triggernetmedia.com – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menetapkan Lion Air sebagai penyedia transportasi udara bagi calon jamaah haji tahun 2026.
Penetapan dilakukan melalui proses terbuka dengan mempertimbangkan penawaran terendah. Sekretaris Daerah Kalbar, Harisson, menyebut nilai kontrak mencapai sekitar Rp13,3 miliar.
“Penawaran terendah yang menjadi pemenang, tetapi tetap kami verifikasi dan negosiasi ulang,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Angka ini melonjak dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp10,6 miliar. Kenaikan tersebut menjadi perhatian karena berpotensi berdampak pada biaya yang ditanggung jamaah.
Harisson menegaskan transparansi menjadi kunci, mengingat seluruh komponen biaya akan diketahui publik.
“Kenaikan ini harus bisa dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat,” katanya.
Meski pemenang telah ditetapkan, Pemprov Kalbar tetap membuka ruang negosiasi untuk menekan harga agar tidak memberatkan jamaah.
Salah satu faktor utama kenaikan biaya adalah lonjakan harga avtur. Pemerintah menilai fluktuasi ini menjadi risiko yang harus diantisipasi dalam kontrak.
“Kalau avtur naik, itu risiko maskapai. Kalau turun, kita akan evaluasi kembali agar jamaah diuntungkan,” ujar Harisson.
Dari pihak maskapai, perwakilan Lion Group, Agung Pratama, menyebut harga yang diajukan sudah dihitung seefisien mungkin.
Menurutnya, kenaikan harga avtur bahkan mencapai sekitar 70 persen, sehingga berdampak signifikan terhadap biaya operasional penerbangan.
“Harga yang kami ajukan sudah paling minimal dan bersifat final sesuai penawaran,” ujarnya.
Di tengah lonjakan biaya, pemerintah daerah dituntut memastikan layanan haji tetap berjalan optimal tanpa membebani jamaah secara berlebihan.




