triggernetmedia.com – Krisis politik dan keamanan di Haiti mencapai puncaknya ketika Jimmy ‘Barbeque’ Cherizier, pemimpin aliansi geng terkuat G9, berhasil menguasai ibu kota negara itu, Port-au-Prince.
Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh geng Cherizier telah memaksa Perdana Menteri Ariel Henry untuk mundur dari jabatannya, meninggalkan negara dalam kekacauan yang semakin dalam.
Cherizier, seorang mantan petugas Kepolisian Nasional Haiti yang dikenal dengan reputasi kontroversialnya, telah menjadi sorotan internasional sejak pembentukan aliansi geng G9 pada tahun 2020.
Dalam serangkaian kejadian yang mengejutkan, G9 berhasil menguasai pelabuhan bahan bakar utama Haiti, yang kemudian digunakan sebagai alat untuk menyandera negara itu.
Sementara itu, konflik antara G9 dengan aliansi geng rival G-Pep terus memburuk, menyebabkan puluhan ribu orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena kekerasan yang merajalela.
Laporan PBB mengungkapkan bahwa anggota geng melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penyiksaan, penculikan massal, dan pembakaran dengan tebusan tanpa pandang bulu.
Analis memperingatkan bahwa geng-geng di Haiti semakin mandiri secara ekonomi, memungkinkan mereka untuk mengumpulkan senjata api dalam jumlah besar dari luar negeri.
Selain itu, geng-geng ini juga mulai mengelola infrastruktur seperti sekolah, klinik, dan pos pemeriksaan.
Ketika situasi semakin memburuk dan geng-geng mendominasi sebagian besar ibu kota, Perdana Menteri Ariel Henry, yang sedang dalam perjalanan dinas ke Kenya, terpaksa menghadapi tekanan publik dan mundur dari jabatannya.
Upaya untuk mengembalikan ketertiban di negara ini akan melibatkan pasukan PBB yang akan didanai oleh Amerika Serikat dan Kanada, meskipun rincian lengkap tentang operasi tersebut masih dirahasiakan.




