triggernetmedia.com – Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang Alexander Wilyo menjadi Inspektur Upacara Apel Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2022, Selasa (28/06/2022) bertempat di Halaman Kantor Bupati Ketapang.
Dalam sambutannya Alex menegaskan, upacara Peringatan Hari Berkabung Daerah merupakan salah satu cara untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat, khususnya generasi muda akan perjuangan masyarakat Kalimantan Barat melawan kekejaman penjajah, khususnya pada masa penjajahan Jepang.
“Upacara berkabung daerah, yang kita laksanakan hari ini sejalan dengan ungkapan para pendahulu kita yang sering dikenal dengan ungkapan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” katanya.
Dirinya mengatakan, sudah sepantasnya kita sebagai generasi penerus cita-cita bangsa, patut bersyukur bisa menikmati alam kemerdekaan yang telah rasakan bersama saat ini.
“Semangat dan nilai kepahlawanan yang ditujukan oleh para pendahulu kita hendaknya dapat kita hayati dan menjadi inspirasi yang kemudian memacu dan memicu bagi kita dalam mengisi kemerdekaan ini,” tutup Alex.
Sejarah Singkat Makam Juang Mandor
Pada tahun 1942-1944 pendudukan jepang di Kalimantan Barat telah terjadi peristiwa pembunuhan besar-besaran secara keji dan kejam oleh tentara jepang terhadap tokoh-tokoh masyarakat, pemuka-pemuka masyarakat, kaum cendikiawan dan para pejuang yang tidak berdosa, tepatnya pada tanggal 28 rokutgatsu atau tanggal 28 Juni 1944.
Berdasarkan data surat kabar Jepang yang terbit di Pontianak “Borneo Shinbun” terbitan 1 juli 1994 disebutkan sebanyak 21.037 jiwa korban pembunuhan massal yang dikuburkan di 10 buah makam di mandor.
Berikut nama-nama para korban yang dibunuh secara massal oleh tentara Jepang, dengan dalih bahwa para korban yang diculik dan dibantai berusaha mendirikan Negara Borneo Barat untuk membebaskan diri dari penjajahan Jepang pada masa itu, antara lain :
1. Syarif Muhammad Alkadrie, umur 74 tahun, Sultan Pontianak
2. Pangeran Adipati, umur 26 tahun, putra Sultan Pontianak
3. Pangeran Agung, umur 26 tahun, adik Pangeran Adipati
4. J.E Patiasina, umur 51 tahun
5. Ng Nyiap Sun, 40 thaun
6. Lumban Pea, umur 43 tahun
7. R. Muslimun Nalaprana, Tokoh Volksraad, umur 42 tahun
8. Kei Liang Kei, umur 54 tahun
9. Ng Nyiap Khan, umur 35 tahun
10. Panangian, umur 48 tahun
11. Noto Soedjono, umur 42 tahun
12. F.J Loway Faath, umur 44 tahun
13. C.V Oktavianus Lucas, umur 42 tahun
14. Ong Tjoe Kie, umur 52 tahun
15. Uray Aliudin, umur 33 tahun
16. Gusti Muhammad Saunan, umur 44 tahun, Panembahan Ketapang
17. Muhammad Ibrahim Tsafiuddin, umur 40 tahun, Sultan Sambas
18. Sawon Wongso Utomo, umur 45 tahun
19. dr. Soenaryo Martowardoyo, umur 33 tahun
20. Muhammad Yatim, umur 33 tahun
21. Raden Mas Soejino, umur 31 tahun
22. Nazarudin, umur 35 tahun
23. Soedarmadi, umur 30 tahun
24. Tambunan, umur 29 tahun
25. Tji Boen Kie, umur 42 tahun, wartawan
26. Nasrun Sutan Pangeran, umur 31 tahun
27. E. Londok Kawengsion, umur 44 tahun
28. W.E.F Tewu, umur 51 tahun
29. Wagimin Bin Wongsosemito, umur 27 tahun 30. Ong Lung Khoi, umur 45 tahun
31. Theng Swa Teng, umur 47 tahun
32. dr. R.M Achmad Diponegoro, umur 40 tahun
33. dr. Ismail, umur 34 tahun
34. Achmad Maidin, umur 40 tahun
35. Nurlela Panangsiang, umur 45 tahun
36. Tengku Idris, umur 50 tahun, Panembahan Sukadana
37. Gusti Mesir, umur 43 tahun, Panembahan Simpang
38. Syarif Saleh Alaydrus, umur 63 tahun, Panembahan Kubu
39. Gusti Abdul Hamid, umur 42 tahun, Panembangan Ngabang
40.Ade Muhammad Arif, umur 40 tahun, Panembahan Sanggau
41.Gusti Muhammad Keliep, umur 40 tahun, Panembahan Sekadau
42. Muhammad Taufik, umur 63 tahun, Panembahan Mempawah
43. A,TP Lontang, umur 43 tahun
44. Radaen Nalaprana, umur 43 tahun
45. Gusti Ja’far, umur 42 tahun, Panembahan Tayan
46. Raden Abdul Bahry Daru Perdana, umur 44 tahun, Panembahan Sintang
47. dr. Rubini, umur 39 tahun, Kepala Rumah Sakit Pontianak
48. Ny. Amalia Rubini, umur 37 tahun
49. Syarief Zein Bin Syarief Salim Almutahar, umur 41 tahun, Pegawai Kantor CoekaiPpontianak.
Sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kepada pejuang yang telah gugur pada peristiwa tersebut, atas saran DPRD tingkat I Kalimantan Barat kepada Gubernur Kepala Daerah tingkat I (Gubernur Kadarusno-Red) saat itu dibangun monumen Makam Juang Mandor yang peresmiannya ditetapkan pada tanggal 28 juni 1977 bertepatan dengan tanggal peristiwa tragedi kemanusiaan yakni pembantaian biadab oleh kekuasaan tentara Jepang terhadap pata tokoh penting di Kalimantan Barat, persis 28 Juni 1944.
Dibangunnya monumen “Makam Juang Mandor “ bukan merupakan lambang kebencian rakyat Kalimantan Barat terhadap Bangsa Jepang. Melainkan sebagai bukti sejarah tentang peristiwa tragis di Kalimantan Barat untuk tidak terulang kembali dimasa mendatang.
Monumen “Makam Juang Mandor “ sekaligus merupakan peninggalan sejarah untuk dikenang dan dapat diperingati oleh lintas generasi kedepan dan yang akan datang bahwa Kalimantan Barat pernah terjadi suatu peristiwa perjuangan rakyat Indonesia dalam membebaskan tanah air tercinta dari penjajahan Jepang antara tahun 1942-1944. (Dinukil dari berbagai sumber).




