banner 468x60 banner 468x60 banner 468x60

Eksploitasi Akar Bajakah di Kalimantan dikhawatirkan Berdampak Negatif

Trigger Netmedia - 19 Agustus 2019
Eksploitasi Akar Bajakah di Kalimantan dikhawatirkan Berdampak Negatif
 - ()
triggernetmedia.com – Pulau Kalimantan kini mulai dilirik banyak orang. Banyak pihak dikabarkan sedang melakukan pencarian akan keberadaan tanaman akar Bajakah karena dianggap berkhasiat mengobati penyakit kanker.
Hal tersebut menjadi bisnis baru yang menggiurkan menyusul viralnya penemuan karya ilmiah Yazid Rafli Akbar (16) bersama dua kakak kelasnya di SMA Negeri 2 Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Bersama Anggina Rafitri (17) dan Aysa Aurealya Maharani (17) Yasid melakukan penelitian akan manfaat dan khasiat Bajakah yang dipercaya banyak orang dapat mengobati penyakit kanker pada ajang World Invention Creativity Olympic (WICO) di Seoul, Korea Selatan, selama 25-27 Juli 2019.
Atas karya ilmiah dan khasiat Bajakah, kini warga net dan masyarakat dunia, Indonesia khususnya mulai tertuju pada Bajakah. Diantaranya bahkan melakukan pencarian di Pulau Kalimantan.
Pencarian Bajakah di Kalimantan pun dikhawatirkan terjadinya eksploitasi. Selain itu dikhawatirkan pula menimbulkan dampak negatif kedepannya.
Disatu sisi, kekayaan intelektual atas karya ilmiah dan khasiat akar Bajakah itu belum di patenkan secara hukum. Apalagi sejauh ini Pemerintah dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia belum menetapkan standar mutu atas kelayakan konsumsi akar Bajakah.
Padahal, tidak semua akar Bajakah itu berkhasiat untuk kesehatan.
“Karena ada banyak jenisnya di hutan Kalimantan, bisa ratusan jenis akar Bajakah,” ungkap Ali Sahbana, salah seorang masyarakat Desa Tumbang Darap, Kecamatan Seruyan Hulu, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah yang berbatasan langsung dengan Wilayah Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, Senin ( 19/8).
Ali mengatakan, hampir semua hutan di pulau Kalimantan terdapat tumbuhan akar Bajakah. Hanya saja biasanya berbeda dalam penyebutan nama ditiap daerah.
“Kalau kami di Kalteng, kebanyakan menyebutnya akar Bajakah. Ada juga yang menyebutnya akar Kluit, akar kalawit dan lainnya,” sebutnya.
Menurut Ali, salah satu akar Bajakah yang memiliki racun adalah akar Bajakah Tubak. Dalam kearipan lokal, jenis akar Bajakah yang satu ini biasanys digunakan masyarakat untuk meracuni ikan di sungai dengan cara dipukul.
“Kalau masyarakat Kalteng yang biasa keluar masuk hutan, pasti paham dan kenal betul jenis akar Bajakah untuk racun ikan. Nah kita khawatirnya, masyarakat awam yang tidak paham membedakan, maka akan berdampak fatal bagi kesehatan dalam pemanfaatannya,” ungkap Ali.
Penjelasan Ali cukup mendasar. Terlebih, saat ini sudah marak jual beli akar Bajakah disejumlah daerah.
Bahkan melalui berbagai media sosial, kini akar Bajakah itu semakin bernilai ekonomis diperjualbelikan seharga ratusan ribu perkilogramnya.
“Saat ini pemerintah Kalteng, kabarnya akan segera membuat peraturan terkait peredaran akar Bajakah. Tujuannya, agar tidak terjadi ekspolitasi yang besar besaran yang dapat menghilangkan keberadaan akar Bajakah dihutan Kalimantan serta mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan akibat salah jual akar Bajakah yang mengandung racun,” beber Ali.
Pemerintah Kabupaten Melawi melalui Dinas terkait sejauh ini belum dapat berbuat banyak dalam menyikapi maraknya eksploitasi akar Bajakah di wilayah perbatasan Kalbar dan Kalteng.
“Terlebih saat ini secara tupoksi kewenangan pengawasan dan pengendalian hutan merupakan kewenangan Dinas Kehutanan Provinsi. Pemangku kebijakan dan BB POM Kalimantan Barat saya kira perlu turun tangan guna sosialisasi dan mengedukasi masyarakat agar pemanfaatan akar Bajakah tidak salah dalam pemanfaatannya,” ujar Wardhana, warga Melawi.
Dea | Ariz

Tinggalkan Komentar

SITE LOCATION REKLAME

Streaming triggernetmedia.com