<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>emisi karbon Archives - Trigger Netmedia</title>
	<atom:link href="https://triggernetmedia.com/tag/emisi-karbon/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://triggernetmedia.com/tag/emisi-karbon/</link>
	<description>Adverstising &#38; News Agency</description>
	<lastBuildDate>Fri, 31 Jul 2026 10:28:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.7</generator>

<image>
	<url>https://triggernetmedia.com/wp-content/uploads/cropped-triggernet-logo-1-32x32.png</url>
	<title>emisi karbon Archives - Trigger Netmedia</title>
	<link>https://triggernetmedia.com/tag/emisi-karbon/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Peta Risiko Karhutla Diperbarui, Kalbar Dipilih Jadi Pilot Project Nasional</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2026/07/31/peta-risiko-karhutla-diperbarui-kalbar-dipilih-jadi-pilot-project-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2026 10:28:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Kalbar]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[Sospolhukam]]></category>
		<category><![CDATA[BRIN]]></category>
		<category><![CDATA[desa rawan karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[Ekologi]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[kebakaran gambut]]></category>
		<category><![CDATA[Kebakaran Hutan dan Lahan]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian Kehutanan]]></category>
		<category><![CDATA[lahan gambut]]></category>
		<category><![CDATA[mitigasi bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Pencegahan Karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[peta risiko karhutla]]></category>
		<category><![CDATA[YKAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=135297</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut masih menjadi ancaman serius yang terus berulang di Indonesia. Berbeda dengan kebakaran di lahan mineral, api di lahan gambut mampu menjalar hingga ke lapisan bawah tanah sehingga lebih sulit dipadamkan dan menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar. Untuk memperkuat upaya pencegahan, Kementerian Kehutanan bersama Badan Riset [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/31/peta-risiko-karhutla-diperbarui-kalbar-dipilih-jadi-pilot-project-nasional/">Peta Risiko Karhutla Diperbarui, Kalbar Dipilih Jadi Pilot Project Nasional</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut masih menjadi ancaman serius yang terus berulang di Indonesia. Berbeda dengan kebakaran di lahan mineral, api di lahan gambut mampu menjalar hingga ke lapisan bawah tanah sehingga lebih sulit dipadamkan dan menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar.</p>
<p data-start="393" data-end="659">Untuk memperkuat upaya pencegahan, Kementerian Kehutanan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mengembangkan metode baru pemetaan risiko karhutla dengan menjadikan Kalimantan Barat sebagai wilayah percontohan.</p>
<p data-start="661" data-end="1061">Penasihat Senior Kerja Sama Internasional dalam Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan, Israr Albrar, menjelaskan bahwa penyempurnaan metode tersebut telah dimulai sejak 2025. Berbeda dengan pemetaan sebelumnya yang lebih banyak mengandalkan faktor biofisik seperti jenis lahan dan vegetasi, model terbaru juga memasukkan aktivitas manusia sebagai salah satu indikator penyebab kebakaran.</p>
<p data-start="1063" data-end="1233">“Metode penyusunan peta risiko karhutla sebenarnya sudah tersedia, namun kini kami menyempurnakannya agar dapat memberikan gambaran risiko yang lebih akurat,” ujar Israr.</p>
<p data-start="1235" data-end="1414">Menurutnya, peta risiko yang lebih komprehensif akan membantu pemerintah menggeser fokus dari penanganan kebakaran menjadi langkah pencegahan yang lebih efektif dan tepat sasaran.</p>
<p data-start="1416" data-end="1708">Peneliti Lahan Gambut dan Iklim YKAN, Dr. Nisa Novita, mengatakan kebakaran di ekosistem gambut memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan mineral. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga merambat ke lapisan gambut yang menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar.</p>
<p data-start="1710" data-end="1769">“Kebakaran lahan gambut lebih sulit dipadamkan,” kata Nisa.</p>
<p data-start="1771" data-end="1995">Ia menjelaskan, kebakaran gambut tidak hanya meningkatkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memicu kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, merusak ekosistem, dan membutuhkan waktu pemulihan yang jauh lebih lama.</p>
<p data-start="1997" data-end="2288">Dalam penyusunan peta risiko tersebut, BRIN mengembangkan model berbasis analisis spasial yang menggabungkan berbagai indikator lingkungan dan aktivitas manusia. Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari penyusunan kerangka pemodelan, penentuan indikator, hingga analisis data spasial.</p>
<p data-start="2290" data-end="2479">Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN, Asep Hidayat, mengatakan pendekatan tersebut diharapkan menjadi landasan ilmiah yang lebih kuat dalam mendukung pengambilan kebijakan pengendalian karhutla.</p>
<p data-start="2481" data-end="2621">“Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah yang kuat untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengendalian karhutla,” ujarnya.</p>
<p data-start="2623" data-end="2967">Kalimantan Barat dipilih sebagai lokasi percontohan karena menjadi salah satu provinsi dengan tingkat kebakaran hutan dan lahan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, hingga Juni 2026 luas area yang terbakar di provinsi tersebut mencapai sekitar 28.860 hektare atau sekitar 27 persen dari total luas kebakaran nasional.</p>
<p data-start="2969" data-end="3348">Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat mencatat terdapat 335 desa yang tergolong rawan karhutla di 14 kabupaten dan kota. Tiga daerah dengan luas kebakaran tertinggi sepanjang Januari hingga Juni 2026 adalah Ketapang, Mempawah, dan Kubu Raya yang secara bersama-sama menyumbang sekitar 77 persen dari total luas kebakaran di provinsi tersebut.</p>
<p data-start="3350" data-end="3615">Nisa menambahkan, hasil pemodelan saat ini telah memasuki tahap akhir. Selanjutnya, tim peneliti akan menyusun <em data-start="3461" data-end="3475">policy brief</em> sebagai rekomendasi bagi Kementerian Kehutanan untuk memperbarui pedoman penetapan wilayah rawan kebakaran, khususnya di kawasan bergambut.</p>
<p data-start="3617" data-end="3864" data-is-last-node="" data-is-only-node="">Model tersebut diharapkan tidak hanya diterapkan di Kalimantan Barat, tetapi juga dapat diadaptasi di berbagai daerah lain sesuai karakteristik bentang alam masing-masing, sehingga upaya pencegahan karhutla menjadi lebih efektif dan berbasis data.</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/31/peta-risiko-karhutla-diperbarui-kalbar-dipilih-jadi-pilot-project-nasional/">Peta Risiko Karhutla Diperbarui, Kalbar Dipilih Jadi Pilot Project Nasional</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Transformasi Industri Hijau Didorong Lewat Program NZIP</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2026/07/03/transformasi-industri-hijau-didorong-lewat-program-nzip/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 14:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Industri]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[# transisi energi]]></category>
		<category><![CDATA[3R (Reduce]]></category>
		<category><![CDATA[cleaner production]]></category>
		<category><![CDATA[Climateworks Centre]]></category>
		<category><![CDATA[dekarbonisasi industri]]></category>
		<category><![CDATA[efisiensi energi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi sirkular]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Energi Terbarukan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Weda Bay Industrial Park]]></category>
		<category><![CDATA[industri hijau]]></category>
		<category><![CDATA[IWIP]]></category>
		<category><![CDATA[kawasan industri rendah karbon]]></category>
		<category><![CDATA[kementerian perindustrian]]></category>
		<category><![CDATA[Net Zero Emission]]></category>
		<category><![CDATA[Net Zero Industrial Precincts]]></category>
		<category><![CDATA[NZE 2050]]></category>
		<category><![CDATA[NZIP]]></category>
		<category><![CDATA[PLTB]]></category>
		<category><![CDATA[PLTS]]></category>
		<category><![CDATA[Recycle)]]></category>
		<category><![CDATA[rehabilitasi mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[Reuse]]></category>
		<category><![CDATA[waste heat generation]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=134317</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memperkuat transformasi menuju kawasan industri rendah karbon melalui partisipasi dalam Program Net Zero Industrial Precincts (NZIP). Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung agenda dekarbonisasi nasional dan target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050. Program NZIP merupakan inisiatif Kementerian Perindustrian bersama Climateworks Centre yang bertujuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/03/transformasi-industri-hijau-didorong-lewat-program-nzip/">Transformasi Industri Hijau Didorong Lewat Program NZIP</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) memperkuat transformasi menuju kawasan industri rendah karbon melalui partisipasi dalam Program Net Zero Industrial Precincts (NZIP). Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung agenda dekarbonisasi nasional dan target Net Zero Emission (NZE) sektor industri pada 2050.</p>
<p class="isSelectedEnd">Program NZIP merupakan inisiatif Kementerian Perindustrian bersama Climateworks Centre yang bertujuan mendorong pengembangan kawasan industri rendah karbon di Indonesia.</p>
<p class="isSelectedEnd">Direktur Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, Winardi, mengatakan transformasi kawasan industri menjadi salah satu strategi penting untuk menekan emisi sektor industri. Menurut dia, kawasan industri kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga sebagai ekosistem yang mendorong efisiensi sumber daya, penggunaan energi rendah karbon, pembangunan infrastruktur bersama, dan pengelolaan lingkungan secara terpadu.</p>
<p class="isSelectedEnd">“Melalui pendekatan tersebut, pengelola kawasan, tenant, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dapat bersama-sama mengidentifikasi peluang pengurangan emisi melalui peningkatan efisiensi energi, pemanfaatan energi rendah karbon, pembangunan infrastruktur bersama, hingga penguatan permintaan terhadap produk industri rendah emisi,” ujar Winardi dalam keterangan tertulis yang dikutip, Jumat (3/7/2026).</p>
<p class="isSelectedEnd">Program NZIP dilaksanakan dalam dua tahap. Fase pertama pada 2024–2025 menghasilkan pemetaan kawasan industri potensial beserta kerangka analisis sebagai dasar pengembangan kawasan industri rendah karbon. Adapun fase kedua pada 2025–2028 difokuskan pada penyusunan jalur transisi dekarbonisasi, kajian sosial ekonomi, analisis pasar, dan pengembangan peluang investasi. IWIP menjadi salah satu kawasan industri yang berpartisipasi pada fase kedua program tersebut.</p>
<p class="isSelectedEnd">Deputy General Manager Sustainable Development IWIP, Deky Tetradiono, mengatakan keikutsertaan dalam NZIP membuka peluang bagi perusahaan untuk mengembangkan strategi pengurangan emisi secara lebih terintegrasi.</p>
<p class="isSelectedEnd">Menurut Deky, pendekatan tersebut memungkinkan pengembangan infrastruktur bersama, peningkatan efisiensi energi, serta kolaborasi yang lebih erat dengan tenant sehingga implementasi dekarbonisasi dapat berjalan lebih efektif.</p>
<p class="isSelectedEnd">Sebagai bagian dari transformasi tersebut, IWIP mengembangkan sejumlah inisiatif, antara lain pembangunan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) berkapasitas 2 x 2,5 megawatt, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 15 megawatt, pemanfaatan <em>waste heat generation</em> sekitar 90 megawatt, serta rehabilitasi kawasan mangrove untuk mendukung penyerapan karbon.</p>
<p>IWIP juga menerapkan konsep <em>cleaner production</em> melalui prinsip 3R (<em>reduce, reuse, recycle</em>), mengembangkan ekonomi sirkular, serta memperkuat kolaborasi dengan tenant untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan pengelolaan kawasan industri yang lebih berkelanjutan.</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/03/transformasi-industri-hijau-didorong-lewat-program-nzip/">Transformasi Industri Hijau Didorong Lewat Program NZIP</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Siapkan Biodiesel B50 untuk Redam Dampak Lonjakan Harga Minyak Global</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2026/03/30/pemerintah-siapkan-biodiesel-b50-untuk-redam-dampak-lonjakan-harga-minyak-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2026 07:53:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[# krisis energi global]]></category>
		<category><![CDATA[Airlangga Hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel B50 Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[energi berbasis sawit]]></category>
		<category><![CDATA[FAME biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[Harga minyak dunia]]></category>
		<category><![CDATA[impor BBM]]></category>
		<category><![CDATA[industri kelapa sawit]]></category>
		<category><![CDATA[kebijakan energi nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian ESDM]]></category>
		<category><![CDATA[ketahanan energi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[program B50 pemerintah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=132135</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Pemerintah Indonesia menyiapkan program biodiesel B50 sebagai langkah menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah tengah menyusun paket kebijakan ekonomi secara cepat sebagai respons atas dinamika global. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/03/30/pemerintah-siapkan-biodiesel-b50-untuk-redam-dampak-lonjakan-harga-minyak-global/">Pemerintah Siapkan Biodiesel B50 untuk Redam Dampak Lonjakan Harga Minyak Global</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Pemerintah Indonesia menyiapkan program biodiesel B50 sebagai langkah menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memicu kenaikan harga minyak global.</p>
<p data-start="364" data-end="699">Menteri Koordinator Bidang Perekonomian <span class="hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline"><span class="whitespace-normal">Airlangga Hartarto</span></span> mengatakan, pemerintah tengah menyusun paket kebijakan ekonomi secara cepat sebagai respons atas dinamika global. Kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden <span class="hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline"><span class="whitespace-normal">Prabowo Subianto</span></span> dalam rapat koordinasi pada Sabtu (28/3/2026).</p>
<p data-start="701" data-end="860">“Seluruhnya dikaji secara komprehensif, mulai dari penghematan energi hingga penguatan program B50, untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik,” ujar Airlangga.</p>
<p data-start="862" data-end="1061">Biodiesel B50 merupakan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit (fatty acid methyl ester/FAME) dan 50 persen solar. Program ini merupakan kelanjutan dari implementasi B30 dan B40.</p>
<p data-start="1063" data-end="1189">Pemerintah menargetkan program B50 dapat mengurangi ketergantungan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.</p>
<p data-start="1191" data-end="1368">Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah melakukan uji jalan B50 menggunakan kendaraan berat seperti truk dan bus dengan jarak tempuh lebih dari 20.000 kilometer.</p>
<p data-start="1370" data-end="1597">Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, <span class="hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline"><span class="whitespace-normal">Harris Yahya</span></span>, menyatakan hasil uji coba menunjukkan kinerja bahan bakar yang baik pada mesin diesel.</p>
<p data-start="1599" data-end="1712">Selain itu, penerapan B50 dinilai dapat meningkatkan penyerapan minyak sawit domestik serta menekan emisi karbon.</p>
<p data-start="1714" data-end="1873">Namun demikian, implementasi program ini masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain kesiapan infrastruktur serta penyesuaian teknis pada mesin kendaraan.</p>
<p data-start="1875" data-end="2023">Pemerintah juga perlu memastikan kapasitas produksi FAME nasional mencukupi untuk memenuhi kebutuhan yang diperkirakan mencapai 20,1 juta kiloliter.</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/03/30/pemerintah-siapkan-biodiesel-b50-untuk-redam-dampak-lonjakan-harga-minyak-global/">Pemerintah Siapkan Biodiesel B50 untuk Redam Dampak Lonjakan Harga Minyak Global</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>UNEP: Dunia di Ambang Krisis, Upaya Iklim Global Masih Belum Memadai</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2025/11/21/unep-dunia-di-ambang-krisis-upaya-iklim-global-masih-belum-memadai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 00:34:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[# aksi iklim]]></category>
		<category><![CDATA[# transisi energi]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat absen]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan bakar fosil]]></category>
		<category><![CDATA[COP30]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Energi Bersih]]></category>
		<category><![CDATA[Inger Andersen]]></category>
		<category><![CDATA[Komitmen iklim global]]></category>
		<category><![CDATA[krisis iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Peringatan PBB]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Paris]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<category><![CDATA[UNEP]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=128774</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Inger Andersen menyampaikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia yang menghadiri Konferensi Iklim PBB ke-30 (COP30). Dalam pernyataannya, Andersen menegaskan bahwa waktu dunia untuk menahan laju krisis iklim semakin menipis, sementara aksi global yang dilakukan saat ini masih jauh dari cukup. “Sejak Perjanjian Paris, ada peningkatan ambisi. Namun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/11/21/unep-dunia-di-ambang-krisis-upaya-iklim-global-masih-belum-memadai/">UNEP: Dunia di Ambang Krisis, Upaya Iklim Global Masih Belum Memadai</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Inger Andersen menyampaikan peringatan keras kepada para pemimpin dunia yang menghadiri Konferensi Iklim PBB ke-30 (COP30). Dalam pernyataannya, Andersen menegaskan bahwa waktu dunia untuk menahan laju krisis iklim semakin menipis, sementara aksi global yang dilakukan saat ini masih jauh dari cukup.</p>
<p data-start="569" data-end="811">“Sejak Perjanjian Paris, ada peningkatan ambisi. Namun, peningkatan itu belum sebanding dengan skala ancaman yang kita hadapi,” kata Andersen, menilai bahwa capaian negara-negara belum mampu menahan laju pemanasan global yang terus meningkat.</p>
<h2 data-start="813" data-end="854"><strong data-start="816" data-end="854">Fosil sebagai Sumber Masalah Utama</strong></h2>
<p data-start="855" data-end="1098">Andersen menyebut bahan bakar fosil sebagai faktor terbesar yang menghambat penanganan krisis iklim. Karena itu, menurut dia, semua proses perundingan iklim harus mengarah pada pengurangan dan penghentian penggunaan minyak, batu bara, dan gas.</p>
<p data-start="1100" data-end="1236">“Kita masih terperangkap dalam sistem ekonomi yang bergantung pada bahan bakar fosil. Transisi energi bersih harus dipercepat,” ujarnya.</p>
<h2 data-start="1238" data-end="1274"><strong data-start="1241" data-end="1274">Isyarat untuk Amerika Serikat</strong></h2>
<p data-start="1275" data-end="1589">Dalam kesempatan itu, Andersen juga menyinggung absennya Amerika Serikat sebagai salah satu pengemisi terbesar dunia, meski tanpa menyebutkan negara tersebut secara eksplisit. Ia menekankan bahwa keberhasilan proses perundingan tidak boleh bergantung pada satu pihak, melainkan komitmen seluruh negara anggota PBB.</p>
<p data-start="1591" data-end="1679">“Proses ini harus tetap berjalan, apa pun dinamika politik di negara mana pun,” katanya.</p>
<h2 data-start="1681" data-end="1721"><strong data-start="1684" data-end="1721">Ketergesaan yang Tak Bisa Ditunda</strong></h2>
<p data-start="1722" data-end="1997">Pernyataan Andersen dianggap sebagai pengingat bahwa dunia berada dalam masa krisis yang menuntut aksi lebih cepat dan lebih tegas. Ia menegaskan bahwa perdebatan panjang mengenai arah kebijakan iklim harus segera diakhiri, karena tantangan yang dihadapi sudah semakin berat.</p>
<p data-start="1999" data-end="2216">Dengan tekanan yang meningkat dan waktu yang semakin sempit, Andersen menekankan perlunya keberanian politik dari para pemimpin dunia. “Solusinya sudah ada. Yang diperlukan adalah kemauan untuk melakukannya,” ujarnya.</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/11/21/unep-dunia-di-ambang-krisis-upaya-iklim-global-masih-belum-memadai/">UNEP: Dunia di Ambang Krisis, Upaya Iklim Global Masih Belum Memadai</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Dunia Hampir Pasti Lampaui Batas 1,5°C, Ilmuwan Ingatkan Risiko Global yang Kian Dekat</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2025/11/21/dunia-hampir-pasti-lampaui-batas-15c-ilmuwan-ingatkan-risiko-global-yang-kian-dekat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 00:27:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[# transisi energi]]></category>
		<category><![CDATA[5 derajat Celcius]]></category>
		<category><![CDATA[Batas suhu 1]]></category>
		<category><![CDATA[carbon removal]]></category>
		<category><![CDATA[Climate Action Tracker]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[IPCC]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Rockström]]></category>
		<category><![CDATA[krisis iklim]]></category>
		<category><![CDATA[Net zero emissions]]></category>
		<category><![CDATA[Overshoot iklim]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>
		<category><![CDATA[Penangkapan karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Penyerapan karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Perjanjian Paris]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan iklim global]]></category>
		<category><![CDATA[Risiko iklim ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[Simon Stiell]]></category>
		<category><![CDATA[Tipping point iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=128771</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Dunia semakin mendekati fase pemanasan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai garis bahaya. Batas 1,5°C yang disepakati dalam Perjanjian Paris diperkirakan akan terlampaui dalam waktu dekat, seiring kenaikan suhu global yang kini telah mencapai sekitar 1,3°C. Sejumlah ilmuwan dan lembaga internasional menyatakan bahwa skenario overshoot melampaui batas 1,5°C hampir tak dapat dihindari. Konsekuensi dari Pemanasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/11/21/dunia-hampir-pasti-lampaui-batas-15c-ilmuwan-ingatkan-risiko-global-yang-kian-dekat/">Dunia Hampir Pasti Lampaui Batas 1,5°C, Ilmuwan Ingatkan Risiko Global yang Kian Dekat</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Dunia semakin mendekati fase pemanasan yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai garis bahaya. Batas 1,5°C yang disepakati dalam Perjanjian Paris diperkirakan akan terlampaui dalam waktu dekat, seiring kenaikan suhu global yang kini telah mencapai sekitar 1,3°C. Sejumlah ilmuwan dan lembaga internasional menyatakan bahwa skenario <em data-start="550" data-end="561">overshoot </em>melampaui batas 1,5°C hampir tak dapat dihindari.</p>
<h2 data-start="613" data-end="671"><strong data-start="616" data-end="671">Konsekuensi dari Pemanasan yang Tak Lagi Terkendali</strong></h2>
<p data-start="673" data-end="857">Direktur Institut Penelitian Iklim Potsdam, Johan Rockström, memperingatkan bahwa pencapaian suhu 1,5°C dapat mendorong perubahan yang tak dapat dipulihkan pada berbagai sistem Bumi.</p>
<p data-start="859" data-end="886">Potensi dampaknya meliputi:</p>
<ul data-start="888" data-end="1053">
<li data-start="888" data-end="929">
<p data-start="890" data-end="929">Hilangnya terumbu karang secara masif</p>
</li>
<li data-start="930" data-end="966">
<p data-start="932" data-end="966">Lonjakan gelombang panas ekstrem</p>
</li>
<li data-start="967" data-end="997">
<p data-start="969" data-end="997">Runtuhnya ekosistem Amazon</p>
</li>
<li data-start="998" data-end="1053">
<p data-start="1000" data-end="1053">Percepatan mencairnya es di Greenland dan Antartika</p>
</li>
</ul>
<p data-start="1055" data-end="1171">Rockström menyebut kondisi ini sebagai “zona risiko permanen” yang dapat mengubah wajah planet dalam jangka panjang.</p>
<h2 data-start="1173" data-end="1243"><strong data-start="1176" data-end="1243">PBB: Overshoot Mungkin Terjadi, Target 1,5°C Tetap Harus Dijaga</strong></h2>
<p data-start="1245" data-end="1412">Kepala Iklim PBB, Simon Stiell, menegaskan bahwa meskipun dunia kemungkinan akan melampaui batas 1,5°C, upaya mempertahankan target tersebut tetap menjadi keharusan.</p>
<p data-start="1414" data-end="1641">Konsep <em data-start="1421" data-end="1432">overshoot</em> mengandalkan penurunan emisi cepat dan kemampuan Bumi untuk menyerap kembali kelebihan karbon melalui hutan, laut, dan teknologi penangkapan karbon. Namun kapasitas teknologi tersebut masih jauh dari memadai.</p>
<p data-start="1643" data-end="1883">Ottmar Edenhofer, Ketua Dewan Penasihat Ilmiah Eropa, mengingatkan bahwa strategi ini hanya mungkin berhasil apabila penghilangan karbon dilakukan dalam skala sangat besar. “Tanpa itu, skenario kelebihan emisi tidak bisa dikelola,” ujarnya.</p>
<h2 data-start="1885" data-end="1928"><strong data-start="1888" data-end="1928">Kapan Titik Bahaya Terbesar Terjadi?</strong></h2>
<p data-start="1930" data-end="2208">Proyeksi terbaru dari Climate Action Tracker menunjukkan bahwa dunia akan melampaui batas 1,5°C sekitar tahun 2030. Suhu global diperkirakan memuncak pada 1,7°C sebelum turun perlahan menjelang 2060-an itu pun dengan catatan bahwa seluruh negara menurunkan emisi secara agresif.</p>
<p data-start="2210" data-end="2376">Era <em data-start="2214" data-end="2225">overshoot</em> ini diperkirakan berlangsung selama beberapa dekade dan membawa ketidakpastian besar mengenai perubahan iklim ekstrem yang dapat muncul sewaktu-waktu.</p>
<h2 data-start="2378" data-end="2405"><strong data-start="2381" data-end="2405">Waktu Kian Menyempit</strong></h2>
<p data-start="2407" data-end="2700">Menurut Rockström, dunia seharusnya masih bisa menghindari <em data-start="2466" data-end="2477">overshoot</em> apabila tindakan tegas dilakukan satu dekade lalu. Kini, ruang untuk manuver semakin sempit. Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa setiap upaya pengurangan emisi tetap berarti dan dapat memperlambat laju kerusakan.</p>
<p data-start="2702" data-end="2841">“Perubahan masa depan belum sepenuhnya terkunci,” demikian kesimpulan para peneliti. “Namun jendela waktunya kini tinggal terbuka sedikit.”</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/11/21/dunia-hampir-pasti-lampaui-batas-15c-ilmuwan-ingatkan-risiko-global-yang-kian-dekat/">Dunia Hampir Pasti Lampaui Batas 1,5°C, Ilmuwan Ingatkan Risiko Global yang Kian Dekat</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pakar Energi Jelaskan Kandungan Etanol dalam BBM, Tegaskan Tak Ganggu Mesin Kendaraan</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2025/10/07/pakar-energi-jelaskan-kandungan-etanol-dalam-bbm-tegaskan-tak-ganggu-mesin-kendaraan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2025 15:39:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[# bbm ramah lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Bioetanol]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Energi Terbarukan]]></category>
		<category><![CDATA[Etanol BBM]]></category>
		<category><![CDATA[ITB]]></category>
		<category><![CDATA[ITERA]]></category>
		<category><![CDATA[Pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[RON bensin]]></category>
		<category><![CDATA[SPBU swasta]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Yus Widjajanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=127688</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Kandungan etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) yang belakangan disorot publik ternyata tidak berpengaruh terhadap performa mesin kendaraan. Penegasan ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yus Widjajanto, menanggapi polemik SPBU swasta yang enggan membeli base fuel Pertamina karena mengandung etanol. “Kandungan etanol 3,5 persen tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/10/07/pakar-energi-jelaskan-kandungan-etanol-dalam-bbm-tegaskan-tak-ganggu-mesin-kendaraan/">Pakar Energi Jelaskan Kandungan Etanol dalam BBM, Tegaskan Tak Ganggu Mesin Kendaraan</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Kandungan <strong data-start="291" data-end="332">etanol dalam bahan bakar minyak (BBM)</strong> yang belakangan disorot publik ternyata tidak berpengaruh terhadap performa mesin kendaraan. Penegasan ini disampaikan oleh <strong data-start="457" data-end="541">Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB)</strong>, <strong data-start="543" data-end="565">Tri Yus Widjajanto</strong>, menanggapi polemik SPBU swasta yang enggan membeli <strong data-start="618" data-end="641">base fuel Pertamina</strong> karena mengandung etanol.</p>
<blockquote data-start="671" data-end="830">
<p data-start="673" data-end="830">“Kandungan etanol 3,5 persen tidak berpengaruh pada performa. Penurunan daya hanya sekitar satu persen dan itu tidak terasa,” ujar Tri, Selasa (7/10/2025).</p>
</blockquote>
<p data-start="832" data-end="1147">Tri menjelaskan, etanol memang memiliki kandungan energi lebih rendah dibanding bensin — sekitar <strong data-start="929" data-end="973">26,8–29,7 megajoule per kilogram (MJ/kg)</strong>, sementara bensin sekitar <strong data-start="1000" data-end="1012">40 MJ/kg</strong>. Namun dengan kadar kecil seperti 3,5 persen, <strong data-start="1059" data-end="1144">efeknya terhadap konsumsi bahan bakar dan tarikan kendaraan nyaris tak signifikan</strong>.</p>
<p data-start="1149" data-end="1308">Selain itu, etanol memiliki <strong data-start="1177" data-end="1209">Research Octane Number (RON)</strong> tinggi, yakni <strong data-start="1224" data-end="1235">110–120</strong>. Artinya, penambahan etanol justru dapat meningkatkan kualitas bensin.</p>
<blockquote data-start="1309" data-end="1442">
<p data-start="1311" data-end="1442">“Dengan tambahan 3,5 persen etanol, RON bisa naik sekitar 3,8 hingga 4,2 poin. Itu bagus untuk efisiensi pembakaran,” terang Tri.</p>
</blockquote>
<p data-start="1444" data-end="1638">Menurutnya, kandungan etanol di BBM Indonesia masih jauh di bawah standar negara lain. Di Amerika Serikat, kadar etanol mencapai <strong data-start="1573" data-end="1586">10 persen</strong>, sedangkan di Brasil bahkan hingga <strong data-start="1622" data-end="1635">85 persen</strong>.</p>
<blockquote data-start="1639" data-end="1800">
<p data-start="1641" data-end="1800">“Shell di Amerika juga menjual bensin dengan etanol 10 persen dan tidak ada masalah. Jadi, penolakan SPBU swasta di Indonesia terlalu berlebihan,” tambahnya.</p>
</blockquote>
<h3 data-start="1802" data-end="1836"><strong data-start="1806" data-end="1836">Etanol Bantu Kurangi Emisi</strong></h3>
<p data-start="1837" data-end="2019">Sementara itu, <strong data-start="1852" data-end="1921">Dosen Rekayasa Minyak dan Gas Institut Teknologi Sumatera (ITERA)</strong>, <strong data-start="1923" data-end="1953">Muhammad Rifqi Dwi Septian</strong>, mengatakan etanol berperan penting dalam menekan polusi udara.</p>
<blockquote data-start="2020" data-end="2186">
<p data-start="2022" data-end="2186">“Etanol mengandung oksigen tinggi, pembakaran jadi lebih sempurna dan emisi karbon monoksida berkurang. Artinya, bahan bakar lebih ramah lingkungan,” jelas Rifqi.</p>
</blockquote>
<p data-start="2188" data-end="2307">Ia juga menyebut etanol dapat meningkatkan <strong data-start="2231" data-end="2266">angka oktan BBM menjadi 108–113</strong>, sehingga mesin bekerja lebih efisien.</p>
<p data-start="2309" data-end="2551">Etanol sendiri merupakan <strong data-start="2334" data-end="2367">hasil fermentasi bahan nabati</strong> seperti tebu, jagung, atau singkong. Di Indonesia, penggunaannya menjadi bagian dari <strong data-start="2453" data-end="2493">program energi terbarukan pemerintah</strong> untuk menciptakan <strong data-start="2512" data-end="2548">BBM yang bersih dan rendah emisi</strong>.</p>
<blockquote data-start="2553" data-end="2724">
<p data-start="2555" data-end="2724">“Amerika Serikat dan Brasil sudah membuktikan bahwa etanol bisa menjadi komponen penting dalam campuran BBM. Indonesia sedang menuju ke arah yang sama,” pungkas Rifqi.</p>
</blockquote>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/10/07/pakar-energi-jelaskan-kandungan-etanol-dalam-bbm-tegaskan-tak-ganggu-mesin-kendaraan/">Pakar Energi Jelaskan Kandungan Etanol dalam BBM, Tegaskan Tak Ganggu Mesin Kendaraan</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2025/05/21/lahan-gambut-dan-mangrove-kalimantan-jalan-indonesia-menuju-masa-depan-bebas-emisi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2025 00:20:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Maritim]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[gambut]]></category>
		<category><![CDATA[Hanif Faisol Nurofiq]]></category>
		<category><![CDATA[kalimantan]]></category>
		<category><![CDATA[Mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Lingkungan Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan iklim]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=123776</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, kembali menegaskan pentingnya perlindungan ekosistem gambut dan mangrove, khususnya di kawasan Kalimantan, sebagai langkah strategis menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dan mengatasi perubahan iklim. Dalam kunjungannya ke Desa Peniraman, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Minggu (18/5), Hanif meninjau langsung kesiapan Desa Mandiri Peduli Gambut menghadapi musim kemarau yang rawan kebakaran. “Kawasan gambut Kalimantan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/05/21/lahan-gambut-dan-mangrove-kalimantan-jalan-indonesia-menuju-masa-depan-bebas-emisi/">Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong><a href="https://www.suara.com/tag/menteri-lingkungan-hidup">Menteri Lingkungan Hidup</a> sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), <a href="https://www.suara.com/tag/hanif-faisol-nurofiq">Hanif Faisol Nurofiq</a>, kembali menegaskan pentingnya perlindungan ekosistem <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">gambut</a> dan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a>, khususnya di kawasan <a href="https://www.suara.com/tag/kalimantan">Kalimantan</a>, sebagai langkah strategis menekan emisi gas rumah kaca (GRK) dan mengatasi <a href="https://www.suara.com/tag/perubahan-iklim">perubahan iklim</a>.</p>
<p>Dalam kunjungannya ke Desa Peniraman, Kabupaten Mempawah, <a href="https://www.suara.com/tag/kalimantan">Kalimantan</a> Barat pada Minggu (18/5), Hanif meninjau langsung kesiapan Desa Mandiri Peduli <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">Gambut</a> menghadapi musim kemarau yang rawan kebakaran.</p>
<p>“Kawasan <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">gambut</a> <a href="https://www.suara.com/tag/kalimantan">Kalimantan</a> Barat mencakup sekitar 2,4 juta hektare dan memainkan peranan besar dalam menyerap karbon dioksida. Jika rusak atau terbakar, dampaknya tidak dapat dipulihkan lagi,” tegas Hanif, Selasa (20/5/2025).</p>
<p><strong>Gambut: Menyimpan Karbon Dua Kali Lebih Banyak dari Hutan</strong></p>
<p>Lahan gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang tidak terurai sempurna selama ribuan tahun. Meski hanya mencakup sekitar 3% permukaan bumi, gambut menyimpan dua kali lipat karbon dibandingkan seluruh hutan di dunia. Itu sebabnya, gambut disebut sebagai “penjaga iklim alami” yang vital bagi keseimbangan ekosistem global.</p>
<p>Namun, aktivitas manusia seperti drainase, konversi lahan, dan kebakaran membuat ekosistem ini sangat rentan. Saat gambut mengering, ia melepaskan cadangan karbon yang tersimpan ke atmosfer dalam bentuk CO. Bahkan, penurunan muka air tanah 10 cm saja dapat menghasilkan emisi sekitar 9–13 ton CO per hektare per tahun.</p>
<p><strong>Dampak Nyata: Emisi Meningkat, Iklim Semakin Tak Stabil</strong></p>
<p>Rusaknya lahan gambut berarti semakin tingginya <a href="https://www.suara.com/tag/emisi-karbon">emisi karbon</a>. Proses dekomposisi yang cepat akibat oksidasi, serta kebakaran lahan gambut, turut menyumbang lonjakan emisi GRK secara signifikan. Indonesia, dengan luas lahan gambut tropis terbesar di dunia, menjadi sorotan dunia setiap kali musim kebakaran tiba.</p>
<p>Konsekuensi <a href="https://www.suara.com/tag/perubahan-iklim">perubahan iklim</a> pun nyata:</p>
<ul>
<li>Suhu global meningkat</li>
<li>Curah hujan menjadi tak menentu</li>
<li>Permukaan air laut naik</li>
<li>Ekosistem terganggu, produktivitas pertanian menurun</li>
</ul>
<p><strong>Langkah Konkret: Dari Rewetting hingga Sertifikasi Karbon</strong></p>
<p>Upaya restorasi lahan gambut menjadi mutlak. Hanif menyebut pentingnya kolaborasi multipihak—pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan akademisi—dalam menjaga kelestarian gambut dan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a>.</p>
<p>Beberapa solusi strategis:</p>
<ul>
<li>Rewetting atau pembasahan kembali lahan gambut untuk menjaga kelembapan dan mencegah dekomposisi.</li>
<li>Revegetasi, yaitu menanam kembali vegetasi asli untuk mengembalikan fungsi ekologis gambut.</li>
<li>Sertifikasi penyerapan karbon untuk memberikan insentif ekonomi bagi desa dan pelaku usaha yang menjaga kelestarian lingkungan.</li>
</ul>
<p>“Sekitar 800 desa di Indonesia berada di kawasan gambut. Desa-desa ini harus segera memperoleh sertifikat karbon yang memberi nilai ekonomi sekaligus mendukung komitmen Indonesia terhadap iklim,” ujar Hanif.</p>
<p><strong>Peran <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">Mangrove</a> Tak Kalah Penting</strong></p>
<p>Selain gambut, ekosistem mangrove juga menjadi fokus utama. Mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar dan melindungi pesisir dari abrasi. Namun, seperti gambut, keberadaannya juga terancam oleh alih fungsi lahan dan pembangunan pesisir yang tidak berkelanjutan.</p>
<p>Program seperti Desa Mandiri Peduli <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">Gambut</a> menjadi contoh bagaimana pendekatan berbasis masyarakat dapat menghasilkan dampak ganda: lingkungan terjaga dan ekonomi masyarakat ikut tumbuh.</p>
<p><strong>Menuju Indonesia Bebas Emisi</strong></p>
<p>Melalui langkah-langkah mitigasi dan restorasi, serta penguatan regulasi seperti PP No. 71/2014 dan Perpres No. 120/2021 tentang Badan Restorasi <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">Gambut</a> dan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">Mangrove</a>, Indonesia menunjukkan komitmen kuat menuju target <a href="https://www.suara.com/tag/emisi-karbon">emisi karbon</a> sesuai Nationally Determined Contribution (NDC).</p>
<p>“Menjaga kawasan <a href="https://www.suara.com/tag/gambut">gambut</a> dan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a> untuk masa depan yang lebih baik adalah komitmen kita demi keberlanjutan lingkungan dan generasi mendatang,” pungkas Hanif.</p>
<p>Dengan perlindungan serius terhadap lahan gambut dan <a href="https://www.suara.com/tag/mangrove">mangrove</a>, Indonesia bukan hanya menjaga paru-paru dunia, tapi juga memastikan masa depan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.</p>
<p><strong>Sumber: Suara.com</strong></p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/05/21/lahan-gambut-dan-mangrove-kalimantan-jalan-indonesia-menuju-masa-depan-bebas-emisi/">Lahan Gambut dan Mangrove Kalimantan, Jalan Indonesia Menuju Masa Depan Bebas Emisi</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Heboh Pernyataan Menteri LHK Soal Emisi Karbon Dan Deforestasi, Begini Reaksi DPR</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2021/11/04/heboh-pernyataan-menteri-lhk-soal-emisi-karbon-dan-deforestasi-begini-reaksi-dpr/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2021 05:05:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Parlementaria]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[Sospolhukam]]></category>
		<category><![CDATA[deforestasi]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[menteri lhk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=62352</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mendapat sorotan. Menanggapi itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memandang perlu ada kajian mendalam ihwal emisi karbon. Kendati begitu, di sisi lain Dasco memandang pernyataan Siti Nurbaya sudah baik. Diketahui, Siti mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon dan deforestasi. “Saya rasa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/11/04/heboh-pernyataan-menteri-lhk-soal-emisi-karbon-dan-deforestasi-begini-reaksi-dpr/">Heboh Pernyataan Menteri LHK Soal Emisi Karbon Dan Deforestasi, Begini Reaksi DPR</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Pernyataan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mendapat sorotan. Menanggapi itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memandang perlu ada kajian mendalam ihwal <a href="https://www.suara.com/tag/emisi-karbon">emisi karbon</a>.</p>
<p>Kendati begitu, di sisi lain Dasco memandang pernyataan Siti Nurbaya sudah baik. Diketahui, Siti mengatakan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon dan <a href="https://www.suara.com/tag/deforestasi">deforestasi</a>.</p>
<p>“Saya rasa yang disampaikan Bu Siti Nurbaya baik, tapi memang kita nanti perlu juga kajian yang mendalam soal masalah emisi karbon,” kata Dasco di Kompleks Parlemen DPR, Jakarta, Kamis (4/11/2021).</p>
<p>Dasco menilai, persoalan emisi karbon dan deforestasi memang patut untuk dikaji mendalam. Sebab, isu tersebut tidak hanya melingkupi nasional, melainkan internasional.</p>
<p>“Karena ini juga akan menyangkut bukan hanya Indonesia tapi juga di dunia luar,” ujar Dasco.</p>
<p>Sebelumnya, <a href="https://www.suara.com/tag/menteri-lhk">Menteri LHK</a> Siti Nurbaya Bakar menyatakan dukungannya terhadap pembangunan masif yang dilakukan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan menyebut hal itu tidak boleh berhenti atas nama emisi karbon ataupun deforestasi.</p>
<p>Hal ini ia sampaikan melalui akun Twitter-nya, serupa seperti yang ia sampaikan saat memenuhi undangan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universitas Glasgow, Skotlandia, Selasa (2/11/2021).</p>
<p>Menurut dia, menghentikan pembangunan atas nama zero deforestation sama dengan melawan mandat UUD 1945 untuk values and goals establishment, membangun sasaran nasional untuk kesejahteraan rakyat secara sosial dan ekonomi.</p>
<p>Siti menyatakan FoLU Net Carbon Sink 2030 tak bisa diartikan sebagai nol deforestasi (zero deforestation). Ia menegaskan hal tersebut perlu dipahami semua pihak demi kepentingan nasional.</p>
<p>Dengan agenda FoLU Net Carbon Sink, kata Siti, Indonesia berkomitmen mengendalikan emisi dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan sehingga memenuhi netralitas karbon sektor kehutanan.</p>
<p>“Kekayaan alam Indonesia termasuk hutan harus dikelola untuk pemanfaatannya menurut kaidah—kaidah berkelanjutan di samping tentu saja harus berkeadilan,” ujar dia lagi, yang disiarkan melalui Twitter.</p>
<p>Tidak hanya itu, ia juga mengajak semua pihak agar berhati-hati memahami <a href="https://www.suara.com/tag/deforestasi">deforestasi</a> dan tidak membandingkan dengan terminologi deforestasi negara lain.</p>
<p>”Kalau konsepnya tidak ada deforestasi, berarti tidak boleh ada jalan, lalu bagaimana dengan masyarakatnya, apakah mereka harus terisolasi? Sementara negara harus benar-benar hadir di tengah rakyatnya,” kata dia.</p>
<p>“Indonesia dengan target penurunan emisi 41 persen saja, artinya kita mengurangi emisi sekitar 1,1 giga ton. Sementara mengambil contoh Inggris, pengurangan emisinya 200-an juta, tapi bunyinya 50 persen. Jadi faktor angka absolut ini yang harus dipahami. Arahan Bapak Presiden kepada saya sangat jelas bahwa kita menjanjikan yang bisa kita kerjakan, tidak boleh hanya retorika, karena kita bertanggung jawab pada masyarakat kita sendiri sebagaimana dijamin dalam UUD 1945,” sambung dia.</p>
<p>Suara dari <a href="https://www.suara.com/tag/menteri-lhk">Menteri LHK</a> nampaknya tidak 100 persen mendapatkan sambutan hangat dari warganet di media sosial. Sejumlah pihak, menyebut, tidak sepantasnya menteri LHK membuat pernyataan tersebut hingga mereka menanggapinya dengan satir.</p>
<p>“Saudara-saudara, kami perkenalkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia,” tulis Greenpeace Indonesia.</p>
<p> </p>
<p>Sumber : <a href="https://www.suara.com/news/2021/11/04/115430/heboh-pernyataan-menteri-lhk-soal-emisi-karbon-dan-deforestasi-begini-reaksi-dpr?page=all"><em>Suara.com</em></a></p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/11/04/heboh-pernyataan-menteri-lhk-soal-emisi-karbon-dan-deforestasi-begini-reaksi-dpr/">Heboh Pernyataan Menteri LHK Soal Emisi Karbon Dan Deforestasi, Begini Reaksi DPR</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Indonesia Targetkan Pangkas Emisi Karbon 29 Persen secara Mandiri</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2021/10/12/indonesia-targetkan-pangkas-emisi-karbon-29-persen-secara-mandiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2021 18:24:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[Maritim]]></category>
		<category><![CDATA[Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[cop26]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[KLHK]]></category>
		<category><![CDATA[Laksmi Dhewanthi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=59844</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Laksmi Dhewanthi mengatakan Indonesia mencanangkan target pengurangan emisi karbon (dekarbonisasi) sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan hingga 41 persen jika ada dukungan internasional. Hal itu dikemukakan pada pertemuan virtual di Jakarta, Senin (11/10/2021), untuk membahas Agenda COP26 dalam mendorong net zero emission (NZE). Target tersebut sesuai agenda COP26 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/10/12/indonesia-targetkan-pangkas-emisi-karbon-29-persen-secara-mandiri/">Indonesia Targetkan Pangkas Emisi Karbon 29 Persen secara Mandiri</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan <a href="https://www.suara.com/tag/laksmi-dhewanthi">Laksmi Dhewanthi</a> mengatakan Indonesia mencanangkan target pengurangan <a href="https://www.suara.com/tag/emisi-karbon">emisi karbon</a> (dekarbonisasi) sebesar 29 persen dengan upaya sendiri, dan hingga 41 persen jika ada dukungan internasional.</p>
<p style="text-align: left;">Hal itu dikemukakan pada pertemuan virtual di Jakarta, Senin (11/10/2021), untuk membahas Agenda <a href="https://www.suara.com/tag/cop26">COP26</a> dalam mendorong net zero emission (NZE).</p>
<p>Target tersebut sesuai agenda COP26 yakni menyelesaikan Paris Rule Book. COP dibuat untuk mendorong komitmen seluruh negara menuju kondisi net-zero emission.</p>
<p>Kewajiban yang diwujudkan dalam Nationally Determined Contributions (NDCs) harus bisa dilacak dan dilaporkan agar bisa memenuhi unsur transparan.</p>
<p>Dia mengatakan sesuai dengan Paris Agreement yang telah diratifikasi Indonesia pada 2015, Indonesia berinisiatif menuju NZE.</p>
<p>Laksmi menambahkan perlu adanya transisi yang berkeadilan dalam mencapai komitmen tersebut. Negara berkembang dan negara maju memiliki kapasitas yang berbeda.</p>
<p>“Yang pasti kami tidak bisa melakukan ini sendiri. Kami perlu komitmen bersama dengan para jurnalis dan publik untuk bergerak bersama dalam mencapai net-zero emission ini,” kata Laksmi.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama, Vice-Chair, Working Group I IPCC Edvin Aldrian mengatakan perubahan iklim terjadi di segala lapisan bumi dan kondisi ekstrim itu terjadi secara bersamaan.</p>
<p>“Adaptasi yang kita lakukan saat ini bisa menentukan skenario kita beberapa tahun ke depan,” katanya.</p>
<div id="dailymotion-widget" class="dailymotion-widget">
<div class="dm-player dm-playback-ready">
<div class="dailymotion-cpe cpe-7832c"></div>
</div>
</div>
<p>Edvin menambahkan IPCC merupakan badan PBB yang menangani ilmu perubahan iklim. Produk utama adalah laporan kajian perubahan iklim dalam tiga kelompok kerja yakni basis sains, kerentanan dan adaptasi dampak, dan Mitigasi.</p>
<p>Perubahan iklim sudah mempengaruhi setiap wilayah di bumi, dalam berbagai cara Perubahan yang kita alami akan meningkat dengan pemanasan lebih lanjut.</p>
<p> </p>
<p>Sumber : <a href="https://www.suara.com/tekno/2021/10/11/231741/indonesia-targetkan-pangkas-emisi-karbon-29-persen-secara-mandiri"><em>Suara.com</em></a></p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/10/12/indonesia-targetkan-pangkas-emisi-karbon-29-persen-secara-mandiri/">Indonesia Targetkan Pangkas Emisi Karbon 29 Persen secara Mandiri</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Pemanasan Global Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem di Eropa?</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2021/02/13/bagaimana-pemanasan-global-menyebabkan-cuaca-dingin-ekstrem-di-eropa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[ariz]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2021 08:30:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Analisis]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Maritim]]></category>
		<category><![CDATA[Bumi Lebih Hangat]]></category>
		<category><![CDATA[emisi karbon]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Dingin Ekstrem]]></category>
		<category><![CDATA[pemanasan global]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=35035</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Banyak orang menyangkal adanya pemanasan global. Mereka mengklaim musim dingin ekstrem di Eropa menunjukkan emisi karbon tidak membuat bumi lebih hangat. Namun, para ahli membantah tegas klaim tersebut. Ketika suhu di Jerman anjlok hingga minus dua digit dan salju tebal menutup beberapa tempat di negara itu, orang-orang yang menyangkal perubahan iklim, menggunakan menggunakan media sosial untuk menyatakan bahwa pemanasan global [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/02/13/bagaimana-pemanasan-global-menyebabkan-cuaca-dingin-ekstrem-di-eropa/">Bagaimana Pemanasan Global Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem di Eropa?</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Banyak orang menyangkal adanya <a href="https://www.suara.com/tag/pemanasan-global">pemanasan global</a>. Mereka mengklaim <a href="https://www.suara.com/tag/musim-dingin-ekstrem">musim dingin ekstrem</a> di Eropa menunjukkan <a href="https://www.suara.com/tag/emisi-karbon">emisi karbon</a> tidak membuat <a href="https://www.suara.com/tag/bumi-lebih-hangat">bumi lebih hangat</a>. Namun, para ahli membantah tegas klaim tersebut.</p>
<p>Ketika suhu di Jerman anjlok hingga minus dua digit dan salju tebal menutup beberapa tempat di negara itu, orang-orang yang menyangkal perubahan iklim, menggunakan menggunakan media sosial untuk menyatakan bahwa pemanasan global adalah kebohongan.</p>
<p> </p>
<p>Klaim mereka – yang telah berulang kali dibantah oleh para pakar iklim – adalah bahwa cuaca yang sangat dingin menunjukkan emisi karbon dioksida tidak menyebabkan bumi lebih hangat.</p>
<p>Tetapi faktanya, efek pemanasan global bahkan mungkin telah mendukung terjadinya suhu yang sangat dingin ini.</p>
<p>Mengapa bisa sangat dingin? Suhu di bawah nol pekan lalu dan hujan salju lebat menunjukkan fenomena ini lebih dari sekadar musim dingin.</p>
<p>Mereka terjadi karena adanya polar vortex atau ‘pusaran kutub’ di Kutub Utara.</p>
<p>Polar vortex adalah fenomena aliran udara dingin bertekanan rendah menyerupai siklon yang terus berputar pada lapisan stratosfer yang biasanya ditemukan di Kutub Utara dan Kutub Selatan.</p>
<p>Aliran udara tersebut berhubungan erat dengan fenomena jet stream, sebuah gelombang angin kencang di ketinggian sekitar 10 kilometer di atas tanah.</p>
<p>Di bagian depan kutub, jet stream berada di antara udara hangat dari daerah tropis dan subtropis, dengan udara dingin dari kutub.</p>
<p> </p>
<p>Tekanan ekstrem yang terbentuk di daerah transisi di lapisan bawah ini kadang disebut dalam laporan cuaca sebagai Icelandic low atau Azores high.</p>
<p>Jet stream biasanya menentukan kondisi cuaca saat musim dingin di Eropa: jika gelombang jet stream kencang dan mengalir dari barat ke timur, ia membawa cuaca sejuk, berangin, dan hujan dari Atlantik, serta menahan udara dingin dari Kutub Utara.</p>
<p>Tetapi jika gelombang jet stream lemah dan bergelombang, polar vortex juga melemah, dan terkadang rusak total.</p>
<p>Hawa dingin di seluruh Eropa adalah akibat dari gelombang jet stream yang lemah yang menyebabkan rusaknya polar vortex.</p>
<p>Bagaimana perubahan iklim membuat cuaca menjadi lebih dingin?</p>
<p> </p>
<p>Melalui pembakaran bahan bakar fosil, manusia telah memanaskan planet hingga lebih dari 1 derajat Celcius sejak Revolusi Industri.</p>
<p>Sejarah mencatat dari tahun 2010 hingga 2019 menjadi dekade terpanas.</p>
<p>Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kenaikan suhu Bumi, tetapi juga fenomena cuaca ekstrem.</p>
<p>Di sinilah pemanasan yang tidak proporsional di Kutub Utara berperan, kata Stefan Rahmstorf, kepala departemen penelitian Analisis Sistem Bumi di Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK).</p>
<p>Suhu di Kutub Utara telah meningkat lebih dari dua kali lebih cepat dari rata-rata kenaikan suhu global selama 40 tahun terakhir.</p>
<p>“Perubahan ini memengaruhi cuaca di Eropa.”</p>
<p>Memanasnya kutub sangat kuat di musim dingin, kata Dörthe Handorf, yang meneliti fisika atmosfer di Institut Alfred Wegener dari Pusat Penelitian Kutub dan Laut Helmholtz (AWI).</p>
<p> </p>
<p>“Seperti yang ditunjukkan oleh banyak penelitian, ini melemahkan jet stream.”</p>
<p>Aliran angin mulai berubah, kata Handorf, yang dapat menyebabkan lebih banyak pelemahan yang memengaruhi suhu di Eropa.</p>
<p>Akankah perubahan iklim membuat musim dingin di Eropa lebih dingin?</p>
<p>Perubahan iklim tidak serta merta membuat musim dingin di Eropa menjadi lebih dingin karena hembusan udara dingin dari polar vortex terkadang lebih ringan daripada cuaca dingin saat ini.</p>
<p>Kutub Utara juga bukan satu-satunya bagian dunia di mana aliran udara berubah karena kenaikan suhu.</p>
<p>Pemanasan yang kuat di daerah subtropis juga memengaruhi jet stream, kata Handorf.</p>
<p>Sementara pemanasan di Kutub Utara cenderung mengarahkan jet stream ke selatan dan menyebabkan musim dingin di Eropa, pemanasan di daerah subtropis umumnya mengarahkan jet stream ke utara.</p>
<p> </p>
<p>Jika demikian, kata dia, cuaca musim dingin di Eropa akan lebih sejuk. Pemodelan iklim masih belum dapat mengetahui tren pemanasan mana yang akan mendominasi di masa depan, tambahnya.</p>
<p>Apa penyebab turunnya salju lebat?</p>
<p>Salju terbentuk saat udara hangat dan lembab bertemu udara yang sangat dingin. Di atas dataran Eropa Barat, udaranya jarang cukup dingin untuk menimbulkan hujan salju yang telah menyelimuti kawasan tersebut di musim dingin saat ini.</p>
<p>Namun, pada kondisi sekarang ini, area udara bertekanan tinggi yang disebut Gisela membawa angin dingin Kutub Utara ke tengah Jerman, bertabrakan dengan dua area udara bertekanan rendah bernama Tristan dan Reinhard.</p>
<p>Saat mereka membawa udara laut yang hangat, kelembapan berubah menjadi salju.</p>
<p>Karena udara yang lebih hangat memiliki tingkat kelembaban yang lebih tinggi, peningkatan suhu berarti massa udara akan mengangkut lebih banyak air.</p>
<p>Kelembapan ini kemudian dapat berubah menjadi salju di tempat yang cukup dingin – biasanya di tempat yang lebih tinggi.</p>
<p> </p>
<p>Hujan salju besar-besaran di Pegunungan Alpen pada musim dingin tahun 2019, misalnya, juga dipicu oleh massa udara yang sangat lembab dan hangat.</p>
<p>Saat itu, kata Peter Hoffmann, ahli meteorologi di PIK, lautan masih cukup hangat di musim dingin karena musim panas yang panjang dan terik – sehingga banyak air yang menguap.</p>
<p>Aliran udara kemudian membawanya ke Pegunungan Alpen, di mana sejumlah besar salju basah turun di dataran tinggi, menyebabkan jalan-jalan tertimbun salju dan meningkatkan risiko longsoran salju.</p>
<p> </p>
<p><strong>Apa perbedaan antara cuaca dan iklim?</strong></p>
<p>Perubahan cuaca lokal bisa berbeda dengan perubahan iklim global. Ini kerap menimbulkan kebingungan. Sementara suhu rata-rata telah menghangat ke tingkat yang memecahkan rekor – membuat gelombang panas di kawasan dan kebakaran hutan lebih hebat – perubahan iklim tidak membuat suhu di mana-mana meningkat.</p>
<p>Dalam 20 tahun terakhir, misalnya, musim dingin di banyak daerah dengan garis lintang sedang tidak lebih hangat daripada suhu rata-rata jangka panjang, kata Handorf.</p>
<p>Sistem cuaca yang kompleks seperti polar vortex misalnya, dapat mendinginkan bagian Eropa bahkan saat Kutub Utara menghangat.</p>
<p>Dan meskipun bulan Februari tahun ini mungkin sangat dingin, Januari – dibandingkan dengan suhu rata-rata jangka panjang – mungkin terlalu hangat.</p>
<p>“Meskipun kami tidak selalu melihat pemanasan secara regional atau lokal, kami tidak memiliki tanda-tanda melemahnya pemanasan global,” kata Handorf.</p>
<p>“Malah sebaliknya.”</p>
<p>Jet stream yang berubah juga memengaruhi suhu musim panas, tambahnya.</p>
<p>“Ada penelitian yang menunjukkan bahwa kita juga memiliki jet stream yang lebih berkelok-kelok di musim panas. Dan belokan ini, tonjolan ini, cenderung lebih tidak bergerak.”</p>
<p>Dengan kata lain, seperti dingin di musim dingin, panas bisa bertahan untuk waktu yang sangat lama di musim panas.</p>
<p>Jika udara panas Sahara kemudian mencapai Eropa melalui jet stream, seperti yang terjadi pada Juni 2019, misalnya, dapat menyebabkan gelombang panas yang panjang.</p>
<p>Selama berminggu-minggu dan berbulan-bulan yang terik seperti itu, tampaknya jelas bahwa krisis iklim sedang menimpa kita – tetapi hal yang sama juga berlaku ketika salju turun.</p>
<p> </p>
<p>Sumber : <a href="https://www.suara.com/news/2021/02/13/133845/bagaimana-pemanasan-global-menyebabkan-cuaca-dingin-ekstrem-di-eropa"><em>Suara.com</em></a></p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2021/02/13/bagaimana-pemanasan-global-menyebabkan-cuaca-dingin-ekstrem-di-eropa/">Bagaimana Pemanasan Global Menyebabkan Cuaca Dingin Ekstrem di Eropa?</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
