triggernetmedia.com – Pengamat politik Rocky Gerung menilai rangkaian demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah, termasuk di Jakarta, bukanlah peristiwa spontan, melainkan akumulasi kemarahan rakyat yang sudah lama terpendam.
“Kondisi benturan yang berulang kali terjadi itu pasti ada momentumnya, ada pemicunya, sehingga akhirnya pecah jadi kerusuhan,” ujar Rocky melalui kanal YouTube-nya, Sabtu (30/8/2025).
Menurut Rocky, ledakan protes besar-besaran kali ini adalah hasil dari 10 tahun rakyat dibungkam. Selama satu dekade terakhir, masyarakat disebut tidak pernah merasakan kebebasan berpendapat karena dihantui rasa takut.
“Selama 10 tahun rakyat seolah-olah dihadang oleh UU, selalu ada ancaman penjara. Itu membuat orang kehilangan kenikmatan menjadi warga negara yang bebas menyuarakan pendapat,” ungkapnya.
Rocky menuding pemerintahan Presiden Joko Widodo (2014–2024) sebagai periode penuh ancaman terhadap kebebasan berekspresi. “Ledakan hari ini adalah akumulasi dari pemerintahan sebelumnya yang menghalangi ekspresi dengan ancaman-ancaman yang tidak masuk akal,” katanya.
Selain faktor kebebasan sipil, Rocky juga menyinggung frustrasi sosial akibat kesulitan ekonomi sebagai pemicu demonstrasi.
“Jalan raya itu menjadi tempat bertemunya gumpalan energi 10 tahun yang tertahan dengan kondisi real masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi,” jelasnya.
Meski mengakui demonstrasi kerap berpotensi menimbulkan kekerasan, Rocky menegaskan bahwa hak rakyat untuk berdemonstrasi harus dijamin keamanannya. Namun ia juga mengingatkan massa agar tidak bertindak brutal.
“Tidak boleh menghalangi rakyat berdemonstrasi. Tapi sebaliknya, aturan berdemonstrasi juga harus dihormati,” tegas Rocky.
Insiden Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob
Gelombang protes makin memanas setelah insiden tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan (21), dalam demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Affan tewas usai ditabrak dan terlindas mobil rantis Brimob. Menurut saksi mata, kendaraan sempat berhenti setelah menabraknya, namun beberapa detik kemudian kembali melaju hingga melindas tubuh Affan yang sudah tak berdaya.
Driver kelahiran 2004 itu sempat dilarikan ke RSCM, namun nyawanya tak tertolong. Peristiwa ini memicu gelombang solidaritas dari sesama pengemudi ojol di berbagai daerah.
Banyak pihak mengecam tindakan represif aparat yang dinilai mencederai rasa kemanusiaan. Insiden Affan pun kian memperkuat kemarahan massa yang sudah lama terpendam.




