triggernetmedia.com – Sebanyak 35 orang peserta yang terdiri dari stakeholder penanggulangan bencana Karhutla di Provinsi Kalbar mengikuti kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (5/10/2021). Kegiatan simulasi penanggulangan bencana ini dilaksanakan pada 5-8 Oktober 2021.
Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat (Pj. Sekda Prov Kalbar), Samuel menyatakan, Pemprov Kalbar menyambut baik adanya kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana di Provinsi itu.
“Walaupun pada tahun ini sepertinya bencana karhutla hampir tidak ada, namun kita harus tetap melakukan antisipasi dengan mengadakan latihan simulasi seperti ini, dan saat ini kita bekerja sama dengan BNPB Pusat,” katanya saat membuka acara Simulasi penanggulangan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di masa Pandemi Covid-19 di Provinsi Kalimantan Barat, di Hotel Mercure Pontianak, Selasa (5/10/2021).
Melalui kegiatan Simulasi Penanggulangan Bencana, sambung Samuel, tentunya semakin menciptakan tenaga-tenaga terampil dan terlatih. Dimana pada saat kejadian bencana karhutla terjadi, maka para tenaga terlatih ini sudah tahu bagaimana cara mengendalikan dan mengatasinya.
“Keegiatan ini dapat menjadi wadah untuk membangun komunikasi dan koordinasi prabencana antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota beserta instansi vertikal yang ada di Provinsi Kalbar,” ujar Samuel.
Kegiatan simulasi penanggulangan bencana ini dirancang menggunakan skenario ancaman kebakaran hutan dan lahan, yang bertujuan untuk menguji rencana kontijensi kebakaran hutan dan lahan melalui pelaksanaan geladi ruang/table top exercise (TTX), merupakan suatu latihan dalam bentuk diskusi pada level pengambil keputusan dari tiap instansi yang berfungsi untuk membahas kasus atau permasalahan dalam operasi penanganan bencana berdasarkan skenario latihan guna meningkatkan pemahaman tentang SOP serta geladi pos komando/command post exercise (CPX) yang juga merupakan latihan yang bersifat interaktif seperti kejadian sesungguhnya tanpa pengerahan peralatan.
Selain menghadirkan nara sumber, para peserta diharapkan menyerap materi yang disampaikan para narasumber dengan optimal sebagai bekal penanggulangan bencana di lapangan. (*)
