triggernetmedia.com – Dalam pidato Kepresidenan yang disampaikan dalam Sidang Tahunan MPR dalam rangka Peringatan Hari Ulang Tahun ke-78 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Presiden Joko Widodo menggarisbawahi komitmen Indonesia untuk meraih posisi dalam kelompok 5 besar kekuatan ekonomi dunia menjelang tahun 2045.
Pidato tersebut dihadiri oleh Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, dan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, serta jajaran Kepala Organisasi Perangkat Daerah di Lingkungan Pemprov Kalbar, secara daring yang berlangsung di Data Analytic Room (DAR), Rabu (16/8).
Dalam pidato tersebut, Jokowi mengungkapkan tantangan yang dihadapi oleh seorang Presiden, mengingat beban tanggung jawab yang besar serta berbagai masalah yang harus diatasi demi kesejahteraan rakyat.
Ia juga mencatat bagaimana perkembangan media sosial telah membuka saluran komunikasi yang lebih luas antara rakyat dan pemerintah, namun juga menunjukkan dampak negatif seperti penyebaran fitnah dan cacian.
“Saya tahu, ada yang mengatakan saya ini bodoh, plonga-plongo, tidak tahu apa-apa, Fir’aun, tolol. Ya nda papa, sebagai pribadi, saya menerima saja. Tapi yang membuat saya sedih, budaya santun & budi pekerti luhur bangsa ini kok kelihatannya mulai hilang,” ujar Jokowi.
Dalam upayanya untuk menjaga moralitas dan budi pekerti bangsa, Presiden menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dalam menjalankan transformasi bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Ia menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang akan mencapai puncak pada tahun 2030-an, dengan mayoritas penduduk usia produktif.
Selanjutnya, Presiden juga mengakui peran Indonesia dalam panggung internasional dengan meningkatnya trust dari negara lain.
Ia menyebut Indonesia sebagai Middle Power in Asia dengan pengaruh diplomasi yang semakin kuat, Ia menyoroti pentingnya memanfaatkan kepercayaan internasional ini untuk memperkuat kedaulatan dan kredibilitas bangsa serta memudahkan dalam negosiasi internasional.
“Tapi kemudian, ada yang bilang, memang kenapa dengan international trust yang tinggi? Rakyat kan makannya nasi, international trust ga bisa dimakan. Ya memang ndak bisa. Sama seperti jalan tol, nda bisa dimakan, ya memang. Nah, ini contoh menghabiskan energi untuk hal tidak produktif itu ya begini. Tapi tidak apa-apa, saya malah seneng. Memang harus ada yang seperti ini. Supaya lebih berwarna. Supaya tidak monoton”, imbuhnya.
Dalam upaya mencapai Indonesia Emas 2045, Jokowi menekankan pentingnya persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Ia menunjukkan pencapaian dalam mengurangi angka stunting, meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia, dan pemberdayaan gender.
Ia juga menggarisbawahi perlunya menciptakan lapangan kerja dengan mengembangkan sektor ekonomi baru, termasuk Ekonomi Hijau & Hilirisasi sebagai peluang untuk menghasilkan kemajuan berkelanjutan.
Jokowi menegaskan bahwa hilirisasi sumber daya alam merupakan langkah penting untuk memberikan nilai tambah pada ekonomi nasional dan mensejahterakan rakyat Indonesia.
Ia menekankan bahwa Indonesia harus menjadi negara yang tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mengolah dan memberikan nilai tambah pada sumber daya alamnya.
“Tapi kaya SDA saja tidak cukup, jadi pemilik saja tidak cukup. Karena itu akan membuat kita menjadi bangsa pemalas yang hanya menjual bahan mentah kekayaannya tanpa ada nilai tambah, tanpa ada keberlanjutan. Saya ingin tegaskan, Indonesia tidak boleh seperti itu. Indonesia harus menjadi negara yang juga mampu mengolah sumber dayanya, mampu memberikan nilai tambah dan mensejahterakan rakyatnya. Ini bisa kita lakukan melalui hilirisasi. Hilirisasi yang ingin kita lakukan adalah hilirisasi yang melakukan transfer teknologi, yang memanfaatkan sumber energi baru dan terbarukan, serta meminimalisir dampak lingkungan”, tutupnya.



