triggernetmedia.com – Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkap sembilan dari sepuluh produk pangan kemasan di Indonesia mengandung gula, garam, dan lemak (GGL) tinggi. Temuan ini memicu kekhawatiran meningkatnya risiko penyakit tidak menular, termasuk gagal ginjal pada usia muda.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jasra Putra, menilai persoalan konsumsi pangan tidak sehat tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada keluarga. Ia menyoroti kondisi keluarga yang dinilai belum stabil, termasuk tingginya dampak perceraian.
“Kalau negara menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga, sementara institusi keluarga sendiri sedang mengalami banyak persoalan, ini menjadi masalah,” ujar Jasra dalam diseminasi riset Nutrient Profile Models (NPM) di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Ia mempertanyakan peran negara dalam melindungi anak dari konsumsi pangan tidak sehat yang masuk kategori berisiko tinggi.
“Apakah kita membiarkan generasi tumbuh dengan makanan yang berisiko tinggi? Ini harus menjadi perhatian serius,” kata dia.
Kekhawatiran serupa disampaikan Ketua Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia, Ari Subagiyo. Ia menyoroti meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda yang diduga berkaitan dengan konsumsi minuman manis.
“Saya menemukan kasus anak usia 20 tahun yang mengalami gagal ginjal akibat kebiasaan konsumsi minuman manis,” ujarnya.
Ari juga menyinggung bertambahnya fasilitas cuci darah seiring meningkatnya jumlah pasien. Ia menilai kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi serius, termasuk efektivitas sistem pelabelan nutrisi.
Menurut dia, pemahaman masyarakat terhadap label Nutri-Level (A–D) masih rendah. Sebaliknya, label peringatan dinilai lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
“Ketika ditanya, masyarakat lebih memilih label peringatan karena langsung menunjukkan risiko, misalnya tinggi gula,” kata Ari.



