triggernetmedia.com – Berdasarkan data pengamatan di 8 Stasiun BMKG Kalimantan Barat dinyatakan, maksimum telah 7 hari tidak hujan, yaitu di Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman Ketapang. Akumulasi jumlah titik panas terbanyak dalam seminggu terakhir juga terdapat di Kabupaten Ketapang.
“Diprakirakan disebagian wilayah Kabupaten Ketapang bagian selatan masih berpotensi mudah hingga sangat mudah terjadi kebakaran hutan dan lahan hingga 26 April 2021,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak, Nanang Buchori melalui kanal info cuaca Kalbar, Minggu (25/4/2021).
Nanag menjelaskan, diprakirakan semakin jauh dan semakin lemahnya Typhoon Surigae yang saat ini telah menjadi kategori Pusat Tekanan Rendah (998 hPa) di Samudra Pasifik berdampak tidak langsung pada pembentukan pola belokan angin ataupun pusaran angin tertutup ataupun Borneo Vorteks di sekitar wilayah Kalimantan Barat.
“Pembentukan pola angin tersebut memicu mudahnya terjadi pembentukan awan hujan. Hujan disebagian besar wilayah Kalimantan Barat diprakirakan akan terjadi pada 27 hingga 30 April 2021,” jelasnya.
Menurutnya, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi pada periode tersebut, yang bisa disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat disebagian wilayah Kalimantan Barat.
“Masyarakat diimbau untuk mewaspadai dampak yang dipicu oleh cuaca ekstrem tersebut, seperti hujan lebat yang bisa disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat, khususnya pada siang hingga sore hari,” ujar Nanang.
Nanang kembali mebgimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak angin kencang seperti tumbangnya pohon, tumbangnya papan baliho, kerusakan atap rumah, ataupun angin kencang bagi penerbangan.
“Waspadai dampak petir yang bisa merusak peralatan elektronik di rumah, dan sebagainya. Selain itu masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan pembakaran hutan dan lahan, khususnya pada daerah yang masih rendah curah hujannya,” tandasnya.
Sumber : BMKG



