triggernetmedia.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan aktivitas ekonomi dan optimisme masyarakat Indonesia terus menguat pada awal 2026. Tren positif ini disebut berlanjut sejak triwulan IV 2025.
Hal itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut dia, sejumlah indikator sektor riil menunjukkan penguatan aktivitas ekonomi yang mendorong konsumsi masyarakat sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Indikator sektor riil menunjukkan aktivitas ekonomi berbalik menguat pada awal triwulan IV 2025 dan berlanjut pada 2026. Ini memperkuat aktivitas masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Salah satu indikator yang menunjukkan penguatan tersebut adalah Mandiri Spending Index (MSI). Indeks ini mencatat belanja masyarakat menjelang Ramadan mencapai 360,7 pada Februari 2026.
Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi barang kebutuhan sehari-hari, pendidikan, hingga mobilitas masyarakat.
“Dari sini terlihat daya beli masyarakat terus membaik dan menguat,” kata Purbaya.
Selain itu, penjualan ritel juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 6,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, indeks keyakinan konsumen berada pada level 125,2 yang menunjukkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
“Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat masih optimistis,” ujarnya.
Kinerja industri otomotif juga melanjutkan tren positif pada Februari 2026. Penjualan mobil meningkat 12,2 persen secara tahunan, sedangkan penjualan sepeda motor tumbuh sekitar 1 persen.
Penguatan juga terlihat pada sektor manufaktur. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia tercatat sebesar 53,8 pada Februari 2026, yang menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Purbaya, capaian tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan domestik serta mulai pulihnya permintaan ekspor.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi yang cukup kuat.
“Ekonomi sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat untuk menghadapi potensi dampak negatif dari gejolak perekonomian global,” kata Purbaya.




