triggernetmedia.com – Seorang perangkat desa di Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah bernama Herpinus Elisa mengaku tidak nyaman dan dirugikan usai diberitakan salah satu media online. Herpinus Elisa tegas menepis tudingan arogansi yang dialamatkan kepadanya terkait insiden brutal yang melibatkan dirinya dengan warga Pak Nungkat Desa Sekabuk bernama Orena alias Pak Junjung.
“Justru kejadian yang terjadi di Polres Mempawah beberapa waktu lalu hanyalah kesalahpahaman dan kejadian yang disampaikan oleh pihak Orena alias Pak Junjung di media itu tidak benar,” ungkap Herpinus Elisa, Sabtu (18/5).
Menurut Herpinus, saat kejadian itu sebenarnya dirinya ikut mendampingi salah satu kepala dusun yang dipanggil pihak penyidik Polres Mempawah guna klarifikasi atau memberikan keterangan terkait dugaan penyelewengan dana BLT Desa Sekabuk.
“Ketika itu beberapa orang yang ikut mendampingi kadus Titidahan sedang berada di salah satu kantin di sekitar Polres Mempawah. Namun karena ada informasi bahwa kadus Titudahan tadi mengalami kehilangan Handphone (HP) miliknya yang ternyata terselip di saku celana, saat itu saya bersama saudara Bachtiar alias pak Gior mendatangi kadus Titidahan tersebut untuk membantu mencarikan HP miliknya di mobil hingga ke ruang Reskrim Polres Mempawah,” cerita Herpinus selaku Kasi Pelayanan Desa Sikabuk.
“Namun, ketika berada di ruang tunggu Reskrim Polres Mempawah, mereka bertemu dengan rombongan pihak Orena alias pak Junjung yang juga berurusan dalam rangka mendamping masyarakat guna menyampaikan laporan yang diduga adanya penyelewengan dana BLT, maka terjadilah kejadian tersebut,” jelasnya lagi.
Masih cerita Herpinus, awalnya ia bersama rekan yang ikut ke Polres Mempawah sedang keluar ke kantin Polres Mempawah.
“Karena Pak kadus mencari HP nya, maka saya masuk ke ruangan Reskrim, ketemulah pak Junjung sama Hamas, jadi mereka menyapa dengan angkat tangan. Saya balas sapanya dengan angkat tangan, tapi tiba-tiba saya reflek menarik bajunya, kerah baju. Jadi, tidak benar terjadi pemukulan, saya hanya menarik bajunya, di kerah baju,” beber Herpinus Elisa.
Selaku salah satu aparatur pelayan masyarakat Desa Sekabuk, Herpinus Elisa meminta kepada Orena alias pak Junjung untuk tidak membuat persoalan yang memicu terjadinya perselisihan dan dikhawatirkan berpotensi terjadi konflik di masyarakat.
“Karena dari berita yang sudah tersiar di salah satu media online itu sudah membuat kehebohan di masyarkat kita, apalagi apa yang diberitakan itu tidak benar, berita bohong itu alias hoax. Jelas tidak benar adanya insiden pemukulan dan pengeroyokan,” tegas Herpinus Elisa.
“Kita berharap kepada aparat Kepolisian objektif dalam menangani kasus ini. Sebab kejadian ini dapat membuat kerisuhan antar masyarakat Desa Sekabuk dan merasa terganggu karena ulah oknum ini yang dikhawatirkan berlebihan menyebar isu negatif yang dikhawatirkan memecah belah,” timpalnya.
Sementara itu, Bachtiar alias pak Gior menyakan, penjelasan Herpinus Elisa atas peristiwa yang kejadian tersebut terjadi secara reflek tidak direncanakan namun tidak juga bisa dicegah.
“Kami tidak terima bahwa dinyatakan di media ada pengeroyokan dan ada pemukulan, padahal itu tidak benar, dia (Herpinus Elisa) hanya narik bajunya, itu yang tidak kami terima,” tuturnya.
Salah satu anggota BPD Sekabuk, Arsani, mendorong para pihak yang terlibat dalam perselisihan untuk dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan dengan kearifan lokal.
“Tidak harus koar-koar ke media karena ini bisa saja bias kemana-mana,” katanya.
“Cobalah diselesaikan baik-baik, masalah desa itu kan harusnya juga bisa dikoordinasikan ke BPD sebagai perwakilan masyarakat. Kami siap membantu sekiranya diperlukan untuk menengahi persoalan dengan arif bijaksana,” ucap Arsani.



