karena apa pun judulnya, Risma sudah punya nama besar, tokoh penting di negara ini, dan tentu sudah mulai dikenal di Jakarta,” kata Adi, Rabu (10/7/2024).

Artinya, lanjut Adi, secara popularitas, pengalaman memimpin, dan rekam jejak politik, Risma punya modal cukup kuat dan signifikan sebagai sosok perempuan yang terlibat di Pemilihan Gubernur Jakarta.

Meski begitu, Adi tidak bisa memastikan apakah Risma pun bisa bersaing dengan tokoh politik pria. Karena partai politik sendiri perlu mempertimbangkan kebutuhan taktis pragmatis dalam menentukan bakal cagub dan cawagub.

“Kalau nama-nama perempuan itu yang muncul di Jakarta tidak terlalu signifikan, popularitas, dan elektabilitasnya, pastinya tidak akan dimajukan. Karena kalau kita mengacu pada pilkada-pilkada sebelumnya, terutama pascareformasi, Foke (Fauzi Bowo) saat itu cukup digdaya dan kuat tidak ada penantang dari calon perempuan. Begitu pun ketika Jokowi-Ahok menantang Foke di 2012 juga tdk ada calon perempuan yang signifikan namanya,” tuturnya.

Terlebih, dalam Pilkada Jakarta tahun ini, para politisi perempuan itu harus bersaing dengan tokoh besar lainnya, seperti Anies Baswedan, Basuki Tjahaya Purnama, serta Ridwan Kamil.

“Sepertinya partai politik mengalkulasi politik tidak cukup menguntungkan. Karena yamg dihadapi misalnya, punya nama besar seperti Anies ataupun Ridwan Kamil atau Ahok. Sementara nama-nama (tokoh perempuan) ini dinilai lebih cocok di wilayahnya masing-masing,” katanya.

Sumber: Suara.com

 

About Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *