triggernetmedia.com, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, melantik empat pejabat baru sebagai Kepala Kantor Perwakilan BI di berbagai provinsi. Pelantikan ini merupakan bagian dari transformasi organisasi dan penguatan sumber daya manusia di lingkungan BI.
Mereka yang dilantik adalah:
-
Hario Kartiko Pamungkas, sebelumnya Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, menjadi Kepala Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Barat. Efektif menjabat antara 15 Juli hingga 15 Agustus 2025.
-
Adidoyo Prakoso, sebelumnya Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Riau, ditunjuk sebagai Kepala Perwakilan BI Provinsi Nusa Tenggara Timur, efektif antara 1–30 September 2025.
-
Muhamad Irfan Sukarna, sebelumnya Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Barat, kini menjabat sebagai Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulawesi Tengah. Efektif menjabat antara 15 Juli–15 Agustus 2025.
-
Ahmadi Rahman, sebelumnya Deputi Kepala Perwakilan BI Kediri, dipercaya menjadi Kepala Perwakilan BI Pematangsiantar, juga efektif antara 15 Juli–15 Agustus 2025.
Dalam sambutannya, Perry mengingatkan para kepala perwakilan baru untuk menjaga integritas, menghadapi tantangan dengan keberanian, dan terus mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Pelantikan ini adalah bagian dari transformasi kelembagaan untuk memperkuat pencapaian tujuan BI, yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Perry dalam siaran pers, Minggu (13/7/2025).
Aliran Modal Asing Keluar, BI Optimalkan Bauran Kebijakan
Bank Indonesia juga melaporkan adanya tekanan eksternal dari arus keluar modal asing. Selama periode 7–10 Juli 2025, investor nonresiden mencatat jual neto sebesar Rp7,90 triliun, terdiri atas:
-
Surat Berharga Rupiah BI (SRBI): Rp5,41 triliun
-
Pasar saham: Rp2,34 triliun
-
Surat Berharga Negara (SBN): Rp160 miliar
Aliran keluar ini dipicu oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan tarif impor baru per 1 Agustus 2025.
Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, menjelaskan bahwa sejak awal tahun hingga 10 Juli 2025, tercatat jual neto asing sebesar Rp56,24 triliun di pasar saham dan Rp35,08 triliun di SRBI. Namun demikian, terdapat beli neto sebesar Rp59,27 triliun di pasar SBN.
“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga ketahanan eksternal,” jelas Ramdan.
Rupiah Stabil, Indikator Fundamental Masih Terjaga
Per 10 Juli 2025, nilai tukar rupiah ditutup pada Rp16.215 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun berada di level 6,56%, sedangkan CDS Indonesia 5 tahun tercatat sebesar 73,03 basis poin, relatif stabil dibanding 4 Juli 2025 sebesar 73,74 bps.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) menguat ke posisi 97,65 dan yield US Treasury 10 tahun naik menjadi 4,35%. Pada pembukaan Jumat (11/7), rupiah masih stabil di kisaran Rp16.215.
Kinerja Penjualan Eceran Meningkat di Juni 2025
Bank Indonesia juga melaporkan proyeksi pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2025 sebesar 2,0% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. IPR diperkirakan mencapai level 233,7.
Kenaikan tersebut didorong oleh kelompok bahan bakar kendaraan bermotor, suku cadang dan aksesori, serta sandang. Secara bulanan, penjualan ritel tumbuh 0,5% (mtm), ditopang oleh musim libur sekolah, Hari Besar Keagamaan Nasional (Iduladha), dan mid-season sale.
Ekspektasi Harga Turun dalam Jangka Pendek, Naik di November
Dari sisi ekspektasi harga, Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Agustus 2025 tercatat 139,6, turun dari periode sebelumnya 141,9. Namun, IEH November 2025 diprediksi naik ke 151,3 dari 144,5.
Keyakinan Konsumen Tetap Tinggi
Survei Konsumen BI menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2025 tetap berada di zona optimis (>100), yaitu di angka 117,8, sedikit meningkat dari Mei yang sebesar 117,5. Hal ini mencerminkan ekspektasi masyarakat yang positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan.




