triggernetmedia.com – Presiden Joko Widodo akan melakukan peninjauan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohammad Alkadri (SSMA) Kota Pontianak, Kamis (21/3).
Pihak rumah sakit pun sudah bersiap menerima kunjungan termasuk menyampaikan sejumlah inovasi yang dilakukan.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohammad Alkadri Eva Nurfarihah menjelaskan Presiden Joko Widodo akan mengecek pelayanan kesehatan karena di rumah sakitnya sebanyak 95 % merupakan pasien BPJS Kesehatan.
“Karena rumah sakit kita pasiennya mayoritas BPJS, rencananya nanti akan dilihat langsung oleh bapak Presiden terkait pelayanan pasien BPJS,” ujarnya.
Selain itu, Pihaknya juga melakukan persiapan dalam menyambut Presiden diantaranya melakukan persiapan untuk menyampaikan inovasi yang telah dilakukan rumah sakit RSUD SSMA kepada Presiden Joko Widodo.
“Di antaranya adalah Klinik Diabetes Melitus yang pernah mendapatkan penghargaan TOP 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019” katanya Rabu (20/3).
Eva juga menjelaskan persoalan antrian pasien BPJS yang sempat menjadi perhatian banyak pihak. Dia menuturkan sejak Awal Maret Tahun 2024 bagi pasien BPJS memang diwajibkan untuk melakukan sidik jari semata-mata untuk menjaga keselamatan pasien.
“karena harusnya pasien bertemu dengan Dokter bukan pengantar atau keluarga yang bertemu dokter agar diagnosa dan perkembangan medis pasien terpantau dengan baik oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP),” imbuhnya.
Menurut Eva pemeriksaan langsung oleh dokter ke pasien penting dilakukan karena bisa saja terjadi perbedaan kondisi pasien sehingga obat-obatan yang diberikan pun bisa berubah dan tidak selalu sama.
“Beda halnya dengan pasien yang dalam kondisi kursi roda ataupun struk itu bisa dilakukan pengulangan resep namun maksimal hanya sebanyak 2 kali, ” tutur Direktur Eva.
Eva memaklumi kondisi pasien yang sudah dengan masalah medis saat tiba di rumah sakit melihat kondisi antrian panjang pasti ingin cepat dilayani. Ia pun menyampaikan jumlah pasien dari waktu ke waktu semakin bertambah bisa mencapai 600-an pasien per harinya ditambah lagi dengan keterbatasan tenaga kesehatan maupun kekurangan dokter spesialis.
“Banyaknya pasien dengan tenaga medis yang terbatas tentu akan mempengaruhi waktu pelayanan. Memang hanya hitungan menit tetapi kalau dikalikan dengan jumlah pasien harian tentu akan terasa lama apalagi antrian yang ada di farmasi karena memang petugasnya yang terbatas,” pungkasnya.

