triggernetmedia.com – Pengamat kebijakan hubungan internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada, Dafri Agussalim, mengkritik kinerja Kementerian Luar Negeri RI terkait tertahannya kapal tanker Indonesia yang belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Menurut Dafri, kondisi tersebut tidak lepas dari kebijakan luar negeri Indonesia yang dinilai memperjelas posisi di tengah rivalitas antara Amerika Serikat dan Iran.
Ia menilai keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) turut memengaruhi persepsi Iran terhadap Indonesia.
“Bergabungnya kita di BoP memperjelas posisi Indonesia dalam konteks rivalitas Amerika dan negara seperti Iran. Kita dilihat berada di kubu Amerika, sehingga tanker kita tidak bisa lewat Selat Hormuz,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
Dafri juga menilai Kemenlu belum mampu memitigasi dampak dari kebijakan tersebut. Akibatnya, Indonesia dinilai terjebak dalam dinamika konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ia menyarankan pemerintah mempertimbangkan pendekatan alternatif dengan melibatkan tokoh non-pemerintah untuk membuka jalur komunikasi.
Salah satu figur yang dinilai memiliki kapasitas tersebut adalah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Menurut Dafri, pendekatan berbasis religiusitas dan kemanusiaan dapat menjadi jalan untuk memperbaiki persepsi Iran terhadap Indonesia.
“Mungkin Pak JK salah satunya, atau tokoh-tokoh lain yang bisa meyakinkan pemimpin Iran,” katanya.
Ia menambahkan, dalam sejarah diplomasi Indonesia, peran tokoh masyarakat kerap efektif dalam mencairkan kebuntuan hubungan antarnegara.
Dafri juga menyinggung kunjungan Duta Besar Iran kepada Jusuf Kalla sebagai sinyal adanya kepercayaan terhadap jalur komunikasi non-formal.
“Kepercayaan terhadap figur seperti JK bisa jadi lebih besar dibanding pejabat formal,” ujarnya.




