triggernetmedia.com –Sekretaris Daerah (Sekda) Kalimantan Barat (Kalbar), Harisson, mengikuti rapat sebagai perwakilan Gubernur dalam sebuah audiensi daring dengan surveyor dari Pusat Akreditasi Rumah Sakit (KARS).
Rapat tersebut diadakan di ruang DAR Kantor Gubernur Kalbar, Senin (10/7), hadir pula Direktur RSJ Prov Kalbar, Wilson, dan Kepala Dinas Kesehatan, Ferry Safriadi.
Dalam sesi wawancara bersama surveyor, Harisson menjelaskan bahwa saat ini terdapat dua RSJ di Kalimantan Barat, yaitu RSJ di Sui Bangkong dan RSJ di Singkawang.
Kedepannya, untuk efisiensi dan efektivitas, hanya akan ada satu RSJ di Singkawang, sementara RSJ yang berlokasi di Pontianak akan dijadikan Klinik Utama.
Pemprov Kalbar berkomitmen untuk meningkatkan pembangunan di bidang kesehatan secara merata, sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, anggaran kesehatan sebesar 10% dari APBD.
Harisson juga menilai bahwa pelayanan di bidang kesehatan secara umum sudah cukup baik, terutama di RSJ, karena jarang adanya keluhan yang disampaikan oleh pasien atau keluarga pasien.
“Secara umum layanan kesehatan Rumah sakit Jiwa sudah baik dan tidak banyak keluhan dari keluarga pasien, diperkirakan dengan 3 bulan hanya sekali mendapat keluhan jika dilihat dari pengaduan para pasien,” ujarnya.
Menanggapi pertanyaan yang diajukan, Harisson menyatakan bahwa manajemen risiko di rumah sakit sangat penting guna meminimalkan terjadinya risiko di dalamnya.
Pihak direktur atau pimpinan langsung memantau manajemen risiko di rumah sakit, melakukan identifikasi risiko, dan memberikan saran serta masukan kepada direktur untuk melakukan mitigasi.
Selain itu, Ia juga mengungkapkan pendapatnya bahwa penilaian kinerja rumah sakit tidak hanya berdasarkan indikator mutu pelayanan, tetapi juga melibatkan kualitas dan profesionalisme dalam pelayanan kepada pasien.
Dengan demikian, Sekda Kalbar menyoroti pentingnya manajemen risiko di rumah sakit dan menekankan bahwa penilaian kinerja tidak hanya ditentukan oleh indikator mutu, melainkan juga oleh pelayanan yang diberikan kepada pasien.
“Dalam hal penilaian kinerja Rumah Sakit, tidak dinilai dari indikator mutu saja tetapi dari pelayanan kepada pasien,” tutupnya.






