triggernetmedia.com – Pada musim hujan, populasi aedes aegypti biasanya meningkat dan kerap jadi media penularan demam berdarah. Sebab akan terdapat banyak genangan air jadi tempat perkembangbiakan nyamuk tersebut.
“Saat populasi nyamuk aedes meningkat, maka akan meningkatkan resiko penularan penyakit DBD,” kata Sti Rahima Harahap, S. Kep, Nersi ketika memberikan edukasi kesehatan tentang Waspada Demam Berdarah Dengue (DBD) kepada 30 pasien dan pengunjung di UPT Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Selasa, (23/4).
“Berdasarkan data pada laman resmi Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tercatat per 1 Maret 2024 terdapat hampir 16.000 kasus DBD di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan 124 kematian,” jelasnya lagi.
Menurut Rahima, peningkatan kasus DBD biasanya dikarenakan perubahan iklim yang sedang dialami dan puncak kasus terjadi pada musim hujan.
“Penyebaran penyakit DBD terjadi ketika nyamuk yang membawa virus dengue masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes aegypti dan aedes albopictus yang biasa hidup di wilayah tropis dan sub tropis,” paparnya.
Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap nyamuk aedes, dapat dilihat dengan ciri-ciri belang belang (loreng) putih pada seluruh tubuh, jentik aktif bergerak dari bawah ke atas secara berulang, aktif mengigit pada pagi sampai sore hari, biasanya senang hinggap pada benda yang tergantung seperti pakaian dan suka dengan tempat agak gelap dan lembab.
“Untuk orang tua yang memiliki anak kecil sebaiknya waspada apabila anak mengalami gejala demam tinggi, timbul bintik-bintik merah kulit, sakit kepala, tampak lemah dan lesu, nyeri sendi, otot tulang dan nyeri ulu hati ini merupakan tanda awal gejala DBD yang harus segera diberikan penanganan awal,” jelas Rahima.
Ia menganjurkan agar penanganan awal yang bisa dilakukan di rumah dengan perbanyak minum air putih, kompres dan minum obat penurun panas.
“Jika keadaan semakin memburuk sampai demam tidak turun, mimisan dan muntah darah segera bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan penanganan segera,” ujarnya.
Rahima menambahkan nyamuk aedes sering berkembang biak di tempat-tempat penampungan air bersih seperti bak mandi/wc, tempayan, drum, tempat minum burung, pot tanaman air, kaleng dan ban bekas, tempurung kelapa dan plastik yang dibuang di sembarang tempat dan wadah penampung air bersih/air hujan.
“Mari kita bersama cegah DBD dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air dan Mendaur ulang barang barang bekas yang menjadi tempat penampungan air,” ajaknya.
“Plus yang dapat dilakukan untuk pencegahan dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, memakai lotion/obat anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, tidak mengantung pakaian di kamar, dan menaburkan bubuk abate pada penampungan air,” timpalnya memungkasi.




