<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cagar budaya Pontianak Archives - Trigger Netmedia</title>
	<atom:link href="https://triggernetmedia.com/tag/cagar-budaya-pontianak/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://triggernetmedia.com/tag/cagar-budaya-pontianak/</link>
	<description>Adverstising &#38; News Agency</description>
	<lastBuildDate>Sun, 26 Jul 2026 06:50:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>

<image>
	<url>https://triggernetmedia.com/wp-content/uploads/cropped-triggernet-logo-1-32x32.png</url>
	<title>cagar budaya Pontianak Archives - Trigger Netmedia</title>
	<link>https://triggernetmedia.com/tag/cagar-budaya-pontianak/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perkuat Pelestarian Cagar Budaya Lewat Festival Tanah Seribu</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2026/07/26/perkuat-pelestarian-cagar-budaya-lewat-festival-tanah-seribu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2026 06:50:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Kalbar]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Sorotan]]></category>
		<category><![CDATA[# Istana Kadriah]]></category>
		<category><![CDATA[# Kampung Beting]]></category>
		<category><![CDATA[# Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie]]></category>
		<category><![CDATA[cagar budaya Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Duizend Vierkante Paal]]></category>
		<category><![CDATA[Edi Rusdi Kamtono]]></category>
		<category><![CDATA[Festival Budaya Khatulistiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Kesultanan Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman]]></category>
		<category><![CDATA[museum Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Tengah Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[pelestarian sejarah Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[SDN 14 Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Kota Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Kapuas]]></category>
		<category><![CDATA[Tanah Seribu Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Warisan budaya Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata budaya Pontianak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=135161</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak masyarakat mengenal sekaligus melestarikan sejarah berdirinya Kota Pontianak melalui kawasan Tanah Seribu atau Duizend Vierkante Paal. Menurutnya, kawasan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang membentuk identitas Kota Pontianak sejak masa Kesultanan Pontianak hingga era kolonial. Ajakan itu disampaikan Edi saat membuka Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/26/perkuat-pelestarian-cagar-budaya-lewat-festival-tanah-seribu/">Perkuat Pelestarian Cagar Budaya Lewat Festival Tanah Seribu</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak masyarakat mengenal sekaligus melestarikan sejarah berdirinya Kota Pontianak melalui kawasan Tanah Seribu atau <em>Duizend Vierkante Paal</em>. Menurutnya, kawasan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang membentuk identitas Kota Pontianak sejak masa Kesultanan Pontianak hingga era kolonial.</p>
<p class="isSelectedEnd">Ajakan itu disampaikan Edi saat membuka Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah Seribu di Taman Alun Kapuas, Minggu (26/7/2026).</p>
<blockquote>
<p class="isSelectedEnd">“Kota Pontianak didirikan pada tahun 1771. Tanah Seribu merupakan salah satu lembaran penting yang memaknai dinamika sejarah cikal bakal berdirinya Kota Pontianak,” ujarnya.</p>
</blockquote>
<p class="isSelectedEnd">Edi menjelaskan, kawasan Tanah Seribu memiliki peran besar dalam perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya Kota Pontianak. Kesepakatan antara Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dengan VOC pada masa lalu, kata dia, melahirkan dua karakter kawasan yang berbeda.</p>
<p class="isSelectedEnd">Di sekitar Istana Kadriah berkembang permukiman dengan arsitektur tradisional berbahan kayu dan rumah panggung. Sementara itu, kawasan di sebelah selatan istana berkembang sebagai pusat administrasi pemerintahan kolonial dengan bangunan bergaya Eropa.</p>
<p class="isSelectedEnd">Menurut Edi, jejak sejarah tersebut masih dapat disaksikan melalui berbagai bangunan cagar budaya yang tersebar di Kota Pontianak, seperti Kantor Pos, Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, SD Negeri 14, hingga Rumah Sakit Jiwa.</p>
<blockquote>
<p class="isSelectedEnd">“Bangunan-bangunan tersebut bukan bangunan biasa. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah perkembangan Kota Pontianak sehingga layak disebut sebagai museum hidup,” katanya.</p>
</blockquote>
<p class="isSelectedEnd">Sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah, Pemerintah Kota Pontianak berencana merevitalisasi SD Negeri 14 menjadi museum fungsional. Museum itu nantinya akan menjadi pusat penyimpanan dan pelestarian warisan budaya benda maupun takbenda sekaligus ruang edukasi sejarah bagi masyarakat.</p>
<p class="isSelectedEnd">Edi juga mengajak masyarakat, akademisi, komunitas, dan dunia usaha berpartisipasi dalam pelestarian sejarah dengan menyerahkan koleksi benda-benda bersejarah yang masih disimpan secara pribadi agar dapat menjadi koleksi museum.</p>
<blockquote>
<p class="isSelectedEnd">“Lebih baik disimpan di museum agar dapat disaksikan masyarakat dan menjadi cerita Pontianak tempo dulu,” ujarnya.</p>
</blockquote>
<p class="isSelectedEnd">Selain itu, Pemkot Pontianak akan terus mengembangkan kawasan bersejarah seperti Pasar Tengah, Kampung Beting, dan tepian Sungai Kapuas sebagai destinasi wisata budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang telah tumbuh sejak lama.</p>
<p class="isSelectedEnd">Menurut Edi, Festival Budaya Khatulistiwa menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha dalam melestarikan sejarah sekaligus mengembangkan pariwisata berbasis budaya.</p>
<p class="isSelectedEnd">Festival yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026 itu diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga cagar budaya serta memperkuat identitas Kota Pontianak.</p>
<blockquote><p>“Saya yakin kegiatan seperti ini dapat menjadi destinasi wisata berbasis budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan cagar budaya Kota Pontianak,” tutupnya.</p></blockquote>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2026/07/26/perkuat-pelestarian-cagar-budaya-lewat-festival-tanah-seribu/">Perkuat Pelestarian Cagar Budaya Lewat Festival Tanah Seribu</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tugu Jam Tiga Muka: Ikon Sejarah Pontianak Siap Bersinar Kembali</title>
		<link>https://triggernetmedia.com/2025/10/14/tugu-jam-tiga-muka-ikon-sejarah-pontianak-siap-bersinar-kembali/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[TriggerNetMedia]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2025 07:27:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kilas Kalbar]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[cagar budaya Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[kantor pos lama Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[pencahayaan ruang publik]]></category>
		<category><![CDATA[renovasi tugu bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan Hamid II]]></category>
		<category><![CDATA[taman kota Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[Tugu Jam Tiga Muka Pontianak]]></category>
		<category><![CDATA[wisata sejarah Pontianak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://triggernetmedia.com/?p=127904</guid>

					<description><![CDATA[<p>triggernetmedia.com – Di jantung Kota Pontianak, berdiri sebuah tugu bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan waktu: Tugu Jam Tiga Muka. Dibangun pada tahun 1937 di masa pemerintahan Sultan Hamid II, peninggalan era kolonial Belanda ini terletak di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Rahadi Usman. Kini, Pemerintah Kota Pontianak bersiap menghidupkan kembali pesonanya. Wali Kota Pontianak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/10/14/tugu-jam-tiga-muka-ikon-sejarah-pontianak-siap-bersinar-kembali/">Tugu Jam Tiga Muka: Ikon Sejarah Pontianak Siap Bersinar Kembali</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>triggernetmedia.com – </strong>Di jantung Kota Pontianak, berdiri sebuah tugu bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan waktu: Tugu Jam Tiga Muka. Dibangun pada tahun 1937 di masa pemerintahan Sultan Hamid II, peninggalan era kolonial Belanda ini terletak di persimpangan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Rahadi Usman. Kini, Pemerintah Kota Pontianak bersiap menghidupkan kembali pesonanya.</p>
<p>Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengungkapkan bahwa kawasan tugu akan segera ditata ulang setelah dilakukan pemangkasan pohon di sekitarnya. Penataan ini bertujuan mempercantik area agar tampil menarik baik di siang maupun malam hari.</p>
<p>“Siang hari akan dipenuhi warna dari bunga-bunga, dan malamnya akan bercahaya dengan lampu-lampu yang memperindah tugu. Jamnya pun akan kami aktifkan kembali sebagai simbol sejarah kota,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).</p>
<p>Rencana renovasi sebenarnya telah lama dirancang, namun sempat tertunda karena cuti jabatan. Selain Tugu Jam Tiga Muka, Pemkot juga tengah menata bangunan bersejarah lainnya, seperti kantor pos lama yang kini dikelola oleh pihak ketiga.</p>
<p>“Kami ingin kantor pos dikembalikan ke bentuk aslinya, karena itu bagian dari warisan arsitektur kota,” tambahnya.</p>
<p>Menurut Edi, struktur Tugu Jam Tiga Muka masih dalam kondisi baik, sehingga tidak diperlukan proyek besar. Fokus renovasi akan diarahkan pada pengecatan ulang, penataan taman, dan pencahayaan yang mendukung estetika kawasan.</p>
<p>“Bangunannya masih kokoh, hanya tertutup oleh tanaman. Dengan penataan sederhana, tugu ini bisa kembali menjadi kebanggaan kota,” tuturnya.</p>
<p>Renovasi ini bukan sekadar mempercantik ruang publik, tetapi juga menghidupkan kembali identitas sejarah Pontianak. Tugu Jam Tiga Muka akan menjadi titik temu antara masa lalu dan masa kini—ikon budaya yang tak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan oleh warga dan pengunjung.</p>
<p>The post <a href="https://triggernetmedia.com/2025/10/14/tugu-jam-tiga-muka-ikon-sejarah-pontianak-siap-bersinar-kembali/">Tugu Jam Tiga Muka: Ikon Sejarah Pontianak Siap Bersinar Kembali</a> appeared first on <a href="https://triggernetmedia.com">Trigger Netmedia</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
